disini kalian akan menemukan banyak dari sedikit karya gue yang selama ini selalu APES ini adalah karya-karya yang selama ini selalu di tolak penerbit dengan bermacam alasan dan tingkat nada rendah suara untuk mencoba simpatik dengan berbagai tipu daya untuk menolak semua karya gue. dan sekarang loe semua boleh baca......SEMOGA ....????

Selasa, 14 Agustus 2007

Luna mau tidur !

OLEH ::FEBRIANSYAH ISKANDAR



Minggu 11 Juni 2006/ 15:00 wib

“Emang gimana awalnya, loe ceritain deh dari awal” Dino penasaran dengan cerita Luna yang mulai hari ini harus tereliminasi dan dipensiunkan dari sekolahnya.

Tau gue juga, masak cuma gara-gara tidur doang” sungut Luna.

Lah….masak cuma gara-gara tidur doang ? yang jelas dong”

“Gini ceritanya………”Luna mulai bercerita.


Skul 9 Juni 2006/ 08:00 wib

Gasi tak terlihat seperti dulu, tak seperti waktu pertama kali menatapnya. Ini untuk fisiknya, rambutnya yang seakrang tertata rapi, giginya yang putih dengan gingsul, matanya yang selalu bercahaya, penuh harapan, dan hidungnya yang pesek, masih memperlihatkan wajahnya yang berkelas dan tampan. Darah dusun ibunya masih sangat terasa, sangat terlihat dari matanya yang dari dulu, masih terlihat sedikit besar.

Sahabatnya banyak yang kaget dengan perubahan dari style-nya Gasi yang sangat mencolok. Dia bukan lagi Gasi yang dulu, ini bukan Gasi yang dulunya dekil, dan urakan. Sekarang Gasi sudah berubah menjelma menjadi seorang cowok yang. Bukan lagi

Setiap berjalan ia coba melenggang berjalan dengan langkah yang berkelas, tak terlalu cepat dan tak juga terlalu pengantin, sorot matanya tajam menatap kedepan, siap membuat semua wanita takluk dengan matanya. Tapi senyum sumringahnya langsung terpancar ketika seorang sahabat lama, menyapanya. Dua tahun di Jepang membuat dia sangat fenomenal.

“Aku enggak nyangka, kamu sudah bisa dandan sekarang” Luna tersenyum, menyinggung penampilan Dino sekarang.

Aku juga bingung kenapa bisa ya….aku berubah kayak gini, ternyata bener kata kamu dulu, lingkungan akan merubah kamu, thanks Luna”Dino memeluk Luna, salah satu sahabatnya yang paling setia menunggu kembalinya dari jepang.

Seekor anak musang yang buas, dekil dan kotor, akhirnya melakukan kegiatan manusia, dalam hal membersihkan diri, ternyata bunga sakura juga bisa untuk merubah penampilan………”Suara yang tidak asing untuk Dino, sindirannya yang khas dan selalu berhasil menusuk dengan tajam.

Sapi….., masih make kata-kata sok sastrawan juga loe……pa kabar Gy…?”Dino menyambut teman satu bangkunya waktu di SMP.

Heee….he….fine….sih, tapi gue jadi ngerasa udah mulai ngerasa aura enggak enaknya nih, ketika seekor srigala datang dan mulai bisa mengendus pastilah banyak mangsa gue yang lepas gara-gara srigala ini”bahasa penuh makna, mengalir lepas dari bibir Xegy. Sebenernya sih maksud Xegy dia takut aja kalau cewek-cewek yang selama ini milik dia harus pergi karena ada seekor srigala dari jepang merebutnya.

“Makan aja sama loe sendiri….gue enggak level men sama orang indonesia….sueerr”Dino mendongakkan kepalanya keatas berlagak angkuh.

Anjiing…………..loe….”Xegy berlari mengejar Dino yang sudah ngibrit duluan, Luna sendiri ia Cuma bisa menatap kekonyolan dua sahabatnya dengan senyum simpulnya.

LUNA…………………..BANGUUUUNN……………BANGUUUNN……..

Ah….ngapain sih….ganggu orang lagi mimpi aja neh…..tanggung neh lagi mimpi enak……”Luna masih belum sadar dengan tingkahnya yang tidur dikelas, dan mengigau, yang membuatnya harus meninggalkan pelajaran pertama, pelajaran fisika.

HUUU….orang cuma tidur doank enggak boleh….”Luna mencibir gurunya, dan melangkah gontai keluar kelas.

“Kamu bilang APA……..????”teriak Bu siska…guru duper killer.

“Eehhh…ehh…..enggak bu………PIISSS”Luna langsung ngibrit keluar.

Dasar, anak gak tahu diuntung…..sudah disuruh belajar, malah tidur”gerutu Bu Siska kesal.

Dagang kali untung………….”Luna nongol dari jendela, meledek gurunya.


LUNAAAA………………………………..

***

Tawa….sekelompok cewek kelas XI memenuhi ruang kantin yang cukup luas. Cewek-cewek kelas XII yang merasa dirinya sudah yang paling hebat melirik sinis kearah bangkunya Luna dan teman-temannya duduk sambil mencibirkan bibirnya yang ingin sekali rasanya dibikin dower.

“Masih kelas XI aja dah belagu sok ngenantangin guru”Sindir Fara sedikit mengeraskan suaranya.

“Masak…. ?”Luna mengindahkan omongan gak berkelas Fara, yang mengaku dirinya Miss Universe sekolah, padahal ngomong inggris aja gak lancara.

Heiii….lagi lengkap nih……”Xegy langsung duduk dan ikut nimbrung dimeja Luna.

“Iyaa….jadi lebih karena loe duduk disini”Rika menatap ketus Xegy.

Oopss…okay gue nyingkir”Xegy berdiri dan celingak-celinguk melihat tempat yang kosong.

“Yeee….udah duduk aja disini”Luna membela Xegy.

“Oh ya…..loe kenapa kok bisa tidur dikelas tadi…?”tanya Xegy sambil masih melirik Rika yang menatapnya sinis.

“Apa…loe….mau gue gampar ?”Rika mengangkat tangannya.

“Sorry say….piiisss”

“Udah napa….”Luna menengahi.

Bel masuk berbunyi……

Nah….sudah bel tuh..masuk gih….”Luna memerintah teman-temanya.

“Loe sendiri ?” tanya Mika, mengerutkan keningnya.

“Gak ah……mau ke perpus aja, daa…duluan gue…., eh.jangan lupa kalau sudah pulang samperin gue di perpus ya…”Luna mengarahkan kedua kakinya kearah perpus yang terletak dua gedung dari kantin.

Sebenernya agak aneh memang meletakan ruang perpustakaan agak jauh dari kelas-kelas murid. Walaupun alasan sekolah cukup masuk akal, itu dilakukan agar suasana tidak terlalu bising.

Luna agak mempercepat langkahnya di koridor kelas XI C, karena Luna tahu disana ada bu siska yang sedang mengajar. So kita cari aman dulu, Luna agak sedikit membungkukkan badannya didepan kelas XI C, Luna membungkuk dan mempercepat langkahnya. Terus….terus….dan terus….lewat juga akhirnya. Luna mengelus dadanya tenang.

LUNAAA……………………” jerit Bu Siska, yang mengetahui tindakan Luna yang cabut dari pelajaran.

“GAAAKK…… MAUUUUUUUUUU………..” Luna langsung lari ngibrit entah kemana, dalam sekejap ia sudah tidak terlihat dikoridor sekolah menuju perpus.

“Kok lari……mau ngasiin buku tugas juga” Bu Siska cuma bisa menatap kosong kekoridor dan buku tugas Luna yang masih ia pegang.

Luna terus berlari menelusuri koridor sekolah dengan kecepatan penuh, melewati ruang kepala sekolah, ruang BP, lapangan basket, gedung olahraga dan akhirnya berakhir di kantin dan langsung memesan teh botol dingin.

“ini nikmatnya sekolah” ucap Luna masih terengah-engah.

Tapi sayang nikmat sekolah yang dia maksud datang lagi, kali ini bukan ibu Siska yang lebih mirip tante-tante kiler yang didepannya. Amiiiiin………….banget memang karena yang didepannya bukan tante itu, tapi………!!! O M G, ini lebih gawat” Luna langsung menaruh botol kenikmatan pelepas dahaganya. Mengangkat kaki kanannya…..dan……..KABUR……………….TIDAK…………………..AMPUN…….Pak DULLOH………..piiiiiiiissssss………………….

Luna langsung kembali berlari kocar-kacir, kembali berolahraga siang. Memutar lapangan basket, memutari kembali parkir siswa, bebelok ke parkir guru, melewati pepustakaan yang ingin ia kunjungi tadi dan sekarang tidak. Dan terus berlari tanpa melihat belakang, trus berlari dengan menutup mata, terus berlari menghindar kematian (Walau itu sebenarnya enggak mungkin) dan terus berlari…..terus…..terus……….terus…..semakin jauh…jauh……lurus kedepan…………

BRAAK……….aaahh………….

Gila loe ye……..pake mata dong” satu makian yang langsung membuat Luna tersontak. Walaupun matanya tetap terus menatap lantai koridor, mengatur napasnya yang sudah kocar ancur, mengumpulkan kembali tenaganya yang telah hilang bersama derap kakinya yang melaju kencang, dan mengatur kata-katanya untuk dimuntahkan dan memaki kembali bajingan tengik yang telah menghalangi jalannya. Hingga akhirnya Luna harus tertangkap oleh Pak Dulloh guru matematika dengan kumis tebal ala Pak Raden dan tangan kekar ala Ade Rai, dengan mudah menarik kerah baju Luna hingga ia terangkat dari duduknya.

“Mampus…belek aja sekalian Pak….” Cowok ngehe’ itu malah memanas-manasi suasana.

“Leher kamu yang saya belek” Pak Dulloh bukannya mendengar omongan Cowok brengsek itu, eh….malah memaki balik.

“Mang….enak…..” Luna tersenyum sinis.

Bodo…” cowok sialan itu, langsung berbalik dan melangkah pergi.

“Awa.loe………gue matiin…entar……” maki Luna sadis.

Kamu yang akan mati duluan” Luna langsung diseret Pak Dulloh keruang BP, dimana itu tempat ia dan komplotannya berkumpul. Komplotan yang semuanya orang berkumis dan berbadan kekar, hee….hee….maklum rata-rata dari mereka kerajingan fitnes.

Yah……….ini lagi, enggak ada yang punya penyakit yang laen apa sekolah kita ini” ledek Pak Sukro, penjahat kelamin yang sukanya dengan daun muda menyindir Luna.

hhhmm……belum tahu aja loe siapa gue….loe berlima yang badanya segede gentong gajah ini juga gue lawan fuck….bacot loe semua bau kalau ngatain gue” geram Luna, yang enggak terima dianggap enteng.

Dua jam sudah Luna didalam ruang ngehe’ yang enggak ada sejuk-sejuknya. Kacrutnya didalam dia Cuma disuruh duduk doank tanpa suguhan minum dan makanan yang cukup buat menambal perutnya yang kehabisan tenaga, habis joging melelahkan tadi. Hehee…..hee…joging katanya dasar geblek.

Dalam hitungan tiga, dengan modal nekat dan sok berani, Luna berdiri dari duduknya, mengendap-endap…….dan KABUUUURRR……….

CIIIITTT……”Luna berhenti dari larinya.

“Loh…..kok enggak ada yang ngejar”Luna jadi bingung dan mengendus-endus lantai. “Enggak ada bau bajingan tengik itu”

Luna lalu berjalan kembali keruang pengap tai itu, mengintip, celingak-celinguk.

Anjriiitt…..sialan banget, pada tidur….kalau tau dari tadi dah…gue cabutnya” Luna berjalan santai, tapi sampai dikelasnya……..

Ngehe’…….dah pada balik…..?” Luna mengerutu sendiri.

Langkah gontainya menelusuri koridor sekolah yang sudah sepi…sepi sekali, cuma Pak Saha dan Ibu Eta, sepasang suami istri penjaga sekolah yang ia temui. Di parkir guru, Luna melihat gerombolan guru yang enggak manusiawi.

“Pulang sendirian ?” sebuah kalimat yang dalam dan langsung menusuk hati.

“Sialan…..” sungut Luna, langsung mempercepat langkahnya.

Dihalte

Kejadian hari ini sangat melelahkan buat Luna, sebuah kesialan dibalik hobinya yang sering membangkang dan berlari. Semenjak ia menemukan hobinya tidur dikelas dan melawan guru betisnya kini tjadi terasa dua,tiga,empat sampai sepuluh kali lipat lebih gede.

Sampai di Halte, Luna langsung menghempaskan tubuhnya di bangku halte yang keras terbuat dari besi yang mulai berkarat.

Fhuu….letih, capek, lelah….enggak ada yang jual air lagi” keluh Luna memijit-mijit betis kakinya yang sudah membesar.

“Haus….?” Seseoran menyodorkan sebotol air mineral yang sangat diharapkan Luna.

“Makasih….” Jawab Luna tanpa menoleh sedikitpun ke yang empunya.

Makanya…jadi cewek yang lembut dikit…jangan suka berbuat yang nyeleneh”

Loe belum….balik Xeg….”Luna mengalihkan pembicaraan. Ternyata tanpa perlu melihat siapa orangnya dari suaranya aja Luna sudah tahu kalu itu Xegy.

“Dibilangin malah ngalihin pembicaraan, udahlah…gue duluan”Xegy langsung menyetop bus.

“Eh….gila….tunggu”Luna langsung mengejar bus-nya.

Bus yang penuh sesak, dan bau yang menyengat. Wuiiihh…apalagi kalau bukan dari ketek-ketek para penumpang yang pada enggak pake deodorant…(Haaahhhhaaa…mungkin). Tapi rasa sesak dan bau ketek itu enggak akan pernah bisa menghentikan kegilaan Luna dan Xegy akan angkutan yang ini, coz penuh tantangan dan bisa melatih pernapasan karena kita akan menahan napas dari awal naek sampe turun yang penting murah cuy. BUSWAY…??? NO Way…..gak da tantangannya plus mahal, kan kantong anak sekolah terbatas tapi enggak buat mereka yang tinggal di perumahan elite sama apartemen.

“Gila…loe…bisa naek juga” sindir Xegy kena.

Loe kira Luna Prisma, baru kali ini naik bus” Luna langsung loncat keluar.

LUNAAA………”teriak Xegy, walau akhirnya Luna enggak apa-apa.

Luna langsung, berlari lagi menuju rumahnya, kayaknya sih lari sudah jadi kegiatan favoritnya setelah kejadian di skeolahnya tadi.

Balik lagi ke Xegy, mahluk satu ini enggak langsung balik kerumahnya, tapi dia malah mampir dulu kerumah temennya, cowok….(Haa….cowok ?). tapi entar dulu jangan mentang-mentang dia mau kerumah cowok bukan berarti dia homo……..xegy mau kerumah temen lamanya.

Misiiiiiiiii………”teriak Xegy, setelah sampai dan berada tepat didepan pagar, rumah temennya.

Yaa..ya…bentar”suara sautan dari dalam rumah, terdengar jelas dan cukup cempreng.

“Dino mana Bi ?”

“Ada dikamar langsung masuk aja”

Ya ialah…emang siapa yang mau diem disini, panas tahu” Xegy malah ngeledek Bi Sarah dan langsung ngibrit masuk, takut Bi Sarah nyerang balik ( Dalam kasus ini, kenapa disetiap sebuah tulisan sinetron, novel dan film selalu saja nama pembantu suatu keluarga itu jelek dan agak kampungan, so’ kita rubah neehh, coz enggak semua pembantu namanya jelek).

Huu…dasar anak muda jaman sekarang endak tahu sopan santun, wes geblek kabeh” gerutu Bi Sarah sendirian.

“Makanya saya sekolah biar enggak geblek……”Xegy yang mendengar gerutuan Bi Sarah langsung menyahut.

Dino ? dalam mimpi Luna kita pernah membahasnya. Yup …Dino adalah sahabat dekat dari Xegy dan Luna dari SMP, Dino memang benar-benar berubah dalam hal penampilannya sekarang, bodo amat style kayaknya sudah dia buang jauh-jauh. Penampilannya sekarang jepang banget, paduan baju dengan warna-warna terang dan matanya yang sedikit sipit hampir membuatnya sangat mirip dengan orang jepang, itupun akan berhasil kalau saja kulitnya sedikit lebih putih, tidak kuning langsat seperti sekarang.

Luna mana ?”tanya Dino setelah Xegy berada didalam kamarnya.

Tahu dia tadi langsung balik, padahal udah gue panggil udah gue tungguin, eh malah tadi langsung loncat aja dari bus”jelas Xegy rinci banget.

Wuiihh…tambah gila aja tuh anak, masi tukang tidur gak tuh bocah ?” Dino, sepertinya kangen dengan kebodohon dan kegilaan Luna.

Halah…gak usah komentarin dia, sekarang yang penting mana oleh-oleh gue ?”Xegy langsung menuju sebuah bungkusan besar yang ada didekat lemari Dino. Tangan geratakan Xegy langsung membongkar isi bungkusan itu, tapi tak ada apa-apa yang ia temukan Cuma puluhan pakaian kotor, mungkin bekas Dino waktu dijepang, hueekks…baunya, Xegy langsung memasukkan lagi baju super bau itu.

Makanya tangan tuh jangan geratakan” Dino ketawa sendiri melihat Xegy menahan bau dari baju yang sudah ia pendam selama berminggu-minggu.

“Tai…lu”

***

Skul 10 Juni 2006/ 08:30


Mendung menyelimut, langit mulai hitam pekat tapi hujan tetap saja belum kunjung datang. Melati di taman sekolah sudah tetunduk layu menanti hujan. Luna….., dimana Luna sekarang ? bingung, semua orang dikelasnya sibuk mencari satu buah sontoloyo yang hilang ini, tasnya sih ada…..tapi entah orangnya kemana, dari awal pelajaran tadi sampe sekarang sudah istirahat kedua penjahat kelas kakap itu belum juga ditemukan batang hidungnya.

Karena ini sebuah rahasia, tak ada satupun dari siswa kelas Luna yang melapor ke guru. Karena hampir semua teman Luna tahu, kalau kasus ini dilaporkan habislah riwayat Luna, semua kisah dan kasih kejahatan dan kebadungannya akan berakhir.

Wooii…emang enggak ada yang ngeliat Luna kemana apa ?”Xegy yang bukan penghuni kelas Luna, langsung masuk dan uring-uringan dikelas orang.

HUuuuu………….” Hampir seisi kelas menyoraki Xegy.

Pada kampret lu ye…..gue tanya baek-baek” Xegy langsung ngibrit pergi setelah ia memaki sesaat penghuni kelas, karena ia tahu beberapa detik ia terlambat kabur, bisa hancur mukanya. Dikejahuan Xegy sedikit mendengar maki-makian para setan remaja kelasnya Luna.

“Amin….Amin, untuk gue keburu pergi” Xegy bersyukur dengan tindakan cepatnya.

Tapi kemana Luna sekarang ? gila juga, manusia yang enggak bisa diem kayak dia bisa ngilang, letak gilanya sampe satu sekolah enggak ada yang tahu, biasanya sih tanya sama satu orang anak juga pasti ada yang melihat jejaknya. Tapi, sekarang kemana bocah tengik itu.

“Kalau aja sekolah ini ada anjing pelacak, pasti sudah ditemukan monyet sialan itu” sungut Xegy kesal.

Bel pertanda kalau sekolah telah selesai, telah berbunyi, tapi Luna masih saja belum ada yang menemukannya. Sebagian dari temannya yang sudah putus asa, memutuskan untuk pulang, karena mereka capek dengan tingkah Luna yang gak jelas kayak gini. Tapi sebagian lagi masih ada yang tetap mencari disemua tempat yan paling mungkin untuk dilakukan untuk tidur. Kenapa tempat untuk tidur ? coz, ini dari pengalaman, Luna biasanya kalau ngilang kayak gini pasti dia pergi buat cari tempat untuk tidur, apa lagi kalau bukan untuk itu.

Karena ini sudah sangat gawat, akhirnya Bingo, sang ketua kelas Luna, melaporkan semua ini ke guru dan wali kelas. Pencarian pun semakin gencar, hampir semua penghuni sekolah dan instansi terkait ( apa seehh…GJ ) ikut membantu, enggak ketinggalan Pak Saha dan Bu Eta turut membantu mencari. Kayaknya memang sudah benar-benar gawat.

Suhu udara semakin panas, sudah beberapa botol air mineral telah diminum oleh Cika teman sebangku Luna, yang masih tetap betah mencari jejak Luna. Rasa penasaran dan kesal yang sudah sampai diatas normal, yang membuat Cika tetap melakukan penelusuran jejak hantu cilik itu.

Loe ngapain sih, lagi dapet ya ?” selidik Xegy, sambil menyipitkan sedikit matanya, ia melihat dari tadi Cika merapatkan kakinya dan terus memegangi pinggangnya.

“Kurang ajar loe, belum awal bulan tahu, gue kan dapetnya tiap awal bulan” Cika menyangkal tuduhan Xegy.

Oohhh….jadi tiap awal bulan toh dapetnya, terus itu ngapain ?”

“Aku mau pipis……..nih” ucap Cika sok dibikin manja.

“Dasar idiot, ya ketoilet sana, ngapain loe tahan-tahan kena kanker rahim tar loh” ucap Xegy, menakut-nakuti Cika.

Waaaahhh….gitu ya, yo wes gue ketoilet dulu ya…..”Cika langsung berlari kecil menuju toilet sekolah, enggak kebanyakan toilet sekolah lain, yang bau dan kotor. Justru ditoilet sekolah ini semua terlihat bersih dan nyaman, wangi lavender selalu tercium dari gantungan pewangi ruangan toilet ini, dan ini juga berlaku untuk toilet cowok.

AAARRGGGGGHHHHHHHH……………………..XEGGGGYYY………….

Terdengar teriakan Cika dari dalam toilet, yang membuat semua team ekspedisi pencarian jejak Luna berhamburan menuju toilet.

Haahhaaa….mampus loe kepeleset pasti” Xegy, tertawa dalam hati. Ia lalu berjalan santai menuju toilet.

Sampai didalam toilet sepertinya perkiraan Xegy benar, banyak kru team ekspedisi pencarian jejak Luna yang ketawa ngakak, tapi, anehnya kok Pak Memet wali kelas Luna malah melotot, sampai semua retina, air matanya mau keluar. Begegas Xegy menerobos kerumunan kru-kru.

“Anjriiiiitttt………” ucap Xegy terperangah kaget. Didalam toilet diatas closet duduk, terlihat Luna sedang tidur dengan pulasnya, parahnya kayaknya ini semua sudah terencana, karena dibelakang kepalanya ada sebuah bantal tidur. Bener-bener edan.

“Cepet…bangunin” Pak Memet, mendorong Xegy kedalam toilet. Sebelumnya Xegy menyuruh semua orang untuk menyingkir dan keluar dari dalam toilet, lalu Xegy meneluarkan Super TOA dari tasnya, menarik napas dalam-dalam dan…….

LUUUUUUUNNNNAAAAAAAAAA………………….

BAAAAANGUUUUUUUUUUNNN………………

Semua urat Xegy keluar, kuping berdengung, dan jantung ikut berdetak kencang.

“WHhoooaaaaa……dah balik sekolah cuy” Luna membuka matanya.

Anjriit…loe, hati-hati aja loe diluar ada Pak Memet, kayaknya riwayat loe berakhir hari ini” Xegy berlalu keluar toilet, diluar terlihat semua kru Team Ekspedisi Pencarian Jejak Luna dan enggak ketinggalan Pak Memet, meniup-niup kuping mereka. Xegy Cuma tertawa geli melihatnya dan berlalu untuk pulang, sambil mencopot pengedap suara dari kupingnya.

***

“Gitu….tuh ceritanya” Luna menyudahi ceritanya.

“Loe aja yang kebangetan, gila loe enggak ilang-ilang tahu gak” Dino, tertawa geli, dan iapun meninggalkan Luna sendirian dikamarnya, sambil merutuk Dino karena menertawakannya.

“Tapikan sekarnag lagi Piala Dunia jadi wajar dong, gue ngatuk berat” Luna masih mau menang sendiri.

“Yaa….tetep aja loe kebangetan” sahut Dino dari ujung pintu kamar.


selesai


my Hoz

juni 2006

19 : 16 wib

FEBRIANSYAH

GOOD BY MY LOVEr


Oleh :: Febriansyah Iskandar


Gasi, menatap tak berkedip kelayar komputernya. Sudah setengah jam ia duduk didepan monitor bututnya. Tak ada yang online hari ini. Gasi tak menemukan teman-temannya yang biasanya selalu menyapanya atau mengobrol hal yang tak penting sekalipun. Beruntunglah dalam setiap obrolan itu teman-temannya tak menyinggung celana dalam yang tak jarang diganti oleh Gasi, kalau tidak, wajahnya bisa menjelma menjadi lumeran saus tomat busuk, setiap kali menampakkan wajah pic-nya di room chat-nya.

Sangat membosankannya bagi Gasi. Karena ini adalah malam minggu. Gasi baru saja putus dengan pacarnya 2 bulan yang lalu. Dan berarti malam ini untuk kesekian kalinya Gasi, cuma bisa menatap layar komputernya. Berharap ada beberapa temannya yang bernasib sama dengannya atau juga menemukan seorang gadis yang bisa menemukan kekosongan hatinya.

“Gasi……disuruh mama makan….”teriak Faya, nyaring dari luar kamar.

“Yah…nanti, entar aku masak mie..”balas Gasi, tak mau teriakannya kalah nyaring dari Faya, yang badannya lebih mini darinya.

Gasi, berbadan kurus, gak kurus-kurus amat. Karena masih kurusan si Mamat teman sebangkunya waktu SMP dulu. Tingginya tak setinggi tiang gawang, tapi setidaknya cukuplah untuk meyentuh mangga tetangga dengan satu kali loncatannya. Beratnya juga tak lebih berat dibanding satu bal karung terigu, tapi cukup berat juga kalau harus dipikul oleh kaum kurcaci, dikehidupan Putri Salju. Kulitnya kuning “bangsat” sedikit jerawatan dan malas gosok gigi. Otaknya agak dungu, walau tak terlalu bisa dibilang bego, setidaknya untuk 4 x 4 saja dia masih berpikir lama, untuk menemukan jawabannya.

Walaupun bukan termasuk muris kelas wahid dan terpandai disekolahnya. Setidaknya waktu SD dulu Gasi, pernah menjadi siswa teladan dari kelas 4 sampai kelas 5 dan dikelas 6 NEM-nya menjadi juara umum disekolahnya. Tapi itu dulu. Sekarang setelah kelas 3 SMK, kebodohan menyelimutinya. Perkerjaannya sepulang sekolah tak pernah lepas dari keyboard, mouse menulis novel, cerpen atau puisi-puisi pemberontakan. Buku-buku novel tetralogi karangan, Andrea Hirata, juga tak pernah lepas dari tangannya, walaupun sudah puluhan kali ia khatam dengan cerita sang pujangga satu suku melayu dengannya.

Gasi…makan…”teriak Faya lagi. Uratnya seperti tertarik semua, menegang disepanjang lehernya. Gasi yang kesal, cuma diam. Tak ia pedulikan teriakan-teriakan tak penting itu.

Bosan menunggu temannya yang tak kunjung datang di room chat-nya. Gasi beralih log-in disebuah message board radio prambors, radio anak-anak muda Jakarta dan sekitarnya.

Tiba-tiba pintu di buka. “Heeh…mau makan enggak?”Faya, membuka pintu dan langsung memiting kepala Gasi. Gasi yang sedang terfokus pada satu tulisan di mesaage board ruang chat prambors, langsung tersentak kebelakang. Dagunya terhenyak, tenggorokannya tercekat tak bisa mengeluarkan kata-kata. Hanya suara serak-serak meminta dilepaskan yang terdengar.

“Anak matraman tuh….” Tiba-tiba Faya melepaskan pitingannya dileher Gasi. Dan beralih kelayar monitor Gasi. Yang terlihat foto seorang cewek tapi gambarnya tak terlalu jelas, dibawahnya tertulis fly-pecintaupstairs.

“Emang loe kira anak Upstairs dikit apa? Makanya disco dong, gak jaman anak metal” ledek Gasi, sambil memamerkan jari jempol, telunjuk, dan kelingkingnya didepan wajah Faya.

“Udah bales….ajak kenalan…”Faya mendorong badan Gasi, untuk segera menekan keyboard­-nya. Tau apa yang ditulis Gasi.

>>weiittss…ada anak matraman neehh..

Beberapa menit tak ada respon. Ditunggu kedetik berikutnya, masih belum ada respon. Gasi sampai sudah bosan untuk me-refresh­ message board-nya.

>>iya dunk….

(fly-pecintaupstairs)

Huuu…akhirnya datang juga balasannya. Dengan taktik buaya darat tingkat tinggi. Gasi sudah langsung mendapatkan. Id yahoo messenger cewek penggila band disco jadul, The Upstairs.

Jika dipikir dengan akal sehat, apalah yang harus disukai dari band ibukota ini. Dandanannya saja aneh, baju yang tak pernah sepadan warnanya, pokoknya pakaiannya semuanya asal tabrak, sudah itu jogetnya juga aneh, apalagi Jimmy vokalisnya, goyangnya seperti membuat kakinya serasa akan lepas, karena bautnya hilang, kakinya serasa melayang. Rambutnya jabrik berdiri tanpa sisiran yang teratur. Bajunya lagi juga ngepres abis, yang jika manggung tak jarang ada sesuatu yang menonjol dari bawah perut sang vokalis. Tapi itulah takdir, band yang raja pensi ini, selalu punya massa terbanyak jika sedang manggung disetiap konser. Aneh tapi nyata, band ini akan mengalahkan SamsonS sekalipun jika konser.

Gasi langsung senyum-senyum mirip orang gila. Jarang-jarang ia mendapatkan seorang gadis yang satu selera dengannya. Tapi jaman sekarang, waspada terhadap orang yang dikenal,itu…… harus. Apalagi kita hanya kenal dari sebuah dunia maya, yang terdapat jutaan umat bumi, didalamnya.

“Gasi…gue hitung ampe tiga…makan gak loe”lengking Faya, lagi. Kali ini disertai ultimatum olehnya. Dengan sedikit malas, Gasi harus beranjak dari duduknya. Walaupun pantatnya pegal, jari kakinya kesemutan, bibirnya kering, perutnya juga keroncongan. Gasi sebenarnya masih mau ngobrol banyak dengan gadis bernama Fly itu.

Rasa penasaran tingkat lanjut anak muda, memacunya untuk mencari tahu siapa dia. Entahlah apa yang mendorongnya untuk mengetahui ia lebih jauh. Apalagi Gasi tak tahu wajahnya seperti apa, badannya sebesar apa. Jika harus ia berhalusinasi, mungkin badannya ramping, ada sedikit kumis halus di atas bibirnya, rambutnya sebahu, dan diponi harajuku. Wajahnya bulat dengan mata sipit, tapi tak terlalu sipit. Betisnya ramping semampai. Lalu tuturnya lembut, selembut cleopatra, tapi hatinya mulia sejernih cinderella.

PLEETAAKKK........

Auuww....”Gasi meringis sambil memegangi kepalanya. Jitakan Faya, sangat sakit untuk kalangan kaum hawa. Tangannya yang kecil seolah terlihat tak mungkin untuk menjitak orang dengan kerasnya.

Faya nyengir, merasa menang. “Makanya, buruan makan. Disuruh makan aja susah amat, gak liat apa badan loe ceking, kurus kerontang kayak gitu, malu dong”ucap Faya, sedikit mengejek. Dalam hal ini, Faya, memang sangat perhatian dengan Gasi. Dia sahabatnya dari SD dulu, tak jarang ia juga sering menginap dikamar Gasi, jika suasana rumahnya Faya sedang tak aman, sedang terjadi kapal pecah. Dan malam ini, ia, juga sudah berencana akan menginap dikamarnya Gasi lagi.

Bunda Gasi, tak pernah marah jika mereka tidur dalam satu kamar. Lagipula bunda sangat yakin mereka tak akan melakukan apa-apa. Bunda sudah sangat mengenal Faya. Karena Faya juga sering nemenin bunda untuk belanja.

Huuuaaahhh......kenyang sekali. Perut Gasi, terasa ingin meledak. Apalagi saat Faya, dengan paksa memasukan tiramissu yang dibeli Gasi kemarin. Buncit seketika sudah perutnya. Oohh...hampir lupa.

Apakah, gadis Fly itu masih online?. Segera Gasi melihat yahoo messenger. Oohh...syukurlah masih ada. Segera Gasi, langsung banyak mengobrol dengannya. Entahlah, ia sendiri sampai tak sadar apa yang sebenarnya ia obrolkan. Yang terpenting baginya, Gasi, tak memberitahunya kalau ia jarang mengganti celana dalamnya. Entahlah, apa reaksinya, ketika tahu Gasi jarang mengganti celana dalamnya. Kemungkinan besar ia akan langsung sign off, lalu menghapus username Gasi di yahoo-nya. Dan Gasi tak mau itu sampai terjadi. Pupuslah harapan jika Gasi, sampai kehilangan dia. Bisa-bisa Jomblo seumur hidup.

Hampir pukul setengah sepuluh malam. Sebelumnya Gasi, juga sendfile sebuah cerpennya pada sang gadis. Sebuah tulisan bututnya yang akan ia ikutkan lomba. Gasi, ingin ia membacanya, dia kira seorang cowok yang sekolah di SMK, yang mayoritas muridnya laki-laki dan lebih senang ke sebuah alat-alat mesin, akan terdengar sangat cool jika ada yang suka menulis.

>>di crpen lo da no hp lo gpp kan klo gw sev, bwt jd tmen?

Gasi, menerima message dari sang gadis. “No, hape gw...mau dia save? Yuupzz....why not?”ucap Gasi sendiri adalam hati. Baginya mungkin suatu waktu dia akan sms-ia. Dan seketika Gasi akan tahu, no hape dia. Disitulah Gasi, akan mulai mendekatinya. Jadi dalam hal ini, bukan salahnya jika Gasi, ingin mengenalnya lebih jauh. You know

>>okey..gpp,....

Balas Gasi pada message-nya.

Sebulan sudah Gasi, mengenalnya. Yah...Fly. Nama lengkapnya Gasi inisialkan, depannya F belakangnya I. Satu bulan puasa penuh Gasi juga melewatkan hari-hari dengannya. Selalu kirim kabar. Entah lewat email atau sms dan telpon. Dalam hal ini memang Gasi yang paling sering menelponnya. Pertama kali, mendengar suaranya Gasi sedikit kaget, suaranya agak cempreng, tapi seringkali membuat Gasi selalu kangen. Entahlah apa Gasi jatuh cinta padanya.

Fly juga perhatian pada Gasi. Sering juga mengingatkan Gasi untuk mengurangi kebiasaannya makan mie dan menyeruput kopi. Ditambah lagi untuk mengurangi kebiasaan Gasi yang sering begadang malam.

Begitu juga dengan Gasi, ia juga sering mengingatkan sholat Fly yang sangat jarang ia lakukan.

Tapi sejujurnya, sama sekali Gasi belum sempat untuk bertemu dengannya. Kegiatan Gasi yang super sibuk, sebagai wartawan muda, disebuah harian ibu kota banyak menyita waktunya, belum lagi kegiatan sekolah, kegiatan bunda dan Faya, dan buku kumpulan cerpen yang akan Gasi buat dengan teman-teman milisnya. Jadi, hampir semua waktunya habis dikamar dan didepan komputer, atau dijalanan, dibus, angkot sedang meliput berita.

Tapi bagaimanapun, Gasi, melewati hari seperti Gasi telah mengenalnya sangat jauh, sangat dekat seolah ia ada selalu disisi Gasi. Menemani setiap gerak dan bayangan langkahnya, menebar pesonanya dalam dunia fana yang iaciptakan, menari, bernyanyi lalu gelap menyelimuti. Dan kali ini, Gasi benar-benar yakin, kalau ia jatuh cinta padanya. Getar-getar itu semakin ia rasakan. Tatkala, Fly sang gadisnya sms-dia kalau ia akan menghabiskan waktu lebaran dengan keluarganya di Banjarmasin. Seketika badan Gasi semuanya lemas, otot-ototnya kaku. Padahal Gasi, akan merencanakan untuk menghabiskan lebaran di jakarta ini dengannya.

Tapi……Yasudahlah, mungkin suatu saat nanti” Gasi berbesar hati. Suatu hari difatamorgana kelam. Dunia tanpa batas yang tak ada tembok pembatas. Alam sadar ditengah kenyataan.

Menghadapai kenyataan pahit dalam suatu kerinduan dan saat cinta yang mendalam, luna kelam. Penghujung sebuah hubungan.

>>Gas...km jgn mrah yah...aq bru ja jadian.

Td, sore..jgn mrah yah.

Sms-nya suatu malam. Awal desember tanggal 9. Gasi sangat mengingat tanggal itu, tanggal gelap dalam hubungan percintaannya.


“Gas.....kesini sebentar”Gasi, tiba-tiba mendengar panggilan bunda. Jarang sekali mendengar bunda teriak, kalau saja bukan karena satu hal yang penting. Segera saja Gasi, menghampiri bunda. “Pasti bunda membutuhkanku, lebih dari sms menyakitkan, membunuh perasaanku”pikir Gasi, segera ia menghampiri bunda.

“Faya........”ucap Gasi, setengah kaget.

“Maaf, Gas”

“Loe mau kemana kunyuk jelek, gue lagi butuh loe banget, kunyuk. Mau kemana loe?”serentak saja, Gasi langsung menghampiri Faya, yang berpakaian rapi, jeans, t-shirt + jaket, ditambah lagi tas travel disampingnya. Gasi terus mengoncangkan tubuhnya, tapi Faya, cuma diam. Tak satu patah katapun yang keluar dari bibir mungilnya. Faya, cuma tersenyum, bisu.

“Gue, akan ke Lampung. Suatu saat gue akan balik lagi. Dan….pasti…..gue akan nginep dirumah loe lagi, dikamar loe yang udah betaun-taun gak pernah disapu. Ditambah lagi, rambut loe yang gak pernah ilang bau dan ketombenya, terus iler loe yang terus aja ngucur sepanjang malem. Gue akan merindukan semuanya. Jalan bareng bunda, tidur bareng loe. Semua. Tapi. Suatu saat nanti” senyum Faya, getir. Ia mencoba untuk terus tertawa. Walaupun Gasi tahu, ia sedikit memaksakannya, agar ia dan bunda tak terlihat sedih lagi.

“Okey....”

“Yah...”

“Suatu saat lagi, gue bakal balik lagi, setelah semuanya aman, cinta tak hanya seorang wanita, gadis waktu kita SMP dulu, ingatlah”desah Faya, pelan. Dan Gasi, cuma bisa memejamkan matanya, untuk menahan kesedihannya, selepas itu Faya, hilang.

“Tapi, apa maksud Faya dengan gadis waktu SMP dulu. Ahh...semakin pusing saja kepalaku”gerutu Gasi, sambil membaringkan kepalanya kekasur empuknya. “Tapi kenapa aku kembali mengingat dia. Seorang wanita sang cinta pertamaku, yang tak sempat. Ooohhh....tidak bukan tak sempat. Tapi.....tak berani untuk aku nyatakan cinta padanya. Apakah yang dimaksud Faya itu. Aaahhh...seandainya dia masih mengenalku”desah Gasi, kembali pelan.

Ia gadis terindah yang pernah ia lihat. Yahh....dimana Meta selama ini. Lama tak terdengar hujan membawanya kembali. Karena satu yang selalu diingat, gadis mungil itu sangat menyukai hujan. Padahal dulu banyak yang mengira ia anak rumahan, yang tak tahu dunia sama sekali.

Badannya mini sama seperti Faya. Rambutnya lurus sebahu. Matanya indah, cekung, bersinar, hingga kita seolah-olah bisa melihat keajaiban dunia dari matanya. Bibirnya mungil, manis. Pipinya berlesung pipit. Kulitnya putih tanpa balutan sinar matahari. Tutur katanya juga halus. Jalannya teratur.

“Oohh....tuhan, seandainya aku kembali bertemu dengannya. Karena setahuku ia bersekolah dikota seberang dari kotaku tinggal”lamun Gasi, semakin jauh.

“Aku tahu nama sekolahnya, tapi sama sekali tak tahu tempatnya dimana. Tapi aku tahu rumahnya. Tapi aku tak tahu apakah itu benar rumahnya. Tapi entahlah, mungkin saja benar. Aahh...tapi jika salah bagaimana?”

“Bingung.......”


Seperti hari-hari, sebelum beberapa bulan yang lalu, sebelum Gasi mengenal Happy. Kembali, menjalani dunia lonely. Semua orang yang benar-benar ia sayangi, sangat-sangat Gasi cintai, pergi satu persatu. Tak dikira.

“Apakah aku orang yang kejam, hingga orang-orang tak ada yang mau mendekatiku?”pikir Gasi ngelantur.

“Tapi hari ini, lebih sepi dari hari-hari tujuh belas tahunku yang lalu, ketika aku terlahir dibumi ini. Karena kini ditambah lagi Faya yang harus hilang”

“Faya...........

Siang ini seperti biasanya mendung menyelimuti. Mungkin semua dunia tahu, karena tak lama lagi tahun baru cina, jadi mungkin sewajarnya hujan lebih sering turun. Tapi, lebatnya hujan atau kencangnya badai. Takan bisa menghalangi seorang Gasi untuk menuju toko buku. Malam minggu ini, tepat dimalam sepi baginya, toko buku besar di matraman, adalah termpat terbaik untuknya. Karena hanya buku-buku itulah yang selama ini sangat setia untuk menjadi pacarnya, pacar abadi seorang Gasi. Tidak seperti gadis lainnya yang begitu mudahnya mencampakkan arti kata cinta.

Karena ia merasa ketoko buku adalah pilihan yang terbaik, kesinilah Gasi setiap malam minggu. Dan malam ini benar-benar malam keberuntungannya. Walaupun selama ini Gasi tak terlalu percaya dengan hari keberuntungan. Tapi hari ini Gasi menemukan tiga buah buku yang sangat menarik buatnya. Judulnya The Kite Runner, Charlie, dan ayat-ayat cinta. Entahlah apa yang mendorongnya, untuk membeli itu semua. Karena biasanya Gasi hanya membacanya disana sambil berdiri, lalu jika belum selesai, akan ia lipat dahulu bagian yang belum ia baca, barulah minggu depan Gasi akan lanjutkan lagi. Seperti itulah setiap ada buku baru. Tapi kali ini, mungkin tensi emosionalnya terlalu berlebih hingga Gasi emosi untuk menggondol semuanya. Lalu segera lekas pulang.

Hujan terus menggelayut, malah semakin deras. Gasi mencoba berlari cepat menuju halte busway gramedia matraman. Agar ia tak terlalu kebasahan.

Tapi......

Heiiii....tunggu”jerit seorang gadis, dibelakang Gasi. Gasi menoleh kebelakang ia lihat seorang gadis sedang membuka lipatan payung.

Meta….”lirih Gasi pelan.

Ayo….”ajaknya sambil memayungi Gasi, tak lupa senyumnya turut menyertai tutur katanya.

Sampai dihalte, Gasi masih terus diam. Begitu juga ketika sudah membeli tiket dan berdiri menunggu busnya datang. Gasi, tak ada nyali untuk menyapanya. Sama seperti dulu, saat SMP dulu. Darah Gasi langsung berdesir kencang. Jantungnya berdetak. Keringatnyapun keluar , juga disaat cuaca dingin seperti ini.

“Ia benar-benar penuh pesona”batin Gasi kagum.

diliriknya Meta sekilas. Ternyata ia masih Meta yang dulu. Ia sibuk memainkan air hujan. Air hujan yang kata bunda Gasi bisa membuat kepala pusing. Tapi Meta tetap asyik dengan air hujannya.

Kamu….masih suka teriak-teriak dikelas seperti orang gila, Gas?”tanya, Meta ramah. Gaya bicaranya tak berubah, tetap ramah dan sopan, dan selalu menyertai senyum manis lesung pipitnya disetiap akhir kalimat.

“Masih...”jawab Gasi pendek.

Meta membalas tersenyum pada Gasi.

“Masih, suka dengan perpustakaan dan membaca buku-buku sastra dan juga biografi A’a Gym?”tanya Meta lagi, juga tak lupa dengan senyum manisnya, sangaaatt.manis. Semanis coklat dari Paris.

“Masih...tapi sekarang kuganti dengan toko buku, lebih lengkap”jelas Gasi datar.

“Masih...suka dengan Rudi Soejardwo dan film-filmnya”Meta, ternyata masih mengingat semua kesukaan Gasi.

“Sangat, sampai sekarang”

“Tapi...apakah masih takut untuk menyatakan cinta, dengan orang yang kamu cintai dan ia sudah tepat didepanmu?”

“Oooohh...tuhanku, ia sepertinya mengejekku dulu saat detik-detik kelulusan SMP dulu, saat ia telah berdiri didepanku, tapi aku sama sekali tak ada nyali untuk mengatakannya. Justru ia yang sudah rela meninggalkan sebuah kelas teladan demi aku. Justru aku cuma bisa bilang. ‘Kita mau ngapain?’ JEEGGEERR....hancur sudah. Semuanya sia-sia berkat kebodohanku, Meta lalu lari dari hadapanku, setelah itu aku tak melihatnya lagi. Hingga sekarang aku menjumpai molek gadisku”

Apa..kamu masih marah...dengan yang dulu? Aku mau mencobanya lagi sekarang, itu jika kamu mau”kali ini Gasi tekatkan untuk mencobanya lagi. Harus.

Kalau kamu berani, sekarang, biar rintik hujan-hujan yang menjadi saksinya. Saksi kalau kamu sekarang bukan pengecut lagi”Meta balik menantang Gasi. Dan bagi tekad Gasi yang sudah bulat. Langsung saja Gasi duduk didepannya, bersimpuh didepannya, didepan orang-orang banyak.

Meta....kali ini aku ingin kamu tahu........kalau aku...BENAR-BENAR SAYANG SAMA KAMU......AKU CINTA DENGAN KAMU, DARI EMPAT TAHUN YANG LALU SAMPAI SEKARANG....AKU CINTA KAMU...” Gasi melihat keatas, pipi Meta langsung merona. Gasi tahu ini sangat memalukan. Apalagi dilihat semua orang yanga da dihalte, bahkan mbak-mbak penjaga tiket tak mau ketinggalan. Langsung saja Gasi mencium kedua tangannya.

I Love you Too” Meta, membisikkannya ketelinga Gasi pelan.

Hei…kamu serius”tanya Gasi, sambil memegang bahu Meta tak percaya. Meta yang ditanya. cuma mengangguk mantap. Dan Gasi tahu malam ini, gadisnya telah datang.

Senyum, kemenangan cinta. Tak lepas dari bibir Gasi hingga malam, terus meninggi. Tapi sayang, tak ada yang bisa ia bagi dengan kebahagiaannya. Tak ada lagi Faya, dikamarnya, disampingnya, disisinya.

Cuma, disekolah ia bisa membagi senyumnya. Dengan anak-anak gank-nya yang semuanya gila. Tak ada normalnya. Karena prinsip mereka. ‘Kalau mereka waras berarti mereka gila begitu juga sebaliknya’

Tapi seenggaknya mereka bisa menerima dengan normal. Kalau sekarang Gasi sudah punya pacar dan mereka semua tertawa terpingkal-pingkal. Stres.

Sudah 2 hari Gasi, jadian dengan Meta. Setiap sore, sepulang ia sekolah. Walaupun letih tak ketulungan. Gasi, tetap memaksakan diri untuk menjemputnya. Karena Gasi tak mau dia sampai lepas ketangan orang lain. Lagipula, tak ada salahnya jika harus berkorban sedikit untuk seorang yang sekarang sangat spesial untuknya. Karena dia bidadarinya. Penyejuk hidupnya, dikala ia hilang didalam kekeringan sepi.

Ooww..tapi sekarang sudah seminggu tak ada Faya, dimana Faya? Dia belum memberikan kabar. Apakah dia sudah lupa atau dia sedang mengalami sesuatu hal yang berbahaya. Aahh....semoga tak terjadi apa-apa. Lagipula di Lampung ia bersama neneknya.

Gas....tunggo...”Nino, anggota gank-Gasi mengejarnya. Teman Gasi yang berhidung bangir ini memang terkenal paling dekat dengan Gasi. Karena dia sering numpang makan dirumah Gasi. Dan Gasi, tahu kenapa ia sekarang memanggilnya.

“Sorry, No...gue mau jemput cewek gue dulu, jadi nih...gue kasih duit loe makan aja diwarteg sono”diberikan dua puluh ribu perak, pada Nino, dan langsung bergegas pergi. Takut Meta terlalu lama nunggu.

“Bunda.....bunda ngapain sih......”jerit Gasi pada bunda yang sedang membakar tumpukan kayu didalam sebuah drum bekas.

“Yaahh...anak bunda pulang, kata orang dulu asep dari bakar-bakaran bisa menghentikan hujan”ucap bunda kolot, jaman sekarang masih percaya kayak gituan. Kalau mau hujan yahh...pasti hujan. Gasi cuma senyum-senyum kecil, lalu beranjak meninggalkan bunda.

“Sayang tunggu....”panggil bunda cepat.

“Kenapa bunda?”

“Ada surat...tadi ada temen kamu cewek kasih surat”jelas bunda, sambil menyodrkan amplop hitam.

Makasih bunda....”Gasi tinggalkan bunda kekamar. Surat siapa...apakah dari Meta. Mungkin dia marah karena tadi ia telat menjemputnya, hingga dia pulang duluan.


Gasi....


Maaf tadi aku pulang duluan.....

Tapi bukannya aku tadi marah dengan kamu. Tapi ada sesuatu yang harus aku lekas kerjakan.

Dan sekarang aku akan mengatakan sesuatu padamu.

Ini tentang kita, tentang hubungan kita. Bukan maksudku tak mencintaimu lagi. Tapi takdir surga bukan untuk kita berdua. Besok aku akan berangkat ke Tokyo. Aku akan tinggal selamanya disana. Maaf, sekali lagi aku ucapkan padamu. Bukannya aku sudah tak cinta lagi dengan kamu. Tapi....hidup dan cinta abadi itu memang bukan untuk kita.

Sekali lagi aku ucapkan maaf. Jika suatu saat kita akan bersatu lagi. Aku yakin untuk ketiga kalinya kita akan bertemu lagi. Aku yakin Gas.dan kamu pasti akan mau untuk kembali berteriak didepan umum kalau kamu mencintaiku, dan aku pasti akan menjawwab YA. Sangat. Terima kasih atas cinta kamu.


Love you

Meta


Entahlah apa kehidupan dan pahitnya memang sepahit ini. Bukankah kehidupan didunia seharusnya bisa lebih manis. Semanis senyum Meta yang membuat jatung berhenti berdetak.

Dunia memang alam fatamorgana, kehidupan mendadak sepi. Selintas manis, kemudian pahit seketika. Saat alam abadikan sesuatu yang lain.

Gasi tahu ini sakit. Gasi tahu ini biadab. Tapi ia juga tahu. Gasi adalah cinta abadi. Dan ia adalah cinta sejati. Dan Gasi yakin suatu kekuatan alam fana, akan berhembus bersama angin surga.

Mungkin sekarang saatnya ia, untuk menjaga bunda yang semakin tua. Hingga dalam waktu yang tepat. Seorang bidadari hujan akan datang lagi padanya. Dalam cara apapun. Entah dijatuhkan dari langit, dihembuskan dari surga atau dihadapkan langsung sepeti pertemuan kedua ia dengannya. Tapi mungkin juga Gasi harus sering-sering mengganti celana dalamnya.

Gasi, cuma bisa berharap. Tapi juga akan tetap mencari. Apapun yang terjadi. Gasi adalah pecinta sejati, bumi, matahari, bulan, bintang, dan rintik hujan keindahan tahu. Gasi memiliki cinta sejati. Sekarang ia cuma bisa bilang. GOOD BYE MY LOVER



Jakarta……

Jual Nyawa

FEBRIANSYAH ISKANDAR


Keremangan dan kemegahan kota Jakarta, itulah yang sangat menarik para hati orang-orang desa untuk melancong dan meraup sedikit rezeki dikota ini. Keglamoran, kebebasan, dan kehidupan layak itulah sekian dari banyak yang mereka cari selama ini. Bius metropolitan dan arus globalisasi mendorong semua untuk mendapatkannya. Termasuk temanku Xegy, Xegy Keira.


Tidak mudah hidup di Jakarta……. Dunia disana, tak akan membuat kamu bahagia. Jakarta itu kejam, berbahaya kamu tidak usah kesana dan jangan pernah kesana.


Xegy kembali merenungi kembali kata-kata ibunya. Kebimbangan tampak diraut wajahnya, keinginan dirinya untuk menjamah ibu kota dan menuntut ilmu di metropolitan, patut ia pikirkan ulang. Setiap bait menambah kebingungannya, ketika kata-kata ibunya terngiang ditelinganya.

Apalagi ditambah dengan cerita-cerita para tetangganya yang banyak harus menelan pil pahit, ketika mereka menapaki ibukota Negara ini.

“Tanpa uang yang banyak dan keahlian, paling kau cuma bisa jadi gembel, paling beruntung kau akan jadi pengamen”begitulah kata-kata Lowga, tetangga Xegy yang harus tertunduk malu ketika ia akhirnya harus pulang dengan tangan hampa dan badan dekil.

“Tak ada yang dapat kau cari, jika kau tak punya kekuatan dan kekuasaan” tambah istrinya, yang membuat bulu kuduk Xegy semakin berdiri.

Xegy berjalan pelan, menapaki perlahan genteng demi genteng yang mulai rapuh termakan usianya, yang sudah puluhan tahun, tiba diatap tertinggi ia duduk, ditekuknya kedua kakinya hingga menyentuh dada ia tegakkan wajahnya kedepan, ia lingkarkan kedua tangannya pada kedua kakinya hingga dagunya, kembali ia tidurkan pada dengkulnya. Matanya menatap lurus kosong, rambutnya yang berwarna kuning terpanggang matahari terurai terbawa angin malam yang menusuk tubuh, angin malam yang sebenarnya sangat diharapkan untuk menyejukkan hati walau itu sangat menusuk badannya dingin, tapi itu tak dihiraukan oleh Xegy.

Matanya terus menatap kosong dan gelap didepannya. Benaknya tertuju berliku berbeda arah dengan hatinya dan angannya, tujuannya satu, Jakarta, tapi hatinya juga satu, Ibu. Ketika malam semakin larut, embun fajar mulai menyeruak dingin menusuk tubuh. Sinar mentaripun mulai muncul menyilaukan mata, derap langkah orang-orang yang mulai menapaki tanah untuk memulai aktivitas kerja mereka dimulai pagi ini, hari ini.

Maju mundur kendaraan mewah melintas setiap detik didepan mata. Xegy terus berjalan lurus menapaki trotoar yang mulai pudar cat-catnya, yang mulai berlubang ditengah-tengahnya. Terik sekali matahari hari ini bersinar, kaca mata hitam cengdem Xegy yang didapatnya dari penjual kacamata ecek-ecek dibawah jembatan layang, ternyata sama sekali tak dapat menahan kilau mentari yang semakin garang menyengat.

Xegy menaiki gedung kosong yang baru setengah jadi, sepertinya akan dijadikan apartemen. Sangat terlihat dari banyaknya sekat ruangan yang ada digedung itu, Xegy menatap jauh kedepan. “Alangkah megahnya gedung ini setelah jadi” pikirnya dalam hati.

Gedung yang berjumlah 30 lantai itu, tak terasa telah ditapaki Xegy, dan kini ia telah ada puncak teratasnya. Menatapi ramainya kota Jakarta, lalu lalang dan deru kendaraan yang memiliki polusi memetikan. Semilir angin yang membawa cuaca semakin sore, sejuk, tapi bising. Ingin rasanya berteriak.

SELAMAT DATANG JAKARTA……………….

Xegy melepas semua kata-kata yang selama ini ia impikan, di puncak tertinggi gedung mewah Jakarta.

Dikota inilah Xegy memulai kehidupannya, memulai pendidikannya pada sebuah perguruan swasta, memulai kehidupan cinta dan masa depan kelak.

Tak seperti yang selama ini Ibunya katakan dan juga cerita para tetangganya, Jakarta punya segalanya, Jakarta kota istimewa, Jakarta masa depan, Jakarta disinilah rumah kita.

“Melamun apaan siang bolong kayak gini ?” Tanya Luna, sahabat baru Xegy. Luna yang berperawakan asli betawi sangat berbeda dengan Xegy. Luna cenderung berkulit putih bersih sedangkan Xegy, ia sedikit gelap. Mata Luna yang seperti elang memang kadang membuat kaum adam merasa diawan. Senyumnya yang khas dan berlesung pipi, menambah daya tarik untuk dirinya, yang juga anak orang penting di kampus. Tak menyangka dan sebuah kejutan besar bagi Xegy dapat berkenalan dengan malaikat perempuan seperti Luna.

“Ahh…enggak, cuma kembali ingat sama omongan Ibu aku dulu” jawab Xegy, agak gelagapan, kaget karena lamunannya buyar dan datang sebuah dewi betina, gadis impian hampir semua isi kampus.

“Pasti kata-kata yang punya makna dan indah”Luna coba menebak, dengan gayanya yang sok tahu, tapi masih terlihat lucu.

“Ha..haa….enggak, cuma kata-kata yang terbukti sebenarnya itu salah, dan itu cuma ketakutan orang tua saja”Xegy sedikit tertawa lepas, mendengar jawaban Luna yang benar-benar sok tahu.

“Ooohh…”Luna cuma berkata itu, wajahnya sedikit memerah karena malu sudah salah dan sok tahu, ia lalu diam dan kembali menyelami notebook-nya karena ia takut akan salah lagi.

Luna Prisma, sekilas saja orang yang menyebut nama itu pasti akan langsung tahu. Luna, kembang kampus dan anak seorang pemimpin kampus, pemimpin universitas dimana Xegy sekarang menuntut ilmunya. Mata Luna yang khas orang tionghoa, dan wajahnya yang blasteran merupakan sebuah nilai plus untuk sebuah macan kampus nan elok. Tak akan pernah habis buat para buaya darat dan semua pasang mata anak adam, untuk menatap dengan detail setiap sudut dari kemolekan seorang Luna. Style Victoria dan Harajukunya memang sangat berbeda dan terlihat lebih menonjol dibanding mahasiswi lainnya, dan satu hal lagi gayanya seperti itu malah membuat wajah imut semakin terlihat, apalagi ditambah dengan lesung pipinya yang memikat. Luna Prisma, dia yang terbaik dikampus ini, akan sangat menyesal untuk melewatkan hidup dengannya.

Xegy lalu meninggalkan Luna sendirian duduk dibangku taman, langkahnya menuju sebuah pohon tua yang bercabang-cabang dan menaikinya hingga dahan tetinggi. Sepertinya Xegy ingin selalu melihat dunia dan kehidupan Jakarta, ia ingin merekamnya dalam ingatannya dan akan ia ceritakan kelak ketika ia pulang, Jakarta indah men, amazing, semua orang yang selalu menawar kehidupan ada disini, dikota ini.

“Monyet busuk, ngapain loe ? cari pisang apa neropong cewek” Xegy, sangat mengenali suara ini, suara yang sengak dan tengil dari teman reseknya. Bejo Kurniawan, nama belakang oke, tapi depannya……….

“Tai….loe kutu busuk” Xegy langsung turun dan mengejar Bejo yang sudah keburu lari dan berlindung dibelakang punggung Luna. Tak peduli, Xegy terus mengejarnya hingga akhirnya tak sengaja Xegy menyenggol notebook Luna dan terjatuh. Hening……….Xegy, Luna, dan Bejo terdiam, notebook Luna jatuh ke tanah layarnya pecah. Bulu kuduk Xegy lantas berdiri, mukanya pucat, tegang, ia tak bisa bergerak dengan apa ia harus mengganti notebook Luna yang puluhan juta ini, dengan apa ?

Luna cuma terduduk dibangkunya, ia cuma diam tak satu patah katapun keluar dari kata-katanya, itu hadiah dari ayahnya, hadiah yang ia terima ketika ia pas menginjak tujuh belas tahun. Luna lalu berlari menuju parkiran dan mobilnya, ditinggalkannyalah Xegy dan Bejo yang masih berdiam diri tanpa pernah sedikitpun gerak yang mereka lakukan. Mereka Cuma menatap kepergian Luna dengan rasa penuh salah.

Rintik hujanpun datang, tangisan langit yang hanya menambah pedih dan tangis Xegy lebih terkoyak dalam. Apa yang harus kuperbuat? apa aku harus lari dan meninggalkan kota ini? apa aku harus pergi dari kota ini? apa aku haru pergi dan meninggalkan mimpiku? ataukah aku harus tetap disini dan mengganti? tapi….dengan apa? dimana uang akan turun dalam sekejap berpuluh-puluh juta? akankan hujan uang itu benar-benar ada ? kebingungan terus menyelimuti Xegy.

Ternyata ini kehidupan Jakarta, seperti inilah perjuangan metropolis. Berat………, tapi sedikit menyenangkan, sangat sedikit, sangat butuh banyak pengorbanan untuk bertahan di metropolis ini Sebuah impian dan keinginan yang besar tak akan pernah kita capai dengan mudah, dengan mengedipkan mata, dengan membalikkan telapak tangan dan dengan berkata simlabim dan semua terwujud, tidak…..tak akan pernah terjadi bila semua itu tak kita lakukan tanpa usaha, Jakarta kejam men, hidup di Jakarta berat.

Xegy, masih tetunduk merenungkan semuanya. Andai saja ia tak mengidahkan kata-kata Ibu dan tetangganya, pasti ia takkan punya hutang sebanyak ini. Ini Jakarta, dimana bisa mendapatkan hutang dengan nilai puluhan juta… apalagi kita tak punya kenalan.

“XEG………………..Xegy….” terdengar suara Bejo melaung-laung dari luar kamar kos Xegy, suaranya yang khas cempreng abis, sangat mudah mengenali kalau itu dia. Dengan gontai Xegy membuka pintu kamarnya.

“Gokil men………gue ada kerjaan, buat loe biar bisa ganti laptop Luna, kerjaannya gampang men” Bejo datang dengan wajah yang bersinar, bagaikan ia malaikat penyelamat yang siap menolong kapanpun ia bisa. Sebuah tawaran menarik, dan sudah pasti sangat memikat hati Xegy.

“Berapa gaji gue sebulan, berapa ?” dengan semangat Xegy menanyakan upahnya yang ia harapkan dapat mengganti Laptopnya Luna kelak.

“Haaa….haa…haa…” Bejo tertawa keras.”Hari gini.bulanan……, gaji loe bakal dikasih tiap kali loe selesai tugas loe………lima ratus ribu sekali jalan…, DEAL” Bejo mengeluarkan tawaran super fantastis dan langsung dilanjutkan anggukan oleh Xegy.

“Deal……….” Lanjut Xegy, menyanggupi.

Malam itu juga Xegy memulai perkerjaannya, tak terlalu sulit. Xegy Cuma bertugas menjalankan mobil untuk mengantar seorang teman Bejo, mengirimkan paket kerumah oang-orang yang sudah memesannya. Malam yang indah dan lancar, pekerjaan pertama sangat sukses dan pengataran selalu tepat waktu, dan lima ratus ribu telah ditangan.

***

Xegy menuju pelataran parkir, dimana sepedanya ia sandarkan pada sebuah pohon palm yang sudah tua dan tanpa daun sedikitpun. Langkah gontai Xegy, yang masih terpikirkan bagaimana dengan laptop Luna terus menemaninya menuju sepeda koboinya, apakah Luna telah memaafkan Xegy?

“ Luna?” Xegy menatap kaget ketika berpapasan dengan Luna, yang akan masuk menaiki mobilnya. Sayangnya Luna Cuma diam dan ia langsung masuk kedalam mobilnya.

“Aku TAU AKU SALAH…, AKU TAU AKU MISKIN, AKU TAU KAU KAYA, TAPI….INGAT AKU BISA GANTI LAPTOP KAMU……………PEGANG JANJI AKU” teriak Xegy yang sudah sangat kesal, karena selama ini ia selalu saja diacuhkan, dijadikan kambing hitam, seolah ialah seorang pecundang dan seharusnya lebih cocok hidup di kampung dan berkebun.

Rasa kesal, sedih, benci, dan merasa bersalah menyatu dengan mudahnya. Hidup dibawah tekanan seperti ini sangat-sangat menyesakkan, selalu dihingapai rasa bersalah, berdosa, dan putus asa.

Xegy terus mengayuh sepeda tuanya, sepeda yang dia beli dari sebuah penjual loakan di pasar baru. Sepeda yang mengingatkan semua kenangan akan kehidupan kampungnya dulu. Ayahnya yang sekarang telah berpulang dan menetap disurga, selalu menggunakan sepeda koboi ini setiap kali ia ingin berjalan atau memeriksa ladang dikebun yang dikelolanya sejak ia muda dulu.

Besi tua yang mulai berkarat, ternyata masih tetap kokoh untuk menopang berat dan beban. Setiap kayuhan seolah adalah setiap napas ayah, napasnya yang selalu terengah ketika memacu sepeda koboinya untuk mencapai rumah. Menatap Xegy, ibu, dan seluruh keluarganya.

Senja mulai tenggelam, matahari sudah mengendap bersembunyi dibalik puncak tertinggi gunung dunia ini. Senyum bulan sabit kemudian datang, mirip senjata khas suku Australia. Dan Xegy, ia masih terus mengayuh sepeda tua yang sangat mirip dengan milik ayahnya dulu. Tanpa tujuannya yang jelas Xegy terus mengayuh sepedanya. Rasanya ia ingin menikmati setiap titik Jakarta dengan kenangan bersama ayahnya, dengan sepeda yang dulunya kebanggan sang ayah.

Lamunan Xegy, untuk mengingat masa lalu bersama ayah dan keluarga, semakin menambah beban rindu terhadap dirinya sendiri.

“Ambon! Aku kangen, aku rindu, semua….semua…., ayah…., ibu…., kakek, nenek dan semua saudara dan adikku. Penyesalan seorang aku, Xegy, Xegy Keira. Pembangkanganku terhadap keluargaku, terutama ibuku, bencana benar-benar bencana buatku. Ayah…..ibu…., Xegy mau pulang….pulang” Xegy memberhentikan sepedanya, untuk menyeka air matanya. Ia menatap langit jauh…jauh menelusup kedalamnya. Menembus belahan langit satu persatu, setiap lapisannya. Hingga akhirnya ia mencapai sebuah lapisan terakhir dari langit itu. Sekelilingnya sangat bersih, putih tak tampak sedikitpun seberkas cahaya kotor yang merusak keindahan putihnya langit. Cahaya, cahaya yang sangat terang atau bahkan lebih mirip sebuah sinar yang terus….terus…mendekat dan membentuk sesosok yang sangat Xegy kenal. Senyum mengembang dari pria itu, ia merentangkan kedua tangan. Tangan Xegy yang pendek mencoba mengapainya, memeluknya dan ingin terus mendekapnya.

Bayangan itu kemudian perlahan-lahan hilang, senyum tipisnya tapi selalu mengembang, mencoba mengantar kepergiannya.

“AYAH……………….” Teriak Xegy, mencoba menahannya untuk tidak pergi, terus mencoba menggapainya.

Tapi bayangan ayahnya terus-terus menghilang, senyumnya lalu berganti senyum seorang laki-laki berjas putih, yang selayaknya Xegy tahu siapa orang itu.”Dokter.”

Perlahan Xegy membuka matanya, mencoba menerawang setiap yang ada diseklilingnya termasuk selang infuse yang ada ditangannya.

“Kamu, sudah sadar?” senyum dokter itu mengembang, melihat Xegy sudah sadar dari tidurnya yang panjang. Xegy, ia Cuma bisa tersenyum. Cuma ekspresi kebingungan, yang tampak terlihat jelas dari raut wajahnya.

“Kenapa saya ada disini, Dok?” dengan kening yang mengkerut bingung, dengan polosnya Xegy menanyakan kenapa dirinya ada diruangan serba putih ini dan ruangan yang sangat mencolok dengan bau obat ini.

“Kemarin malam, kamu diantar oleh temanmu, tadinya kamu koma beruntunglah temanmu cepat membawamu kesini, kamu tertabrak kemarin” jelas Dokter itu.

“Kecelakaan? tabrakan? temanku? Siapa yang mengantarku? Apakah mungkin Bejo? Yah pastilah si Bejo, siapa lagi temanku selain dia” Xegy, menerawang jauh mencoba mengingat-ingat kejadian malam itu, tabrakan? Xegy masih bingung, seingatnya dia tak merasa ditabrak ataupun menabrak, bahkan……aahh…, Xegy tak bisa mengingat kembali yang selanjutnya.

“Kemana temanku sekarang pergi, Dok?” tanya Xegy, sambil memegang tangan Dokter yang sedang menyuntik lengan kirinya.

“Dari kemarin semenjak ia mengantar kamu, dia tidak terlihat lagi” jawab Dokter, dengan terus mengembangkan senyumnya.

“Lalu siapa yang membayar ini semua, Dok?” Xegy, lalu terhenyak kaget. Siapa yang akan membayar biaya ini semua, kalau Bejo menghilang dan tak pernah muncul.”Oh…tuhan, berapa rupiah lagi kau akan menambah hutangku dibumi orang ini” batin Xegy, ia Cuma menghela napasnya. Kejadian buruk ini yang membuat ia kembali terngiang dengan kata-kata ibunya.”Maafkan aku ibu……” desah Xegy pelan.

Sudah menunjukkan pukul delapan malam. Suasana rumah sakit mulai sepi, suster baru saja memeriksa Xegy untuk malam ini dan ia baru akan kembali lagi besok pagi. Tak ada suara cakap orang lagi, mungkin semua pasien yang lain telah lelap dalam mimpi mereka masing-masing.

Dan sekarang jam didinding berwarna jingga menunjukkan sembilan tiga puluh. Dan berarti sudah setengah jam Xegy, masih membelingsat tanpa matanya tertutup sedikitpun, bagaimana ia bisa tidur disaat masalah kembali muncul. Berapa juta lagi yang harus ia hadapi untuk membayar rumah sakit ini, dan ini sudah barang pasti bukan rumah sakit ecek-ecek yang bisa dibayar dengan jam tangan atau sandal.

“Aku harus pergi sekarang” Xegy, langsung melepas jarum inpus ditangannya dan mengganti bajunya. Dengan mengendap-endap ia mencoba menghilangkan suara langkahnya dan jejaknya. “Maaf dok, aku tahu kau baik tapi aku tak punya apa-apa untuk membayarmu” sela Xegy, menatap kamar yang sebenarnya sangat ia tak inginkan.

Sejauh ini terlihat aman, Xegy berusaha berjalan dengan santai mencoba menghilangkan rasa curiga pada dokter dan suster-suster yang sering kali lalu lalang.

“Sudah selesai menjenguknya, mas!” sapa suster cantik, dengan ramah yang melalui Xegy.

“Yaah…” jawab Xegy pelan, mencoba tetap tenang.

“Luna…….?” Xegy, melihat Luna keluar dari salah satu kamar pasien dirawat. Dan Xegy, langsung mengalihkan pandangan dan langkahnya. “Untuk apa Luna datang kesini? Siapa yang ia jenguk?” Xegy mencoba bertanya pada dirinya sendiri. Dilihatnya Luna, yang sudah tak tampak dari lorong rumah sakit. Lalu perlahan Xegy mendekati kamar yang tadi Luna masuki. Rasa penasaran Xegy yang semakin memuncaklah yang kemudian membawanya sekarang berada didalam kamar pasien, dan menatap dengan penuh kasih pada seorang lelaki tua dan sedikit gemuk, dengan selang dan banyak lagi seperti mirip kabel-kabel menempel pada dada dan tangannya.

“Pak Rektor!” Xegy mengamati lelaki tua yang sangat dikenal dan sangat ia hormati itu. Dia adalah Rektor di universitasnya, dan yang paling penting dia jugalah ayahnya Luna.

“Permisi, mas!” Xegy, dikagetkan oleh seorang suster yang lengkap membawa catatan kemajuan kesehatan pasien.

“Oh…ya..sus, silakan” dengan sedikit gelagapan, Xegy menjawab sapaan dari suster itu.

“Baru kelihatan, kemana saja mas?” tanya suster itu basa-basi, sambil terus tangannya memeriksa Pak Rektor.

“Saya baru datang dari Padang…., sus!” Jawab Xegy asal, dan sangat mengada-ada.”Oh…ya sus, sebenarnya sakit apa ayah saya” tanya Xegy, sekedar ingin menyelidik.

“Seperti yang dibilang dengan saudara mas yang perempuan, ginjal bapak satu sudah tidak berfungsi dan satu lagi masih berfungsi tapi telah terkena infeksi. Dan harus segera diangkat dan mendapat gantinya, kalau mas mau menyumbang satu bisa, tapi agak sedikit percuma. Orang setua bapak akan lebih baik kalau mendapat dua buah ginjal kembali” dengan sangat jelas dan sabar, suster itu, memberikan penjelasannya.

“Saya bersedia sus…..bagaimana?” tanpa pikir panjang Xegy, langsung mengiyakan tawaran suster tadi.

“Sebentar mas, jangan terburu-buru. Sebaiknya dipikirkan dulu, tidak mudah loh, untuk semua ini” suster, mencoba membuat Xegy untuk memantapkan hatiya dulu.

“Tidak sus, saya sudah siap, sekarang saja kita operasi. Setidaknya ini bisa menembus dosa saya yang sudah terlalu banyak terhadap bapak saya” sambar Xegy, yang sedikit membuat suster itu terhenyak kaget. Jarang sekali ada seorang pendonor yang sangat semangat mengikhlaskan sesuatu yang bisa membuat ia mati.

“Baiklah…., saya panggil dokter dulu” suster itu lalu permisi keluar dan segera memanggil dokter, yang menangani Bapak Rektor sekaligus ayahnya Luna. Tak sampai sepuluh menit, suster dan dokternya telah kembali dengan sedikit berlari kecil.

“Mas…yakin….?” Tanya dokter itu, dengan semangat.

“Sangat” jawab Xegy, mantap.

“Baiklah kita keruang operasi, labih cepat lebih baik, tapi darah mas AB-kan?” dokter coba memastikan, dan disambut dengan anggukan mantap dari Xegy.

Keringat mengucur deras dari kening, tangan dan sekujur tubuh Xegy. Ia kini telah terbaring, di meja operasi, meja yang kelak akan mengantarnya kedunia lain. “Aku akan ketemu, ayah, setelah ini” Xegy, mencoba menguatkan hatinya dengan berharap setelah ini, didunia berikutnya ia akan bertemu lagi dengan ayahnya.

“Ibu, ibu yang menang sekarang, ibu yang benar Jakarta kejam ibu, tapi juga Jakarta istimewa, karena selalu saja bisa mengantarkan orang-orang untuk kembali kepenciptanya” Xegy, mencoba terus membatin dan berkomunikasi dengan ibunya nan jauh disana.

“Anda siap, atau ada yang ingin disampaikan sekarang? Ingat ini terakhir untuk anda, tapi ini yakinlah akan mengantarkan anda kesurga, ini sangat mulia” ucap dokter, coba menyemangati, Xegy.

“Sus, pinjam pulpen dan kertasnya” Xegy, lalu menulis beberapa kata disepucuk kertas putih bersih itu. “Nanti sampaikan saja sama saudara perempuanku ini” Xegy, mencoba tersenyum manis untuk menghilangkan kesedihannya, walau air matanya sekarang sudah menitik, tapi coba terus ia tahan.

“Baik….pasti saya sampaikan” jawab suster, yang ikut menitikkan airmatanya, sedih.

“Lakukan sekarang, Dok, sekarang” ucap Xegy dengan tegas, walau airmata terus mengalir dari kedua bola matanya.

Lampu operasi telah dihidupkan, suntikan penuh obat bius telah menancap di tubuh Xegy, matanya kini tertutup ia tak sadarkan diri. Tetapi airmatanya tetap saja mengalir, menahan rasa haru, perih, senang karena ia akhirnya bisa membayar hutangnya dan bisa bertemu ayahnya, sedih karena ia harus meninggalkan ibunya yang kini harus sendiri tanpa ada dia yang tertua mendampingi.

Fajar menyingsing, kokok sijantan mulai terngiang terdengar dengan lantang, seolah ia ingin menyampaikan kalau sipengembara telah tiada. Dan kini Xegy, Cuma bisa melihat tubuhnya telah kaku tanpa mengenakan baju lagi dan Cuma mengenakan sebuah “sarung” plastik kuning yang menyelimutinya dari ujung kaki sampai ujung rambutnya.

Dan Xegy dengan digandeng ayahnya, pagi ini kembali melihat senyum Luna yang sangat berbeda dari sebelumnya. Senyum yang sumringah, manis, cantik, lucu, dan penuh sebuah harapan yang menjadi kenyataan. Ayahnya Xegy Cuma tersenyum menatap Xegy, dengan perjuangan dan pengorbanannya.

“Boleh saya, lihat yang telah menjadi malaikat penolong ini, dok?” harap Luna, mencoba ingin memberikan suatu ucapan sejuta terima kasih untuk, pangeran penolong ayahnya.

Dokter bersama suster itu, lalu mengantarkan Luna pada kamar mayat, yang terasa dingin penuh es pembeku.

“ Silahkan” dokter, itu menunduk mengundurkan langkahnya dan mempersilahkan Luna untuk melihat tubuh yang telah beku dan kaku, Xegy.

“Sebelumnya mbak, ini catatan kecil dari penolong mbak” suster, memberikan sepucuk kertas kecil yang semalam ditulis oleh Xegy.


Sangat senang mengenalmu, dirimu, hatimu.

Sangat menyenangkan melewati detik, menit dan hari denganmu.

Aku akan merindukan semua tentang aku, dirimu dan perasaanku.

Dan ini sebuah kado dariku, untuk mengganti kado yang diberikan ayahmu ketika kau tepat tujuh belas tahun, lalu.

Terimah kasih Periku, berkat kamu dan ayahmu aku bisa mengenal Jakarta, dan bangku kuliah, terima kasih terdalam untukmu dan ayahmu.


Aku

Xegy Keira


Seluruh badan Luna bergetar, sepucuk surat kecil ditangannya telah basah terkena rintik airmatanya, isak tangis mulai membuatnya dengan cepat membuka, kantung kuning berisi mayat.

“XEGY…………Xegy…..” pekik Luna, keras. Suaranya membahana memenuhi seluruh ruangan.


“Xegy….Xeg….nak…..anakku, bangun nak. Sudah larut malam seperti ini, tidak baik terus terkena angin malam, tidak baik buat kesehatanmu” Ibunya Xegy, coba membangunkan Xegy, yang tertidur diatas genteng rumahnya.

“Oh…Ibu…..Ibu….” Xegy, langsung memeluk erat ibundanya, sangat erat seolah ia tak ingin terlepas dari pelukannya, seperti saat ia harus rela melepaskan peluk hangat sang ayah dulu.

“Sudahlah nak…., tak usah seperti ini. Ibu mengerti keinginanmu, dan ibu mengizinkan kau untuk kejakarta sekarang” ucap Ibu Xegy, lirih.

“Tidak Bu, biarlah Jakarta berdiri angkuh tanpa aku ditengah kehidupannya. Aku telah memutuskan merubah jalan pikiranku dan tujuanku, karena aku akan tetap disini, membangun kembali keluargaku. Bersama Ibu dan semua keluargaku selamanya, selamanya Bu…..” sergah Xegy, yang merubah semua keinginannya, malam itu dan diatas genteng rumah yang telah rapuh.

Bulan sabit mengintip dari balik rimbun daun-daun pepohonan yang menari riang. Seolah ia tersenyum senang, akhirnya aku tetap menginjakkan kakiku ditanah kelahiranku sendiri, ini akan jadi rahasia kita berdua” kerling Xegy, pada sang rembulan dan disambut dengan seyuman hangat dari sang sabit.

sekian

DEDICATED TO:

IRMAWAN SAHPUTRA ( AMBON )

Yang terpkasa menjual ginjalnya kepada seorang Rektor Universitasnya.

Hanya, untuk ia bertahan hidup di kota Jakarta.

febriansyah iskandar


Mentari

Harapan





Aku Pelangi, Gasi alias Galaksi, Zizi, Luna, dan Pluto. Satu kelompok remaja kampong yang kurang beruntung. Selalu penuh mimpi yang sulit sekali menjadi kenyataan. Sawah dan perkebunan nan elok lebih menjadi pemandangan absolute terindah yang pernah terlihat dikedua buah biji mata coklatku dan serombongan sahabatku.

Hari pertama keluar dari rahim ibu dan menatap dunia. Kami semua sudah dihadapkan dalam gelimangan kesusahan, getir kehidupan, dan kemalangan terancam kebodohan.

Lulus SD, jarak berkilometer harus kami lewati agar dapat menginjakan kaki disebuah sekolah menengah pertama. Itupun harus ditambah dengan macam masalah lainnya. Uang yang selalu kekurangan untuk membayar guru-guru honor yang tersisih dari gaji pokok pemerintah. Sampai sulitnya mencari buku untuk menorehkan tinta bolpoin diatas kertas.

Untuk SMA, sekarang. Kesulitan kami sedikti terobati. Sebuah SMA, dengan kapasitas 60 siswa, berdiri cemen dengan bangku dari bambu dan meja dari triplek. Dinding dari papan. Dan masih menggunakan papan hitam yang tergantung miring untuk menuliskan catatan dan menulis soal latihan. Tanpa ada gambar SBY dan JK plus burung garuda diatasnya.


Januari 2006

Gasi berlari kencang menuju kerumpulan aku dan temanku yang lain. Wajahnya pucat tegang, pasi. Napasnya menderu ngos-ngosan. Sebuah Koran ibu kota sedikit lecek digenggamnya dengan erat.

“Apa itu? Sejak kapan kamu jadi baca Koran? Bukankah dikampung kita tak ada yang menjual Koran? Dapat dari mana?” cerocos Zizi. Matanya menyipit senyum picik penuh kecurigaan nampak jelas diwajahnya.

“Ahh…bukannya aku mencuri, ini aku temukan dari mobil los bak-nya Pak Kamto. Waktu aku numpang tadi pagi” seru Gasi. Menolak tuduhan tanpa alasan dari Zizi.

“Kamu bawa berita apa, Gas? Lebanon dan Israel berdamai, atau emas monas ada yang mencuri?” tanyaku setengah bercanda. Aku, menarik tangan Gasi untuk duduk disampingku.

Sebuah Koran terbitan dua minggu yang lalu kurebut dari tangan Gasi. Halaman terakhir membentuk kolom yang hampir memenuhi Koran terpampang dengan tulisan yang besar-besar.

Sangat mengundang daya tarikku. Sebuah impian kami semua sudah saatnya terwujud. Mimpi anak-anak kampong yang sederhana, sangat sederhana. Sekalian kami akan mengangkat nama SMA desa yang kumuh dimata orang-orang kota.


November 2005


Dengan menumpang mobil los bak-nya Pak Kamto. Aku, dan semua sahabatku menyambangi kota untuk pertama kalinya dalam hidup kami. Melewati jalan berliku dan mendaki, turunan yang curam dan tikngan yang tajam. Hingga melewati jalan berlubang dan mulus rata.

Terperangahlah kami ketika melihat lintasan mobil lebar, dengan garis putih ditengahnya dan pembatas jalan dari besi dipinggirnya. Sepertinya kami pernah melihatnya di tivi hitam-putih Pak Sukro sang kepala sekolah.

“Waahh…jalan bebas hambatan….” Pekik Luna dan Pluto, hamper bersamaan. Kepala mereka melongok seolah mau lepas, menatap jalan bebas hambatan yang begitu lebarnya.

Atuh…lamun ti lembur mah eweuhan nu kos kieu, ieu jalan teh meni lebar teuing euy..*” ucap Pluto, dengan logat sundanya yang nyelekit abis. Kami semua sontak tertawa serempak mendengarnya.

Turun kami, di tempat asing. Sebuah jembatan layang yang panjang dan tinggi. Sebuah pasar yang menjual baju-baju bekas dan murah ( bagi orang-orang kota). Sebuah terminal yang semerawut. Dan sebuah bangunan tinggi dan penuh jajanan dan toko dengan tulisan ATRIUM PLAZA. Belakangan aku, mengetahuinya daerah itu bernama senen.

Pak Kamto, menurunkan aku dan sahabat-sahabatku didaerah bernama senen itu. Ia bilang ia akan menjemput kami lagi tepat jam 14.00 sore teng, nanti.

Dengan lagak sok tahu, kami menyeberangi jalan menuju gedung megah tadi dengan gaya meyakinkan.

Luna, yang memakai rok panjang motif bunga-bunga warisan ibunya. Ditambah dengan setelan baju kerah yang dulunya bekas kakaknya, tak lupa sandal jepit biru seragaman kami mengalas alas kakinya.

Pluto, tingkah sok tahu dan tengilnya, mengantarkan ia berjalan duluan didepan kami semua. Celana pendek dan baju bola ia gunakan dengan pedenya. Oh…ya…sandal jepit biru tak ketinggalan juga ia gunakan sebagai alas kakinya.

Begitu pula dengan aku, Zizi, dan Gasi. Sandal jepit biru muda dan setelan khas orang urbanisasi.

“Eleh…ieu teh namana emol, khos nu aya di tipi..eta” pekik Pluto, kencang. Tak ada rasa malu yang hinggap kepadanya, matanya celingak-celinguk menatap penjuru kepenjuru mal. Dasar bocah geblek. Langsung kubekap saja mulutnya dari belakang.

“He…atuh lamun ngomong mah pelan-pelan wae atuh” bisikku pada Pluto, yang sedikit memberontak kehabisan napas. Zizi dan Gasi tertawa geli, melihat tingkahku dan Pluto yang sangat mirip anak kecil, saling bertengkar tak tahu tempat.

Luna, berjalan pelan menatap etalase sebuah toko yang menyajikan banyak pakaian anak-anak muda, yang funky dan gaul. Sorot matanya menyatakan kalau ia menginginkan semua itu.

“Lihat orang itu!” tunjuk Luna, pada seorang anak A-B-G yang menggunakan sebuah jeans yang sangat menarik dan mahal. “Celananya sama dengan itu” tunjuk Luna, pada sebuah celana jeans yang kulihat mereknya berlabel Lois.

Ah…pastilah pabrikan dari barang para artis beken pikirku. Tapi Luna, terus menatap celana jeans itu dan mencoba membandingkannya terus dengan rok panjangnya yang sudah warisan turun menurun dan kucel.

“Jika kita kaya dan sukses dan hasil panen nanti melimpah, semuanya pasti bisa kita beli” aku, menepuk bahu Luna dan teman-temanku yang lain, menariknya dari depan etalase toko itu. Walau aku, sendiri tak tahan melihat Luna dan teman-temanku yang terus mencoba meraba-raba celana itu dari luar etalase.

“Suatu saat kita pasti akan memilikinya kawan…” lirihku dalam hati. Bahkan tak hanya itu, bersama semua, pasti kelak kita bisa membeli isi dunia ini, bersabarlah sahabatku.


Februari 2006


LOMBA SISWA TELADAN

2006

13-14 FEBRUARI 2006

HADIAH 1 : Rp. 4.000.000,-

HADIAH 2 : Rp. 2.000.000,-

HADIAH 3 : Rp.1.500.000,-

Jangan lewatkan.untuk umum.


Dengan sangat angkuh tulisan itu sepertinya sangat ingin menantangku. Akhirnya, ada juga jalan menuju celana jeans Lois itu.

“Kita akan ikuti ini, harus..” pekikku, membuat yang lainnya terperanjat.

“Kita teh arek ngadu kitu jeung orang gedong?” Tanya Pluto, mewakili yang lainnya. Mungkin Pluto dan temanku yang lainnya menganggap ini semua mimpi, tapi tidak denganku.

“Tahu hadiahnya?” tanyaku, mencoba memancing keinginan sahabatku. Dan bisa kutebak mereka semua menggeleng.

“ Tapi segede, selobak naon ge’ ulah, teu bakalan meunang” potong Zizi, pesimistis.

“Baju Lois, sama celana Lois, sekalian bantu promosi sekolah butut kita. Apa kalian udah enggak mau lagi? Kalaupun kita ingin menunggu panen lagi, belum tentu panen nanti akan berhasil” pancingku dengan mata berbinar-binar. Lalu disambut senyuman menuju kemenangan dari teman-temanku.

Tak ada keraguan lagi, dimata kami, hati kami dan tekad kami. Lebur menjadi satu, dalam satu tujuan. Tak ada lagi rasa enggan untuk bangun pagi menuju sekolah. Tak ada rasa sungkan lagi bagi kami semua untuk mandi dengan air pegunungan yang dapat membekukan seluruh darah dan syaraf kami.

Setiap pagi saat berangkat sekolah. Tak ada keraguan lagi. Terus berlari melewati petak-petak sawah yang sedang dalam proses penguningan. Beriringan dengan riang kami melompati setiap parit-parit genangan ari yang mengair sawah. Berjingkrak-jingkrak saling menertawakan, jika ada salah satu dari kami ada yang tergelincir masuk kedalam petak sawah.

“Luna….awas!” pekik Zizi, spontan. Tapi, terlambat. Luna sudah tercebur, setengah kakinya yang kiri terjeblos pada genangan Lumpur sawah.

Gasi dan Pluto, tertawa paling keras. Mereka seperti sedang digelitiki oleh jin-jin penguasa sawah, terus tertawa tepingkal.

“Haaa…”Luna berteriak. Ia langsung mengambil rerumputan kering didekatnya. Ia gosokkan pada kaki dan sepatunya. Setelah itu dengan mantap, kembali ia berjalan menuju sekolah.

Ah…inilah yang aku, harapkan dari semuanya saat ini. Semangat.

Tak hanya disekolah. Setiap kesempatan kami selalu membuka buku, dimanapun kami berada. Entah sambil duduk diserambi rumah dengan bersandar pada bangku dari bambu buatan abah. Atau di pinggir sawah sambil menikmati pemandangan nan aduhai terhampar luas dan tiupan angin sepoi menyegarkan. Tapi untuk Pluto ia lebih senang jika ia belajar dan membuka buku, sambil bergelayutan di atas pohon kecapi, yang tindang. Anggapannya berkah buah kecapi dapat membantunya dalam menghapal segala rumus pelajaran.

Dua hari lagi lomba dimulai. Kami mulai matang. Buku-buku yang kami pinjam dari Pak Kepala Desa dan juga Pak Sukro sang kepala sekolah. Begitu banyak membantu kami dalam mata pelajaran, belum ditambah lagi pelajaran alam yang setiap hari kami dapat dari petualangan dan percakapan dengan abah disetiap sore. Kami yakin akan menang.

Dengan target akan menjadi juara pertama. Lalu menggondol uang Rp. 4.000.000,- lalu kembali ke Senen, dengan menumpang mobil Pak Kamto. Kami semua akan memborong semua atasan dan bawahan lois. Kembali lagi kekampung mejeng-mejeng alias pamer sama orang kampong. Duuuh…alangkah senangnya jika menang.

Kami duduk dimeja yang didepannya bertuliskan huruf C. Aku, disusul Luna, kemudian Gasi, Zizi, dan Pluto. Disebelah meja kami terdapat, SMA Flamboyan. Sebuah SMA dengan kualitas internasional, semua siswanya berkaca mata. Sepertinya mereka tertalalu banyak menatap buku. Dan disebelahnya lagi ada SMA Pasparah, tak jauh beda dengan Flamboyan keduanya berwawasan internasional. Di meja D, ada sebuah SMK kota yang bagitu muridnya yak jauh beda dengan kami, malah sebagian dari murid mereka adalah para berandalan yang setiap pulang sekolah selalu melakukan tawuran.

Babak pertama dengan penuh percaya diri kami bisa melibas semua pertanyaan. Walaupun juga sama dengan kedua pesaing kami, yang juga dapat melibas semua pertanyaan.

Di babak penentuan. Kami mulai mengalami kesulitan. Keringat dingin bercucuran keluar dari pori-pori kami. Kami semua mulai tegang, dua pertanyaan dari sepuluh pertanyaan lewat begitu saja dari meja kami.

Apa yang disebut Keisomeran?” sebuah pertanyaan tentang kimia, yang asma sekal tak aku mengerti diutarakan oleh seorang juri. Aku, menyenggol Luna. Tapi Luna, malah menyenggol balik ke Gasi, lalu ke Zizi dan terus ke Pluto yang akhirnya menggelengkan kepala pasrah. Huu…kembali nilai hilang dari kami.

Lahir dimana Galileo?” lagi-lagi ia melontarkan pertanyaan yang tak kami tahu.

“Gasi..apa?” Tanyaku pada Gasi, yang malah dapat ia jawab dengan gelengan kepala, lewat.

Siapa ayah dari ibunya Bung Karno?

“Pas..” aku, langsung menyerah. Karena aku, sendiri tak tahu. Apalagi teman-temanku.

Sebutkan ciri motor 2 tak?

“Motor yang menggunakan oli samping, tidak mempunyai rantai keteng, keluar asepnya banyak” Gasi, langsung menyerobotnya sebelum diserobot orang lain. Dan ternyata betul, sangat beruntung.

Tapi hanya pertanyaan itulah yang bisa dijawab, oleh team kami. Kami kalah. Kami tak mendapatkan apa-apa. Kami tak mendapatkan juara. Apalagi celana dan baju Lois impian kami.

Paginya kami kembali seperti biasa. Melakukan kegiatan seperti biasa tanpa tawa yang menyeringai kembali. Hanya Pluto sajalah yang masih terus mengoceh tak keruan.

“Woii..kalian, sini” panggil Pak Kamto. Melambaikan tangan pada kami yang sedang berpanas-panasan setelah pulang sekolah.

“Iya…pak?” sambut kami bersamaan.

“Kita ke Jakarta lagi besok, ada yang ikut? Ah…tidak semuanya harus ikut. Kutunggu kalian diujung jalan besar besok jam 2, harus” Pak Kamto lalu, meninggalkan kami yang masih terperangah tak mengerti.

Tapi apalah artinya, bingung. Tepat jam 2 siang kami sudah bertenggger dengan masih mengenakan baju sekolah, di ujung jalan besar. Untunglah tak lama kemudian Pak Kamto dating dengan mobil los bak-nya.

“Yoo….berangkat…” ucap Pak Kamto dengan semangat.

Kami tertawa riang kembali, selama perjalanan. Setelah berbulan yang lalu kami ke Jakarta, akhirnya sekarang kembali lagi ke Jakarta.

“Kok, kesini Pak?” tanyaku pada Pak Kamto. Tak seperti dulu, kenapa Pak Kamto masuk ke ATRIUM PLAZA, bukannya ke pasar senen.

“Ini kejutan buat kalian yang penuh semangat pendidikan, sekaligus untuk hadiah Gasi yang sudah mau membantu saya membenarkan motor” senyum Pak Kamto mengembang. Kami lalu berjalan mengintilnya berurutan.

LOIS……….” Kami semua berteriak serempak, ketika Pak Kamto masu ke toko lois. Kami semua berlompatan riang, kami berjingkrak-jingkrak kegirangan.

“Ini hadiah buat kalian yang selalu cinta pendidikan walaupun itu sangat menyulitkan kalian, dari SD sampai sekarnag SMA, jalankan terus pendidikan kalian” lirih Pak Kamto, mengucapkannya. Kamipun satu persatu, bergantian memeluk Pak Kamto. Ini hadiah terindah didunia ini. Semua orang bertepuk tangan, melihat getir kami. Tak lupa kami bersujut syukur, celana lois yang kupegang basah terkena air mataku, apalagi Luna yang sangat menginginkan ini.

Bak pergawati diatas catwalk kami lalu berputar-putar mengelilingi petak sawah. Dengan senyum khas, asli kampong kami. Sembari ditonton semua petani.

“Loncar ……..1….2…3…Jepret” Pak Kamto, memfoto kami. Yang sedang meloncat kegirangan. Impian sederhana kami terwujud.

Ternyata mimpi sederhana saja sulit. Bagaimana dengan mimpi yang selangit ?


Feb®iansyah


cinta mati


FEBRIANSYAH ISKANDAR




Akhirnya….selesai juga mandi mataharinya” keluh Koko, sambil mengelap keringatnya yang sudah membasahi hampir semua baju seragamnya, ini upacara yang paling lama ia ikuti sepanjang 8 tahun ia sekolah.

Enggak seperti biasanya juga sebuah sekolah yang terletak di kota hujan Bogor, di selimuti cuaca yang panas. Aku bisa mati kepanasan kalau setiap hari seperti ini,” Koko lagi-lagi mengeluh.

Cowok berbadan subur seberat 82kg, memang bukan tipe cowok yang kebule-bulean yang suka berjemur dengan panas matahari, ia asli sunda tapi enggak bisa bahasa sunda sedikitpun. Badan gempalnya sering jadi ledekan semua temannya, banyak yang mengatakan kalau ia mirip mobil tangki pertamina, gas elpiji, lebih parahnya lagi ia disamakan mirip Ruben Studdart pemenang American Idol itu (eh salah ding, kalau itu sih pujian).

Pecundang, butelan kentut…ngapain loe bengong disitu…”Aldo ketua osis keren, tampang model, neriakin Koko yang masih bengong sendirian dilapangan.

eh…oh…,”Koko baru sadar dari lamunannya, ia berlari dengan segera ke kelasnya yang ada di lantai tiga, parahnya lagi ia harus menaiki tangga untuk menaiki kelasnya dan tidak ada lift seperti gedung-gedung mewah di sebelah sekolahnya. Walaupun ada keuntunganya juga ia menaiki dan menuruni tangga, ia bisa menurunkan berat badannya yang sudah segede karung beras. Tapi kali ini kerugian di depannya ia bisa telat memasuki kelasnya, yang pelajaran pertama dimasuki oleh guru antropologi yang super killer.

My God…, ini mungkin hari terakhir kehidupan gue” Ucap Koko tersengal-sengal kehabisan tenaga ketika ia sudah di depan pintu kelasnya.

Kreeekkk….pintu kelas ia buka, AAAAAHHHHH……..jerit Koko kaget, asli kaget, sebuah penghapus papan tulis sudah melayang siap mengenai wajahnya, “Heeiiitt…..mirip Sthepen Cou difilmnya Kungfu Hustle, Koko menghindari penghapus papan tulis itu, apesnya penghapus itu mengenai kepala sekolah yang kebetulan lagi lewat.

Mampus loe Killer” ucap Koko dalam hati kesenengan.

“Maaf, Pak Tedjo bisa menghadap saya sekarang,”Si Tedjo, wong killer itu di panggil oleh Ibu kepala sekolah kekantornya.

Anak-anak yang lainnya di dalam kelas langsung berteriak senang, termasuk Koko sendiri, pertama ia bisa terhindar dari hukuman Si Killer, kedua ia bisa enggak mengikuti pelajarannya yang asli ngebosenin banget.

Sayang, beberapa menit kemudian, tawa semua anak sekelas dan kehidupan surga yang diterima oleh Koko karena Bebas dari hukumannya harus terhenti sekarang, karena Si Killer balik lagi, tapi bukan dengan Ibu Kepala Sekolah melainkan dengan Angel, malaikat kepagian yang langsung membuat mata dan hati Koko dan belasan murid laki-laki lainnya lumer.

Kamu Koko jangan ketawa dulu…..hukuman kamu masih berlaku”Tunjuk Si Killer, tepat mengarah kemuka, seolah ia ingin menggigitnya buas.

Koko Cuma tertunduk mengucap mantra-mantra penyelamat jiwanya, ia berharap jin penghuni kelas bisa mengubah kata-katanya Si Killer.

Perkenalkan, kali ini Bapak membawa teman baru kalian semua, ia pindahan dari kalimantan, perkenalkan nama kamu” suara serak ala mbah dukun keluar dari bibir hitam Killer yang pengidap linting putih alias rokok.

Cewek kuning langsat, manis, cantik, ayu, dan proposional banget, itu maju selangkah dari tempat ia berdiri, ia mulai membuka mulutnya.

Nama aku…, Luna Prisma.

eleh….pemain aktris Cinta Silver jeung Ruang nyak, eleh-eleh geulis pisan euy, meni ayu”celetuk acep warga penghuni lembah kerak bumi yang sunda teuing.

Hemm, bukan aku cuma orang biasa, hobby aku berburu sama friendster, tapi karena disini enggak ada hutan lebat kayaknya harus di tunda, dan …aku harap kalian bisa bantu aku selama disini” suara lembutnya memenuhi isi kelas, yang membuat orang dapat tertidur seketika. Luna pun, berjalan menuju kursi kosong yang ada di depan tempat duduk Koko.

Mang…..laler tah rek asup, liat cewek sampe mangap kos kitu, tah ti depan situ bidadarina diuk” Gorli membangunkan Koko yang terlena melihat kemolekan Luna.

Ketika istirahat, semua isi sekolah langsung menyerbu kelasnya Koko daya tampung ruang yang cuma 40 siswa berubah jadi lautan kaum adam yang ingin melihat paras ayu wanita kalimantan.

Banyak yang memasang wajah mupeng ketika ia sudah melihat Luna.

Minggir-minggir…,”Aldo dan komplotannya datang, ketua osis yang super jago taekwondo ini menarik semua orang yang menghalanginya.

Ngehe’ loe”celetuk salah seorang siswa yang enggak tahu siapa.

Hai….gadis manis……, pindahan ya….dari mana…?”tanya Aldo basi dan enggak berbobot.

Dari kalimantan” Jawab Luna singkat dan males-malesan.

Kamu……

Sorry aku mau ke toilet” Belum sempat Aldo meneruskan kata-kata-nya, Luna langsung berdiri beranjak pergi, tapi tetep aja mata keranjang kaum adam, pengikut buaya darat mengikutinya.

Inilah enggak enaknya jadi anak baru, bingung mau kemana-mana juga, semua masih asing.

Eh….sorry toilet dimana….?”Luna menepuk bahu Koko dari belakang, dan itu malah membuat Koko terbengong-bengong.

Hei…hei…”Luna melambaikan tangannya di depan wajah Koko yang mirip orang mati dan kaku.

Ohh..o…sorry kamu kesana aja lurus terus ruang sains belok kanan sampe,”tunjuk Koko gelagapan.

Makasih ya…, kamu yang duduk di belakang aku kan”Koko Cuma bisa mengangguk”Nanti kita ngorbrol-ngobrol daaahh…..”Luna berlalu dari hadapan Koko, tapi tidak di hatinya.

Ini baru cinta”desis Koko pelan.

Plaak…..”kepala Koko di pukul dari belakang.

Anjing….”Koko mengelus-elus kepalanya.

Mimpi loe, cinta-cinta”Gorli menarik Koko balik kekelas.

Sejak dari itulah Koko yang tadinya, enggak semangat buat kesekolah, males ngerjain Pr, tidur dikelas, sekarang berubah 1800 . Ia jadi anak yang rajin dan tepat waktu, seolah setengah nyawanya yang kemarin hilang kini sudah kembali. Ia pun semakin dekat dengan Luna, Luna yang mempuyai sedikit banget teman karena ia bukan orang yang gaul, lebih memilih Koko sebagai teman bicaranya karena Koko memang orang yang banyak tahu tentang semua hal. Sayang enggak untuk hal kewanitaan.

Setiap hari, waktu dan itu membuat perasaan cinta Koko makin membuatnya sering berdebar-debar ketika sedang berdua dengan Luna dan itu membuatnya sedikit tersiksa, kadang ada perasaan dan keinginan buat nembak Luna tapi selalu ditunda oleh Koko karena urusan fisiknya. Oleh karena itulah kemarin siang ketika jam pelajaran selesai Koko iseng nanya.

Luna kok’ belum dapet pacar udah dua minggu disini ?,”tanya Koko yang gemetaran.

Masih belum nemu yang cocok aja, mungkin nanti, tapi Koko tau enggak cowok yang pake jaket putih itu siapa,”Luna menunjuk Arvi maskot sekolahnya Koko.

Oh….itu Arvi, tapi jangan sekali-kali deketin dia,”larang Koko dengan mimik serius.

Kok’,emang kenapa ?,”Luna penasaran.

Dia pemake….narkoba,”Koko terpaksa ngejelekin Arvi.

Ya, udah deh pulang yuk…..

Lega sudah hati Koko saingannya telah hilang, tapi ia masih sangat merasa bersalah banget udah ngejelekin Arvi yang aslinya super duper baek. Tapi ini demi cinta pertamanya di dunia dia siap ngelakuin apa aja.


Sebulan sudah Luna ada di kota Bogor kota hujan yang akhir ini lebih sering panas, ia dan Koko semakin dekat seolah mereka sudah berteman sejak puluhan tahun yang lalu.

Ko, jalan aja ya…!, gak usah naik angkot, panas”Ajak Luna.

Terserahlah…..”jawab Koko, santai.(dalem ati gugup tuuuhh…)

Tadi lu bilang Arvi, jahat tapi kok dikantin tadi dia baik banget, kayaknya dia perhatian banget gitu”Cerocos Luna.

“oh…masa..sih…?”Koko sok-sok gak tau.

“Lu salah kali Ko,”

“Mungkin sih…”Koko ngalah.


bEsok di Skul

Ko………Koko……..”teriak Luna.

Hai…pagi, ceria banget….”Koko seperti biasa tersenyum sumringah.

Gue kekantin dulu ya…Ko…pulang jangan lupa bareng lagi…”Luna berbelok kekantin..sedangkan Koko terus berjalan kekelasnya sambil terus memandang Luna….menghilang dibalik tembok.

Koko yang sejak pertama kedatangan Luna sudah memendam cintanya, berniat pulang sekolah ini mau nembak, Luna. Kenapa enggak pikir Koko, lagipula mereka udah deket banget buat pegangan tangan sama cepika-cepiki udah biasa, pulang sekolah adalah saat yang tepat,”pikir Koko yakin.

Pulang sekolah Koko pulang bersama Luna sesuai rencananya Koko ingin nembak Luna di taman bunga dekat sekolahnya. Mereka berjalan berdua seperti biasanya yang membuat mata kaum adam dan pria berjakun lainnya menelan ludah, pengen. Banyak diantara yang lainnya maki-maki Koko, Pecundang bajingan loe, bangsat, tapi Koko Cuma nanggepin dengan senyum-senyum aja.

eh….Lun…, gue jadi ngerasa akhir-akhir ini kayaknya malaikat lebih sering turun siang…ya…dari pada malem,”Koko, mengeluarkan jurus lelaki buaya darat (Ratu kaleeee…)

“Masak…sih…..kok bisa ?

“Ya…gue ngerasa…malaikat-malaikat itu banyak beri gue pencerahan ma gue akhir-akhir ini kalau lagi siang”Koko ngeles.

Lucu yaa……,”Luna menanggapi dengan bercanda.

Gue juga, ngerasa pelangi selalu muncul tiap hari makin hari makin terang lebih berwarna cerah, pokoknya selalu ngasih kenyamanan kalau gue selalu deket sama pelang itu,”Koko, sok romantis.

“Loe kenapa sih Ko, kayaknya hari ini omongan lu tuh puitis gimana…gitu, kenapa sih……

Mereka berhenti di pinggir jalan. Di bawah pohon Pinus, yang rindang….adem.

“Mau ngapain Ko…?”

Kamu tunggu disini diem dulu jangan kemana-mana nanti aku mau ngomongin sesuatu,”Koko memegang bahu Luna, dan ia bersiap menyebrang ke taman bunga yang ada di seberang untuk mengambil beberapa tangkai bunga untuk di berikan pada Luna.

TIIIIIIIIIITTT…….GUBRAK…AAAAAAH………..

KOKO……………..”teriak Luna kaget ia langsung menghambur ke tengah jalan, darah mengucur deras dari kepala Koko, denyut nadi terhenti, jantung diam, mata tertutup ia mati, KOKO, sang pecundang, pengungkap cinta tertunda.

I LUV U KOKO……..”bisik Luna di telinga Koko……..tanpa nyawa, dengan mata berderai. Aku juga sangat mencintaimu, aku juga sudah mengerti dengan kata-katamu tadi…….tapi sekarang aku harus menangis, aku harus sedih……tawamu yang beberapa menit tadi menghilang, kata-katamu yang puitis tadi jadi bisu, dan kini cintamu kau bawa mati. Cinta aku dan kamu mati. Miss u KOKO.


My hoz

14-02-2006

FEBRIANSYAH

Kumpulan cERPEN


FEBRIANSYAH ISKANDAR


Malaikat Kecil

Penyelamatku




Asap-asap, kegelimangan neraka terus menggelayutiku. Bisikan-bisikan setan alas, semakin menjerumuskanku kedalam lembah hitam. Lembah belakang surga.

Inilah duniaku, aku akan banyak menunjukan betapa nikmatnya hidup didunia ini. Hidup serasa didunia fatamorgana. Hidup yang selalu dapat membuatku melayang, terbang jauh dari semua masalah pelik, dibalik semua hidupku.

Aku seorang murid sebuah MAN, ternama dikota tempat aku tinggal. Otakku pas-pasan, semua kepandaianku telah terserap dan hilang terbawa asap-asap kenikmatan yang selalu menemani hari-hariku. Putaw dan sabu telah membawa semua kepandaianku ketika SD dulu hilang, sirna. Hidupku memang sangat pelik, dan barang haram ini sangat bersahabat denganku, aku mencintai sahabat baruku ini.

Ayahku, hanyalah seorang buruh nelayan, ia akan mendapatkan uang jika ia dan teman-temannya yang lain ada yang mengajak untuk berlayar menangkap ikan. Jika tidak ada yang mengajak, selesai sudah, seharian dia hanya akan menganggur dan duduk bersama temannya yang lain untuk bermain togel. Tidak ada lagi perkerjaan lain. Dan jika ia kalah, badanku yang kurus kerontang ini, harus benar-benar siap menyodorkan pungungku untuk menjadi tumbal kemurkaannya, inilah awal nasibku.

Ibuku, ia hanya buruh cuci. Buruh cuci, dirumah seorang saudagar ikan terkaya diwilayah pantai selatan ini. Parahnya, ibuku tidak dibayar bulanan seperti seorang buruh cuci lainnya. Ibuku, dibayar perpotong baju dan celana yang ia cuci. Apalagi, baju dan celana yang ia cuci tidak pernah setiap hari ia terima. Jika ia sudah kesal dan tak punya uang, wajahku yang dekil tanpa bentuk beraturan, ditambah bekas jerawat harus siap menerima pesawat lima jari yang akan lepas landas di wajah burukku. Inilah nasib keduaku.

Perjalanan waktu semakin membuatku terjerumus jauh dan semakin menyimpang dari sunnah rasul. Aku semakin masuk kedalam jurang-jurang curam yang dibuat oleh setan-setan. Tapi lambat laun aku, menikmati semuanya. Semuanya.

Jingga matahari pagi menemani aku, berjalan dengan santai menuju sekolahku, sebuah sekolah terpandang ditepi pantai, ditepi pantai selatan, pusat keramaian dikotaku.

Lembut belaian angin pantai, menggeraikan rambutku yang panjang acak-acakan. Setapak kakiku dengan balutan sepatu berbahan kain jeans buluk basah terkena terpaan ombak pantai. Sepoi-sepoinya begitu menusuk kedadaku, dingin.

Dengan kepala tertunduk, aku menyusuri tepian pantai kebanggaan rakyat daerahku. Indahnya deburan ombak dan sepinya pantai di pagi buta ini, semakin membuatku menikmati lamunanku, lamunan dalam kesendirianku. Membuatku kembali selalu terngiang-ngiang dalam ingatanku, getirnya perjalanan hidupku.

Sejenak dalam beberapa detik aku, mempunyai niat untuk menghilangkan semua aib kenikmatanku pada narkotika. Tapi sedetik berikutnya penguasa-penguasa pantai selatan, selalu saja dapat mengembalikan kembali kenikmatan dalam nerakaku.

Tanpa terasa lamunanku, telah membawaku sampai didepan gerbang sekolahku, sekolah terpandang, terbaik dikota ini. Entah apa yang membuatku, merasa sangat betah berada didalam sekolah yang sangat berbanding terbalik dengan semua tingkah lakuku. Sekolah ini adalah sekolah surga, sekolah untuk pecinta surga, calon-calon penghuni surga. Sedangkan aku, aku adalah penikmat api neraka. Tetapi itulah keanehannya, aku sering kali merasa damai bila aku, telah duduk dan memperhatikan tiap cuap-cuap yang keluar dari guru-guru berimanku. Aku lalu merasakan sebuah kerinduan, kerinduan pada penciptaku. Tapi itu hanya saat aku berada didalam sekolahku, ketika aku telah berada diluar sekolah, iblis-iblis merah itu kemudian kembali berhasil membelengguku dalam nafsu barang haramku. Inilah nasib ketigaku, aku tak pernah bisa lepas dari ketergantunganku.

Aku, duduk dibawah pohon pinus berumur dihalaman belakang sekolahku, saat jam istirahat tiba. Inilah nasib keempatku. Aku, tak mempunyai seorang teman, tak satupun. Mereka semua menghindariku.

Mereka semua menjauhiku, setelah mereka tahu kalau aku, telah terjangkit benda haram itu. Ketika sendiri seperti ini, hati kecilku, merasakan betapa sakitnya saat-saat seperti ini. Betapa perihnya saat-saat seperti saat ini.

Saat sendiri ini pulalah. Aku, hati kecilku ingin sekali terbebas dari hidup seperti ini.

“Aku, tahu masalahmu. Setiap hari aku selalu memperhatikanmu, hidupmu” aku, mendengar suara gadis yang asing tepat berada didampingku, disamping aku duduk termenung sekarang. Suaranya begitu khas, lembut, agak serak basah, crucy. Dalam definisi otak bodohku, dia pastilah gadis baik-baik.

Untuk sekian lamanya, dalam kurun waktu 2 tahun. Ada orang yang mau berbicara denganku. Ada orang yang mau menemani aku duduk, dibawah pohon pinus yang sudah tua ini, awalnya kukira, aku akan terus sendiri duduk disini, berdua saja dengan pinus ini lalu bersama-sama dengannya mengakhiri hidup, terbawa oleh waktu. Itulah awalnya.

Tapi hari ini, seseorang yang masih sangat muda. Bahkan jauh lebih muda dibandingkan dengan sahabat pinusku. Datang, duduk, disebelahku sekarang. Saat aku sedang merasakan getir dan takdirku sendiri.

Ini sangat mengharukan buatku. Untuk hidupku. Aku merasakan sebuah titik air mata, mulai menggenangi kelopak mataku. Inilah sebuah awal, untuk pertama kalinya. Aku, merasakan ingin mengeluarkan rintik memalukan, yang bagiku, untukku ini sangat memalukan dilakukan oleh laki-laki seperti aku.

“Menangislah! Saat ini memang waktumu untuk, menangis. Keluarkanlah semua keluhmu, didirimu, dihatimu, didadamu, darahmu bahkan dinadimu, luapkanlah” selentingan kalimat, merengkuh menjalar. Darahku dingin, beku. Baru kali ini aku, merasakan sebuah aliran darah seolah berhenti, berdesir.

Aku masih belum bisa mendongakkan kepalaku. Aku belum bisa mengangkat batok kepalaku, untuk memandang sedetik saja manusia hawa disebelahku. Aku, belum bisa. Aku, tak punya kekukatannya. Ganja, putaw, sabu yang selama ini selalu menjadi tameng yang dapat memberikan rasa percaya diriku. Sekarang tak ada ditanganku, aku, tak bisa melewatinya. Aku tak bisa jika tak ada benda itu, aku membutuhkannya. Aku tak punya cadangan kekuatannya.

Kami berdua terdiam sejenak, untuk sekarang gadis itu diam. Begitu juga dengan aku. Aku, cuma membisu.

Kakiku, terasa bergetar. Perutku kram. Dadaku, terasa sesak. Dan jantungku seolah berhenti berdetak.

“Apa yang kau tahu tentang aku, tentang diriku?” aku, menghela napas panjang, seusai mengucapkan semuanya. Dengan penuh perjuangan gejolak jiwaku. Dengan bantuan sisa-sisa putaw-Ku, semalam.

“Semuanya, semua kehidupanmu, pertolonganmu, kebodohanmu, kebijakanmu, narkotikamu, dan juga keluargamu” sebuah, keajaiban yang mengehentak ragaku. Ia tahu semua hidupku. Siapa dia?

“Angkatlah kepalamu, tersenyumlah, lalu kau ucapkanlah lagi kalimat syahadat-Mu, lakukanlah” serak suaranya, menambah aku semakin terpaku. Aku bingung, aku harus apa. Apa yang harus aku perbuat.

Disaat inilah aku, merasakan betapa aku sekarang membutuhkan sebuah bantuan. Aku, butuh penciptaku sekarang. Walau aku tahu, Ia mungkin sekarang sudah sangat tertutup untukku.

“Lakukanlah, perbaikilah karena penciptamu ada dibelakangmu” desisnya, pelan. Ini satu lagi keajaiban untukku. Ia tahu isi hatiku.

Sebuah keputusan bulat aku pegang, dongakkan kepalamu. Dongakkan, lihat wajahnya, sekarang.

“Muhammad, namamu seindah, seagung rasul-Mu. Seharusnya kau turuti jalannya, sekarang tataplah aku, sekarang” gadis itu, memegang daguku. Ia, angkat wajah burukku. Ia, dongakkan semua bekas tamparan dimukaku.

“Oh…tuhan……….” Jeritku, dalam hati. Ia, pesona hidup. Ia malaikat kecilku. Aku, memang tak tahu siapa namanya. Aku, belum pernah melihat dirinya sebelumnya.

“Aku, tahu kamu orang yang arif. Aku, sering melihatmu mencoba melarang temanmu yang sedang mengisap rokok. Aku, juga pernah melihat kamu , menolong seorang pemulung kecil yang sedang kelaparan dan putus asa, aku, melihat kamu membantunya. Terakhir, aku juga , melihat kamu orang yang pandai. Ketika para turis asing itu tak mengerti bahasa kita, kau datang membantunya dalam bahasa inggrismu yang lancar. Percayalah padaku, ribuan kelebihan dan keberuntungan ada padamu. Kembalilah kejalanmu, lakukanlah sebelum terlambat” kali ini aku, benar-benar mati kutu. Aku benar-benar kaku. Aku, benar-benar beku. Bayangkan saja, ia tahu semua hidupku, perjalananku. Ia, tahu semua kegiatanku.

“Tapi, Allah, telah membenciku, pasti” jawabku, mencoba memberanikan diriku.

“Ia, sekarang ada dibelakangmu, didekatmu, disisimu, disampingmu bahkan dihadapanmu. Jangan pernah kau katakana ia, tak pernah ada untukmu. Jangan pernah katakana, ia telah membencimu, kau salah” gadis, itu sedikit menaikkan tempo bicaranya. Seprtinya ia sedikit marah denganku.

Aku sangat terkejut dengan gadis ini. Gadis yang berperawakan bak peri ini menggetarkan jiwaku. Ia, sangat cantik. Ia, sangat manis.wajahnya begitu ayu. Dengan pipi yang lucu ditambah dengan lesung pipit yang manis. Wajahnya, diselimuti oleh selendang putih bersih. Badannya mungil, bayangan retinaku, seolah melihat ia bersayap. Aku belum pernah melihat ia sebelumnya, siapakah dia?

“Sekarang orang tua-Mu, telah berubah. Ia, tak akan menyakitimu lagi. Teman-temanmu, mulai sekarang ia akan selalu ada dibelakangmu. Guru-guru-Mu, ia ada didepanmu, didekat papan tulis yang selalu menyiraminya dengan debu kapur. Dan penciptamu, selalu menyertaimu, didekatmu, disampingmu” gadis, menarik itu meluluhkan hatiku, sekarang. Ia mencoba membukakan kembali jalan hidupku yang rapuh. Jalan hidup yang telah salah.

“Lalu, apa yang harus aku lakukan?” aku, masih tak mengerti apa yang harus aku lakukan sekarang.

“Pulanglah, sekarang semuanya menantimu. Dirumah kau akan menemukan kehangatan semuanya. Sebelumnya, ucapkanlah lagi kalimat syahadat-Mu. Lalu ciumlah petunjuk jalanmu yang baru, Al-Qur’an. Terakhir sembahlah selalu maha penciptamu” aku, sejenak diam. Beberapa detik kemudian, tanpa piker panjang aku langsung berlari menuju istanaku.

Gadis itu benar. Ia, katakan yang sebenarnya. Semuanya telah kembali. Inilah surgaku, inilah hidupku. Allah, sang maha penciptaku, telah mengutus seorang peri mungil untukku. Untuk menyelamatkan hidupku.

Walau, sampai sekarang aku, tak tahu siapa peri itu. Aku sekarng lebih bersyukur. Aku memang tak sempat menanyakan namanya, nama peri itu. Bahkan nomor telpon dan alamat rumahnya. Walau bagaimanapun aku, akan tetap terus mengingatnya, wajahnya, senyumnya, pertolongannya, ceramah-ceramahnya. Aku akan terus menyimpannya didalam hatiku. Sampai aku dan sahabat tuaku si-Pinus, kembali keasal untuk menjadi sel-sel lalu dimanfaatkan pertamina untuk bahan bakar penduduk bumi. Terima kasih, Allah kau kirim, malaikat kecil itu untukku, untuk hidupku.

Aku, akan selalu merindukanmu, peri kecilku.


SELESAI