FEBRIANSYAH ISKANDAR
Malaikat Kecil
Penyelamatku
Asap-asap, kegelimangan neraka terus menggelayutiku. Bisikan-bisikan setan alas, semakin menjerumuskanku kedalam lembah hitam. Lembah belakang surga.
Inilah duniaku, aku akan banyak menunjukan betapa nikmatnya hidup didunia ini. Hidup serasa didunia fatamorgana. Hidup yang selalu dapat membuatku melayang, terbang jauh dari semua masalah pelik, dibalik semua hidupku.
Aku seorang murid sebuah MAN, ternama dikota tempat aku tinggal. Otakku pas-pasan, semua kepandaianku telah terserap dan hilang terbawa asap-asap kenikmatan yang selalu menemani hari-hariku. Putaw dan sabu telah membawa semua kepandaianku ketika SD dulu hilang, sirna. Hidupku memang sangat pelik, dan barang haram ini sangat bersahabat denganku, aku mencintai sahabat baruku ini.
Ayahku, hanyalah seorang buruh nelayan, ia akan mendapatkan uang jika ia dan teman-temannya yang lain ada yang mengajak untuk berlayar menangkap ikan. Jika tidak ada yang mengajak, selesai sudah, seharian dia hanya akan menganggur dan duduk bersama temannya yang lain untuk bermain togel. Tidak ada lagi perkerjaan lain. Dan jika ia kalah, badanku yang kurus kerontang ini, harus benar-benar siap menyodorkan pungungku untuk menjadi tumbal kemurkaannya, inilah awal nasibku.
Ibuku, ia hanya buruh cuci. Buruh cuci, dirumah seorang saudagar ikan terkaya diwilayah pantai selatan ini. Parahnya, ibuku tidak dibayar bulanan seperti seorang buruh cuci lainnya. Ibuku, dibayar perpotong baju dan celana yang ia cuci. Apalagi, baju dan celana yang ia cuci tidak pernah setiap hari ia terima. Jika ia sudah kesal dan tak punya uang, wajahku yang dekil tanpa bentuk beraturan, ditambah bekas jerawat harus siap menerima pesawat lima jari yang akan lepas landas di wajah burukku. Inilah nasib keduaku.
Perjalanan waktu semakin membuatku terjerumus jauh dan semakin menyimpang dari sunnah rasul. Aku semakin masuk kedalam jurang-jurang curam yang dibuat oleh setan-setan. Tapi lambat laun aku, menikmati semuanya. Semuanya.
Jingga matahari pagi menemani aku, berjalan dengan santai menuju sekolahku, sebuah sekolah terpandang ditepi pantai, ditepi pantai selatan, pusat keramaian dikotaku.
Lembut belaian angin pantai, menggeraikan rambutku yang panjang acak-acakan. Setapak kakiku dengan balutan sepatu berbahan kain jeans buluk basah terkena terpaan ombak pantai. Sepoi-sepoinya begitu menusuk kedadaku, dingin.
Dengan kepala tertunduk, aku menyusuri tepian pantai kebanggaan rakyat daerahku. Indahnya deburan ombak dan sepinya pantai di pagi buta ini, semakin membuatku menikmati lamunanku, lamunan dalam kesendirianku. Membuatku kembali selalu terngiang-ngiang dalam ingatanku, getirnya perjalanan hidupku.
Sejenak dalam beberapa detik aku, mempunyai niat untuk menghilangkan semua aib kenikmatanku pada narkotika. Tapi sedetik berikutnya penguasa-penguasa pantai selatan, selalu saja dapat mengembalikan kembali kenikmatan dalam nerakaku.
Tanpa terasa lamunanku, telah membawaku sampai didepan gerbang sekolahku, sekolah terpandang, terbaik dikota ini. Entah apa yang membuatku, merasa sangat betah berada didalam sekolah yang sangat berbanding terbalik dengan semua tingkah lakuku. Sekolah ini adalah sekolah surga, sekolah untuk pecinta surga, calon-calon penghuni surga. Sedangkan aku, aku adalah penikmat api neraka. Tetapi itulah keanehannya, aku sering kali merasa damai bila aku, telah duduk dan memperhatikan tiap cuap-cuap yang keluar dari guru-guru berimanku. Aku lalu merasakan sebuah kerinduan, kerinduan pada penciptaku. Tapi itu hanya saat aku berada didalam sekolahku, ketika aku telah berada diluar sekolah, iblis-iblis merah itu kemudian kembali berhasil membelengguku dalam nafsu barang haramku. Inilah nasib ketigaku, aku tak pernah bisa lepas dari ketergantunganku.
Aku, duduk dibawah pohon pinus berumur dihalaman belakang sekolahku, saat jam istirahat tiba. Inilah nasib keempatku. Aku, tak mempunyai seorang teman, tak satupun. Mereka semua menghindariku.
Mereka semua menjauhiku, setelah mereka tahu kalau aku, telah terjangkit benda haram itu. Ketika sendiri seperti ini, hati kecilku, merasakan betapa sakitnya saat-saat seperti ini. Betapa perihnya saat-saat seperti saat ini.
Saat sendiri ini pulalah. Aku, hati kecilku ingin sekali terbebas dari hidup seperti ini.
“Aku, tahu masalahmu. Setiap hari aku selalu memperhatikanmu, hidupmu” aku, mendengar suara gadis yang asing tepat berada didampingku, disamping aku duduk termenung sekarang. Suaranya begitu khas, lembut, agak serak basah, crucy. Dalam definisi otak bodohku, dia pastilah gadis baik-baik.
Untuk sekian lamanya, dalam kurun waktu 2 tahun. Ada orang yang mau berbicara denganku. Ada orang yang mau menemani aku duduk, dibawah pohon pinus yang sudah tua ini, awalnya kukira, aku akan terus sendiri duduk disini, berdua saja dengan pinus ini lalu bersama-sama dengannya mengakhiri hidup, terbawa oleh waktu. Itulah awalnya.
Tapi hari ini, seseorang yang masih sangat muda. Bahkan jauh lebih muda dibandingkan dengan sahabat pinusku. Datang, duduk, disebelahku sekarang. Saat aku sedang merasakan getir dan takdirku sendiri.
Ini sangat mengharukan buatku. Untuk hidupku. Aku merasakan sebuah titik air mata, mulai menggenangi kelopak mataku. Inilah sebuah awal, untuk pertama kalinya. Aku, merasakan ingin mengeluarkan rintik memalukan, yang bagiku, untukku ini sangat memalukan dilakukan oleh laki-laki seperti aku.
“Menangislah! Saat ini memang waktumu untuk, menangis. Keluarkanlah semua keluhmu, didirimu, dihatimu, didadamu, darahmu bahkan dinadimu, luapkanlah” selentingan kalimat, merengkuh menjalar. Darahku dingin, beku. Baru kali ini aku, merasakan sebuah aliran darah seolah berhenti, berdesir.
Aku masih belum bisa mendongakkan kepalaku. Aku belum bisa mengangkat batok kepalaku, untuk memandang sedetik saja manusia hawa disebelahku. Aku, belum bisa. Aku, tak punya kekukatannya. Ganja, putaw, sabu yang selama ini selalu menjadi tameng yang dapat memberikan rasa percaya diriku. Sekarang tak ada ditanganku, aku, tak bisa melewatinya. Aku tak bisa jika tak ada benda itu, aku membutuhkannya. Aku tak punya cadangan kekuatannya.
Kami berdua terdiam sejenak, untuk sekarang gadis itu diam. Begitu juga dengan aku. Aku, cuma membisu.
Kakiku, terasa bergetar. Perutku kram. Dadaku, terasa sesak. Dan jantungku seolah berhenti berdetak.
“Apa yang kau tahu tentang aku, tentang diriku?” aku, menghela napas panjang, seusai mengucapkan semuanya. Dengan penuh perjuangan gejolak jiwaku. Dengan bantuan sisa-sisa putaw-Ku, semalam.
“Semuanya, semua kehidupanmu, pertolonganmu, kebodohanmu, kebijakanmu, narkotikamu, dan juga keluargamu” sebuah, keajaiban yang mengehentak ragaku. Ia tahu semua hidupku. Siapa dia?
“Angkatlah kepalamu, tersenyumlah, lalu kau ucapkanlah lagi kalimat syahadat-Mu, lakukanlah” serak suaranya, menambah aku semakin terpaku. Aku bingung, aku harus apa. Apa yang harus aku perbuat.
Disaat inilah aku, merasakan betapa aku sekarang membutuhkan sebuah bantuan. Aku, butuh penciptaku sekarang. Walau aku tahu, Ia mungkin sekarang sudah sangat tertutup untukku.
“Lakukanlah, perbaikilah karena penciptamu ada dibelakangmu” desisnya, pelan. Ini satu lagi keajaiban untukku. Ia tahu isi hatiku.
Sebuah keputusan bulat aku pegang, dongakkan kepalamu. Dongakkan, lihat wajahnya, sekarang.
“Muhammad, namamu seindah, seagung rasul-Mu. Seharusnya kau turuti jalannya, sekarang tataplah aku, sekarang” gadis itu, memegang daguku. Ia, angkat wajah burukku. Ia, dongakkan semua bekas tamparan dimukaku.
“Oh…tuhan……….” Jeritku, dalam hati. Ia, pesona hidup. Ia malaikat kecilku. Aku, memang tak tahu siapa namanya. Aku, belum pernah melihat dirinya sebelumnya.
“Aku, tahu kamu orang yang arif. Aku, sering melihatmu mencoba melarang temanmu yang sedang mengisap rokok. Aku, juga pernah melihat kamu , menolong seorang pemulung kecil yang sedang kelaparan dan putus asa, aku, melihat kamu membantunya. Terakhir, aku juga , melihat kamu orang yang pandai. Ketika para turis asing itu tak mengerti bahasa kita, kau datang membantunya dalam bahasa inggrismu yang lancar. Percayalah padaku, ribuan kelebihan dan keberuntungan ada padamu. Kembalilah kejalanmu, lakukanlah sebelum terlambat” kali ini aku, benar-benar mati kutu. Aku benar-benar kaku. Aku, benar-benar beku. Bayangkan saja, ia tahu semua hidupku, perjalananku. Ia, tahu semua kegiatanku.
“Tapi, Allah, telah membenciku, pasti” jawabku, mencoba memberanikan diriku.
“Ia, sekarang ada dibelakangmu, didekatmu, disisimu, disampingmu bahkan dihadapanmu. Jangan pernah kau katakana ia, tak pernah ada untukmu. Jangan pernah katakana, ia telah membencimu, kau salah” gadis, itu sedikit menaikkan tempo bicaranya. Seprtinya ia sedikit marah denganku.
Aku sangat terkejut dengan gadis ini. Gadis yang berperawakan bak peri ini menggetarkan jiwaku. Ia, sangat cantik. Ia, sangat manis.wajahnya begitu ayu. Dengan pipi yang lucu ditambah dengan lesung pipit yang manis. Wajahnya, diselimuti oleh selendang putih bersih. Badannya mungil, bayangan retinaku, seolah melihat ia bersayap. Aku belum pernah melihat ia sebelumnya, siapakah dia?
“Sekarang orang tua-Mu, telah berubah. Ia, tak akan menyakitimu lagi. Teman-temanmu, mulai sekarang ia akan selalu ada dibelakangmu. Guru-guru-Mu, ia ada didepanmu, didekat papan tulis yang selalu menyiraminya dengan debu kapur. Dan penciptamu, selalu menyertaimu, didekatmu, disampingmu” gadis, menarik itu meluluhkan hatiku, sekarang. Ia mencoba membukakan kembali jalan hidupku yang rapuh. Jalan hidup yang telah salah.
“Lalu, apa yang harus aku lakukan?” aku, masih tak mengerti apa yang harus aku lakukan sekarang.
“Pulanglah, sekarang semuanya menantimu. Dirumah kau akan menemukan kehangatan semuanya. Sebelumnya, ucapkanlah lagi kalimat syahadat-Mu. Lalu ciumlah petunjuk jalanmu yang baru, Al-Qur’an. Terakhir sembahlah selalu maha penciptamu” aku, sejenak diam. Beberapa detik kemudian, tanpa piker panjang aku langsung berlari menuju istanaku.
Gadis itu benar. Ia, katakan yang sebenarnya. Semuanya telah kembali. Inilah surgaku, inilah hidupku. Allah, sang maha penciptaku, telah mengutus seorang peri mungil untukku. Untuk menyelamatkan hidupku.
Walau, sampai sekarang aku, tak tahu siapa peri itu. Aku sekarng lebih bersyukur. Aku memang tak sempat menanyakan namanya, nama peri itu. Bahkan nomor telpon dan alamat rumahnya. Walau bagaimanapun aku, akan tetap terus mengingatnya, wajahnya, senyumnya, pertolongannya, ceramah-ceramahnya. Aku akan terus menyimpannya didalam hatiku. Sampai aku dan sahabat tuaku si-Pinus, kembali keasal untuk menjadi sel-sel lalu dimanfaatkan pertamina untuk bahan bakar penduduk bumi. Terima kasih, Allah kau kirim, malaikat kecil itu untukku, untuk hidupku.
Aku, akan selalu merindukanmu, peri kecilku.
SELESAI

0 komentar:
Poskan Komentar