disini kalian akan menemukan banyak dari sedikit karya gue yang selama ini selalu APES ini adalah karya-karya yang selama ini selalu di tolak penerbit dengan bermacam alasan dan tingkat nada rendah suara untuk mencoba simpatik dengan berbagai tipu daya untuk menolak semua karya gue. dan sekarang loe semua boleh baca......SEMOGA ....????

Selasa, 26 Mei 2009

Cerita Pendek

FEBRIANSYAH ISKANDAR

Mentari

Harapan

Aku Pelangi, Gasi alias Galaksi, Zizi, Luna, dan Pluto. Satu kelompok remaja kampong yang kurang beruntung. Selalu penuh mimpi yang sulit sekali menjadi kenyataan. Sawah dan perkebunan nan elok lebih menjadi pemandangan absolute terindah yang pernah terlihat dikedua buah biji mata coklatku dan serombongan sahabatku.

Hari pertama keluar dari rahim ibu dan menatap dunia. Kami semua sudah dihadapkan dalam gelimangan kesusahan, getir kehidupan, dan kemalangan terancam kebodohan.

Lulus SD, jarak berkilometer harus kami lewati agar dapat menginjakan kaki disebuah sekolah menengah pertama. Itupun harus ditambah dengan macam masalah lainnya. Uang yang selalu kekurangan untuk membayar guru-guru honor yang tersisih dari gaji pokok pemerintah. Sampai sulitnya mencari buku untuk menorehkan tinta bolpoin diatas kertas.

Untuk SMA sekarang. Kesulitan kami sedikti terobati. Sebuah SMA, dengan kapasitas 60 siswa, berdiri cemen dengan bangku dari bambu dan meja dari triplek. Dinding dari papan. Dan masih menggunakan papan hitam yang tergantung miring untuk menuliskan catatan dan menulis soal latihan. Tanpa ada gambar SBY dan JK dibawah burung garuda.

Januari 2006

Gasi berlari kencang menuju kerumpulan aku dan temanku yang lain. Wajahnya pucat pasi. Napasnya menderu. Sebuah Koran ibu kota lusuh digenggamnya dengan erat.

“Apa itu? Sejak kapan kamu jadi baca Koran? Bukankah dikampung kita tak ada yang menjual Koran? Dapat dari mana?” cerocos Zizi. Matanya menyipit, senyum picik penuh kecurigaan nampak jelas di wajahnya.

“Ahh…bukannya aku mencuri, ini aku temukan dari mobil losbak-nya Pak Kamto. Waktu aku numpang tadi pagi” seru Gasi, menolak tuduhan tanpa alasan dari Zizi.

“Kamu bawa berita apa, Gas? Lebanon dan Israel berdamai, atau emas monas ada yang mencuri?” tanyaku setengah bercanda. Aku menarik tangan Gasi untuk duduk disampingku.

Sebuah Koran terbitan dua minggu yang lalu kurebut dari tangan Gasi. Halaman terakhir membentuk kolom yang hampir memenuhi Koran terpampang dengan tulisan yang besar-besar.

Sangat mengundang daya tarikku. Sebuah impian kami semua sudah saatnya terwujud. Mimpi anak-anak kampong yang sederhana, sangat sederhana. Sekalian kami akan mengangkat nama SMA desa yang kumuh dimata orang-orang kota.

November 2005

Dengan menumpang mobil los bak-nya Pak Kamto. Aku, dan semua sahabatku menyambangi kota untuk pertama kalinya dalam hidup kami. Melewati jalan berliku dan mendaki, turunan yang curam dan tikungan yang tajam. Hingga melewati jalan berlubang hingga menjadi mulus dan rata.

Terperangahlah kami ketika melihat lintasan mobil lebar, dengan garis putih ditengahnya dan pembatas jalan dari besi dipinggirnya. Sepertinya kami pernah melihatnya di tivi hitam-putih Pak Sukro sang kepala sekolah.

“Waahh…jalan bebas hambatan….”Pekik Luna dan Pluto, hampir bersamaan. Kepala mereka melongok seolah mau lepas, menatap jalan bebas hambatan yang begitu lebarnya.

Atuh…lamun ti lembur mah eweuhan nu kos kieu, ieu jalan teh meni lebar pisan euy..*” ucap Pluto, dengan logat sundanya yang nyelekit abis. Kami semua sontak tertawa serempak mendengarnya.

Turun kami, di tempat asing. Sebuah jembatan layang yang panjang dan tinggi. Sebuah pasar yang menjual baju-baju bekas dan murah ( bagi orang-orang kota). Sebuah terminal yang semerawut. Dan sebuah bangunan tinggi dan penuh jajanan dan toko dengan tulisan ATRIUM PLAZA. Belakangan aku, mengetahuinya daerah itu bernama senen.

Pak Kamto, menurunkan aku dan sahabat-sahabatku didaerah bernama senen itu. Ia bilang ia akan menjemput kami lagi tepat jam 14.00 sore, nanti. Pak Kamto akan pergi untuk mengambil baju hangat yang menjadi barang dagangannya di daerah kami.

Dengan lagak sok tahu, kami menyeberangi jalan menuju gedung megah tadi dengan gaya meyakinkan.

Luna, yang memakai rok panjang motif bunga-bunga warisan ibunya. Ditambah dengan setelan baju kerah yang dulunya bekas kakaknya, tak lupa sandal jepit biru seragam, dengan merek mirip dengan nama agar-agar yang menjadi alas kaki kami.

Pluto, tingkah sok tahu dan tengilnya, mengantarkan ia berjalan duluan di depan kami semua. Celana pendek dan baju bola ia gunakan dengan pedenya. Oh…ya…sandal jepit biru tak ketinggalan juga ia gunakan sebagai alas kakinya.

Begitu pula dengan aku, Zizi, dan Gasi. Sandal jepit biru muda dan setelan khas orang urbanisasi.

“Eleh…ieu teh namana emol, khos nu aya di tipi..eta” pekik Pluto, kencang. Tak ada rasa malu yang hinggap kepadanya, matanya celingak-celinguk menatap penjuru kepenjuru mal. Dasar bocah geblek. Langsung kubekap saja mulutnya dari belakang.

“He…atuh lamun ngomong mah pelan-pelan wae atuh” bisikku pada Pluto, yang sedikit memberontak kehabisan napas. Zizi dan Gasi tertawa geli, melihat tingkahku dan Pluto yang sangat mirip anak kecil, saling bertengkar tak tahu tempat.

Luna, berjalan pelan menatap etalase sebuah toko yang menyajikan banyak pakaian anak-anak muda, yang funky dan gaul. Sorot matanya menyatakan kalau ia menginginkan semua itu.

“Lihat orang itu!” tunjuk Luna, pada seorang anak A-B-G yang menggunakan sebuah jeans yang sangat menarik perhatian Luna. “Celananya sama dengan itu” tunjuk Luna, pada sebuah celana jeans yang kulihat mereknya berlabel Lois. Terpampang di sebuah banner besar di dalam sebuah etalase toko pakaian.

”Ah…pastilah pabrikan dari barang para artis beken” pikirku.

Tapi Luna, terus menatap celana jeans itu dan mencoba membandingkannya terus dengan rok panjangnya yang sudah warisan turun menurun dan kucel.

“Jika kita kaya dan sukses dan hasil panen nanti melimpah, semuanya pasti bisa kita beli” aku, menepuk bahu Luna dan teman-temanku yang lain, menariknya dari depan etalase toko itu. Walau aku, sendiri tak tahan melihat Luna dan teman-temanku yang terus mencoba meraba-raba celana itu dari luar etalase.

“Suatu saat kita pasti akan memilikinya kawan…” lirihku dalam hati. Bahkan tak hanya itu, bersama semua, pasti kelak kita bisa membeli isi dunia ini, bersabarlah sahabatku.

Februari 2006

LOMBA SISWA TELADAN TINGKAT NASIONAL

2006

13-14 FEBRUARI 2006

HADIAH 1 : Rp. 4.000.000,-

HADIAH 2 : Rp. 2.000.000,-

HADIAH 3 : Rp.1.500.000,-

Jangan lewatkan….untuk umum.

Dengan sangat angkuh tulisan itu sepertinya sangat ingin menantangku. Akhirnya, ada juga jalan menuju celana jeans Lois itu.

“Kita akan ikuti ini, harus..” pekikku, membuat yang lainnya terperanjat.

“Kita teh arek ngadu kitu jeung barudak gedong?” Tanya Pluto, mewakili yang lainnya. Mungkin Pluto dan temanku yang lainnya menganggap ini semua mimpi, tapi tidak denganku.

Maneh nyaho teu? Hadiahna teh baraha?” tanyaku, mencoba memancing keinginan sahabatku. Dan bisa kutebak mereka semua menggeleng.

“Tapi, selobak naon ge’ ulah, teu bakalan meunang” potong Zizi, pesimis.

“Baju Lois, sama celana Lois, sekalian bantu promosi sekolah butut kita. Apa kalian udah enggak mau lagi? Kalaupun kita ingin menunggu panen lagi, belum tentu panen nanti akan berhasil” pancingku dengan mata berbinar-binar. Lalu disambut senyuman menuju kemenangan dari teman-temanku.

Tak ada keraguan lagi, dimata kami, hati kami dan tekad kami. Lebur menjadi satu, dalam satu tujuan. Tak ada lagi rasa enggan untuk bangun pagi menuju sekolah. Tak ada rasa sungkan lagi bagi kami semua untuk mandi dengan air pegunungan yang dapat membekukan seluruh darah dan syaraf kami.

Setiap pagi saat berangkat sekolah. Tak ada keraguan lagi. Terus berlari melewati petak-petak sawah yang sedang dalam proses penguningan. Beriringan dengan riang kami melompati setiap parit-parit genangan air yang mengairi sawah. Berjingkrak-jingkrak saling menertawakan, jika salah satu dari kami ada yang tergelincir masuk ke dalam petak sawah.

“Luna….awas!” pekik Zizi, spontan. Tapi, terlambat. Luna sudah tercebur, setengah kakinya yang kiri terjeblos pada genangan Lumpur sawah.

Gasi dan Pluto, tertawa paling keras. Mereka seperti sedang digelitiki oleh jin-jin penguasa sawah, terus tertawa tepingkal.

“Haaa…”Luna berteriak. Ia langsung mengambil rerumputan kering didekatnya. Ia gosokkan pada kaki dan sepatunya. Setelah itu dengan mantap, kembali ia berlari menuju sekolah.

Ah…inilah yang aku harapkan dari semuanya saat ini. Semangat.

Tak hanya disekolah. Setiap kesempatan kami selalu membuka buku, dimanapun kami berada. Entah sambil duduk di serambi rumah dengan bersandar pada bangku dari bambu buatan Abah atau di pinggir sawah sambil menikmati pemandangan nan aduhai terhampar luas dan tiupan angin sepoi menyegarkan. Tapi untuk Pluto ia lebih senang jika ia belajar dan membuka buku, sambil bergelayutan di atas pohon kecapi, yang rindang. Anggapannya berkah buah kecapi dapat membantunya dalam menghapal segala rumus pelajaran.

Dua hari lagi lomba dimulai. Kami mulai matang. Buku-buku yang kami pinjam dari Pak Kepala Desa dan juga Pak Sukro sang kepala sekolah. Begitu banyak membantu kami dalam mata pelajaran, belum ditambah lagi pelajaran alam yang setiap hari kami dapat dari petualangan dan percakapan dengan Abah di setiap sore. Kami yakin akan menang.

Dengan target akan menjadi juara pertama. Lalu menggondol uang Rp. 4.000.000,- lalu kembali ke Senen, dengan menumpang mobil Pak Kamto. Kami semua akan memborong semua atasan dan bawahan lois. Kembali lagi kekampung mejeng-mejeng alias pamer sama orang kampong. Duuuh…alangkah senangnya jika menang.

Kami duduk dimeja yang didepannya bertuliskan huruf C. Aku, disusul Luna, kemudian Gasi, Zizi, dan Pluto. Disebelah meja kami terdapat, SMA Flamboyan. Sebuah SMA dengan kualitas internasional, semua siswanya berkaca mata. Sepertinya mereka tertalalu banyak menatap buku. Dan disebelahnya lagi ada SMA Pasparah, tak jauh beda dengan Flamboyan keduanya berwawasan internasional. Di meja D, ada sebuah SMK kota yang bagitu muridnya tak jauh beda dengan kami, malah sebagian dari murid mereka adalah para berandalan yang setiap pulang sekolah selalu melakukan tawuran. Itu yang kutahu dari bisik-bisik di depan pintu masuk tadi.

Babak pertama dengan penuh percaya diri kami bisa melibas semua pertanyaan. Walaupun sama dengan kedua pesaing kami, yang juga dapat melibas semua pertanyaan.

Di babak penentuan. Kami mulai mengalami kesulitan. Keringat dingin bercucuran keluar dari pori-pori kami. Kami semua mulai tegang, dua pertanyaan dari sepuluh pertanyaan lewat begitu saja dari meja kami.

Apa yang disebut Keisomeran?” sebuah pertanyaan tentang kimia, yang sama sekali tak aku mengerti diutarakan oleh seorang juri. Aku, menyenggol Luna. Tapi Luna, malah menyenggol balik ke Gasi, lalu ke Zizi dan terus ke Pluto yang akhirnya menggelengkan kepala pasrah. Huu…kembali nilai hilang dari kami.

Lahir dimana Galileo?” lagi-lagi ia melontarkan pertanyaan yang tak kami tahu.

“Gasi..apa?” Tanyaku pada Gasi, yang malah dapat ia jawab dengan gelengan kepala, lewat.

Siapa ayah dari ibunya Bung Karno?

“Pas..” aku, langsung menyerah. Karena aku, sendiri tak tahu. Apalagi teman-temanku.

Sebutkan ciri motor 2 tak?

“Motor yang menggunakan oli samping, tidak mempunyai rantai keteng, keluar asepnya banyak” Gasi, langsung menyerobotnya sebelum diserobot orang lain. Dan ternyata betul, sangat beruntung. Walaupu aku pikir itu jawab sangat aneh.

Tapi hanya pertanyaan itulah yang bisa dijawab, oleh tim kami. Kami kalah. Kami tak mendapatkan apa-apa. Kami tak mendapatkan juara. Apalagi celana dan baju Lois impian kami.

Paginya kami kembali seperti biasa. Melakukan kegiatan seperti biasa tanpa tawa yang menyeringai kembali. Hanya Pluto sajalah yang masih terus mengoceh tak keruan.

“Woii..kalian, sini” panggil Pak Kamto. Melambaikan tangan pada kami yang sedang berpanas-panasan setelah pulang sekolah.

“Iya…pak?” sambut kami bersamaan.

“Kita ke Jakarta lagi besok, ada yang ikut? Ah…tidak semuanya harus ikut. Kutunggu kalian diujung jalan besar besok jam 2, harus” Pak Kamto lalu, meninggalkan kami yang masih terperangah tak mengerti.

Tapi apalah artinya, bingung. Tepat jam 2 siang kami sudah bertenggger dengan masih mengenakan baju sekolah, di ujung jalan besar. Untunglah tak lama kemudian Pak Kamto datang dengan mobil losbak-nya.

“Yoo….berangkat…” ucap Pak Kamto dengan semangat.

Kami tertawa riang kembali, selama perjalanan. Setelah berbulan yang lalu kami ke Jakarta, akhirnya sekarang kembali lagi ke Jakarta.

“Kok, kesini Pak?” tanyaku pada Pak Kamto. Tak seperti dulu, kenapa Pak Kamto masuk ke ATRIUM PLAZA, bukannya ke pasar senen.

“Ini kejutan buat kalian yang penuh semangat pendidikan, sekaligus untuk hadiah Gasi yang sudah mau membantu saya membenarkan motor” senyum Pak Kamto mengembang. Kami lalu berjalan mengintilnya berurutan.

LOIS……….” Kami semua berteriak serempak, ketika Pak Kamto masu ke toko lois. Kami semua berlompatan riang, kami berjingkrak-jingkrak kegirangan.

“Ini hadiah buat kalian yang selalu cinta pendidikan walaupun itu sangat menyulitkan kalian, dari SD sampai sekarang SMA, jalankan terus pendidikan kalian” lirih Pak Kamto mengucapkannya. Kami pun satu persatu, bergantian memeluk Pak Kamto. Ini hadiah terindah di dunia ini. Semua orang bertepuk tangan, melihat getir kami. Tak lupa kami bersujut syukur, celana lois yang kupegang basah terkena air mataku, apalagi Luna yang sangat menginginkan ini.

Bak pergawati diatas catwalk kami lalu berputar-putar mengelilingi petak sawah. Dengan senyum khas asli kampong kami. Sembari ditonton semua petani.

“Loncat ……..1….2…3…Jepret” Pak Kamto, memfoto kami. Yang sedang meloncat kegirangan. Impian sederhana kami terwujud.

Ternyata mimpi sederhana saja sulit. Bagaimana dengan mimpi yang selangit ?