disini kalian akan menemukan banyak dari sedikit karya gue yang selama ini selalu APES ini adalah karya-karya yang selama ini selalu di tolak penerbit dengan bermacam alasan dan tingkat nada rendah suara untuk mencoba simpatik dengan berbagai tipu daya untuk menolak semua karya gue. dan sekarang loe semua boleh baca......SEMOGA ....????

Selasa, 14 Agustus 2007

Jakarta……

Jual Nyawa

FEBRIANSYAH ISKANDAR


Keremangan dan kemegahan kota Jakarta, itulah yang sangat menarik para hati orang-orang desa untuk melancong dan meraup sedikit rezeki dikota ini. Keglamoran, kebebasan, dan kehidupan layak itulah sekian dari banyak yang mereka cari selama ini. Bius metropolitan dan arus globalisasi mendorong semua untuk mendapatkannya. Termasuk temanku Xegy, Xegy Keira.


Tidak mudah hidup di Jakarta……. Dunia disana, tak akan membuat kamu bahagia. Jakarta itu kejam, berbahaya kamu tidak usah kesana dan jangan pernah kesana.


Xegy kembali merenungi kembali kata-kata ibunya. Kebimbangan tampak diraut wajahnya, keinginan dirinya untuk menjamah ibu kota dan menuntut ilmu di metropolitan, patut ia pikirkan ulang. Setiap bait menambah kebingungannya, ketika kata-kata ibunya terngiang ditelinganya.

Apalagi ditambah dengan cerita-cerita para tetangganya yang banyak harus menelan pil pahit, ketika mereka menapaki ibukota Negara ini.

“Tanpa uang yang banyak dan keahlian, paling kau cuma bisa jadi gembel, paling beruntung kau akan jadi pengamen”begitulah kata-kata Lowga, tetangga Xegy yang harus tertunduk malu ketika ia akhirnya harus pulang dengan tangan hampa dan badan dekil.

“Tak ada yang dapat kau cari, jika kau tak punya kekuatan dan kekuasaan” tambah istrinya, yang membuat bulu kuduk Xegy semakin berdiri.

Xegy berjalan pelan, menapaki perlahan genteng demi genteng yang mulai rapuh termakan usianya, yang sudah puluhan tahun, tiba diatap tertinggi ia duduk, ditekuknya kedua kakinya hingga menyentuh dada ia tegakkan wajahnya kedepan, ia lingkarkan kedua tangannya pada kedua kakinya hingga dagunya, kembali ia tidurkan pada dengkulnya. Matanya menatap lurus kosong, rambutnya yang berwarna kuning terpanggang matahari terurai terbawa angin malam yang menusuk tubuh, angin malam yang sebenarnya sangat diharapkan untuk menyejukkan hati walau itu sangat menusuk badannya dingin, tapi itu tak dihiraukan oleh Xegy.

Matanya terus menatap kosong dan gelap didepannya. Benaknya tertuju berliku berbeda arah dengan hatinya dan angannya, tujuannya satu, Jakarta, tapi hatinya juga satu, Ibu. Ketika malam semakin larut, embun fajar mulai menyeruak dingin menusuk tubuh. Sinar mentaripun mulai muncul menyilaukan mata, derap langkah orang-orang yang mulai menapaki tanah untuk memulai aktivitas kerja mereka dimulai pagi ini, hari ini.

Maju mundur kendaraan mewah melintas setiap detik didepan mata. Xegy terus berjalan lurus menapaki trotoar yang mulai pudar cat-catnya, yang mulai berlubang ditengah-tengahnya. Terik sekali matahari hari ini bersinar, kaca mata hitam cengdem Xegy yang didapatnya dari penjual kacamata ecek-ecek dibawah jembatan layang, ternyata sama sekali tak dapat menahan kilau mentari yang semakin garang menyengat.

Xegy menaiki gedung kosong yang baru setengah jadi, sepertinya akan dijadikan apartemen. Sangat terlihat dari banyaknya sekat ruangan yang ada digedung itu, Xegy menatap jauh kedepan. “Alangkah megahnya gedung ini setelah jadi” pikirnya dalam hati.

Gedung yang berjumlah 30 lantai itu, tak terasa telah ditapaki Xegy, dan kini ia telah ada puncak teratasnya. Menatapi ramainya kota Jakarta, lalu lalang dan deru kendaraan yang memiliki polusi memetikan. Semilir angin yang membawa cuaca semakin sore, sejuk, tapi bising. Ingin rasanya berteriak.

SELAMAT DATANG JAKARTA……………….

Xegy melepas semua kata-kata yang selama ini ia impikan, di puncak tertinggi gedung mewah Jakarta.

Dikota inilah Xegy memulai kehidupannya, memulai pendidikannya pada sebuah perguruan swasta, memulai kehidupan cinta dan masa depan kelak.

Tak seperti yang selama ini Ibunya katakan dan juga cerita para tetangganya, Jakarta punya segalanya, Jakarta kota istimewa, Jakarta masa depan, Jakarta disinilah rumah kita.

“Melamun apaan siang bolong kayak gini ?” Tanya Luna, sahabat baru Xegy. Luna yang berperawakan asli betawi sangat berbeda dengan Xegy. Luna cenderung berkulit putih bersih sedangkan Xegy, ia sedikit gelap. Mata Luna yang seperti elang memang kadang membuat kaum adam merasa diawan. Senyumnya yang khas dan berlesung pipi, menambah daya tarik untuk dirinya, yang juga anak orang penting di kampus. Tak menyangka dan sebuah kejutan besar bagi Xegy dapat berkenalan dengan malaikat perempuan seperti Luna.

“Ahh…enggak, cuma kembali ingat sama omongan Ibu aku dulu” jawab Xegy, agak gelagapan, kaget karena lamunannya buyar dan datang sebuah dewi betina, gadis impian hampir semua isi kampus.

“Pasti kata-kata yang punya makna dan indah”Luna coba menebak, dengan gayanya yang sok tahu, tapi masih terlihat lucu.

“Ha..haa….enggak, cuma kata-kata yang terbukti sebenarnya itu salah, dan itu cuma ketakutan orang tua saja”Xegy sedikit tertawa lepas, mendengar jawaban Luna yang benar-benar sok tahu.

“Ooohh…”Luna cuma berkata itu, wajahnya sedikit memerah karena malu sudah salah dan sok tahu, ia lalu diam dan kembali menyelami notebook-nya karena ia takut akan salah lagi.

Luna Prisma, sekilas saja orang yang menyebut nama itu pasti akan langsung tahu. Luna, kembang kampus dan anak seorang pemimpin kampus, pemimpin universitas dimana Xegy sekarang menuntut ilmunya. Mata Luna yang khas orang tionghoa, dan wajahnya yang blasteran merupakan sebuah nilai plus untuk sebuah macan kampus nan elok. Tak akan pernah habis buat para buaya darat dan semua pasang mata anak adam, untuk menatap dengan detail setiap sudut dari kemolekan seorang Luna. Style Victoria dan Harajukunya memang sangat berbeda dan terlihat lebih menonjol dibanding mahasiswi lainnya, dan satu hal lagi gayanya seperti itu malah membuat wajah imut semakin terlihat, apalagi ditambah dengan lesung pipinya yang memikat. Luna Prisma, dia yang terbaik dikampus ini, akan sangat menyesal untuk melewatkan hidup dengannya.

Xegy lalu meninggalkan Luna sendirian duduk dibangku taman, langkahnya menuju sebuah pohon tua yang bercabang-cabang dan menaikinya hingga dahan tetinggi. Sepertinya Xegy ingin selalu melihat dunia dan kehidupan Jakarta, ia ingin merekamnya dalam ingatannya dan akan ia ceritakan kelak ketika ia pulang, Jakarta indah men, amazing, semua orang yang selalu menawar kehidupan ada disini, dikota ini.

“Monyet busuk, ngapain loe ? cari pisang apa neropong cewek” Xegy, sangat mengenali suara ini, suara yang sengak dan tengil dari teman reseknya. Bejo Kurniawan, nama belakang oke, tapi depannya……….

“Tai….loe kutu busuk” Xegy langsung turun dan mengejar Bejo yang sudah keburu lari dan berlindung dibelakang punggung Luna. Tak peduli, Xegy terus mengejarnya hingga akhirnya tak sengaja Xegy menyenggol notebook Luna dan terjatuh. Hening……….Xegy, Luna, dan Bejo terdiam, notebook Luna jatuh ke tanah layarnya pecah. Bulu kuduk Xegy lantas berdiri, mukanya pucat, tegang, ia tak bisa bergerak dengan apa ia harus mengganti notebook Luna yang puluhan juta ini, dengan apa ?

Luna cuma terduduk dibangkunya, ia cuma diam tak satu patah katapun keluar dari kata-katanya, itu hadiah dari ayahnya, hadiah yang ia terima ketika ia pas menginjak tujuh belas tahun. Luna lalu berlari menuju parkiran dan mobilnya, ditinggalkannyalah Xegy dan Bejo yang masih berdiam diri tanpa pernah sedikitpun gerak yang mereka lakukan. Mereka Cuma menatap kepergian Luna dengan rasa penuh salah.

Rintik hujanpun datang, tangisan langit yang hanya menambah pedih dan tangis Xegy lebih terkoyak dalam. Apa yang harus kuperbuat? apa aku harus lari dan meninggalkan kota ini? apa aku harus pergi dari kota ini? apa aku haru pergi dan meninggalkan mimpiku? ataukah aku harus tetap disini dan mengganti? tapi….dengan apa? dimana uang akan turun dalam sekejap berpuluh-puluh juta? akankan hujan uang itu benar-benar ada ? kebingungan terus menyelimuti Xegy.

Ternyata ini kehidupan Jakarta, seperti inilah perjuangan metropolis. Berat………, tapi sedikit menyenangkan, sangat sedikit, sangat butuh banyak pengorbanan untuk bertahan di metropolis ini Sebuah impian dan keinginan yang besar tak akan pernah kita capai dengan mudah, dengan mengedipkan mata, dengan membalikkan telapak tangan dan dengan berkata simlabim dan semua terwujud, tidak…..tak akan pernah terjadi bila semua itu tak kita lakukan tanpa usaha, Jakarta kejam men, hidup di Jakarta berat.

Xegy, masih tetunduk merenungkan semuanya. Andai saja ia tak mengidahkan kata-kata Ibu dan tetangganya, pasti ia takkan punya hutang sebanyak ini. Ini Jakarta, dimana bisa mendapatkan hutang dengan nilai puluhan juta… apalagi kita tak punya kenalan.

“XEG………………..Xegy….” terdengar suara Bejo melaung-laung dari luar kamar kos Xegy, suaranya yang khas cempreng abis, sangat mudah mengenali kalau itu dia. Dengan gontai Xegy membuka pintu kamarnya.

“Gokil men………gue ada kerjaan, buat loe biar bisa ganti laptop Luna, kerjaannya gampang men” Bejo datang dengan wajah yang bersinar, bagaikan ia malaikat penyelamat yang siap menolong kapanpun ia bisa. Sebuah tawaran menarik, dan sudah pasti sangat memikat hati Xegy.

“Berapa gaji gue sebulan, berapa ?” dengan semangat Xegy menanyakan upahnya yang ia harapkan dapat mengganti Laptopnya Luna kelak.

“Haaa….haa…haa…” Bejo tertawa keras.”Hari gini.bulanan……, gaji loe bakal dikasih tiap kali loe selesai tugas loe………lima ratus ribu sekali jalan…, DEAL” Bejo mengeluarkan tawaran super fantastis dan langsung dilanjutkan anggukan oleh Xegy.

“Deal……….” Lanjut Xegy, menyanggupi.

Malam itu juga Xegy memulai perkerjaannya, tak terlalu sulit. Xegy Cuma bertugas menjalankan mobil untuk mengantar seorang teman Bejo, mengirimkan paket kerumah oang-orang yang sudah memesannya. Malam yang indah dan lancar, pekerjaan pertama sangat sukses dan pengataran selalu tepat waktu, dan lima ratus ribu telah ditangan.

***

Xegy menuju pelataran parkir, dimana sepedanya ia sandarkan pada sebuah pohon palm yang sudah tua dan tanpa daun sedikitpun. Langkah gontai Xegy, yang masih terpikirkan bagaimana dengan laptop Luna terus menemaninya menuju sepeda koboinya, apakah Luna telah memaafkan Xegy?

“ Luna?” Xegy menatap kaget ketika berpapasan dengan Luna, yang akan masuk menaiki mobilnya. Sayangnya Luna Cuma diam dan ia langsung masuk kedalam mobilnya.

“Aku TAU AKU SALAH…, AKU TAU AKU MISKIN, AKU TAU KAU KAYA, TAPI….INGAT AKU BISA GANTI LAPTOP KAMU……………PEGANG JANJI AKU” teriak Xegy yang sudah sangat kesal, karena selama ini ia selalu saja diacuhkan, dijadikan kambing hitam, seolah ialah seorang pecundang dan seharusnya lebih cocok hidup di kampung dan berkebun.

Rasa kesal, sedih, benci, dan merasa bersalah menyatu dengan mudahnya. Hidup dibawah tekanan seperti ini sangat-sangat menyesakkan, selalu dihingapai rasa bersalah, berdosa, dan putus asa.

Xegy terus mengayuh sepeda tuanya, sepeda yang dia beli dari sebuah penjual loakan di pasar baru. Sepeda yang mengingatkan semua kenangan akan kehidupan kampungnya dulu. Ayahnya yang sekarang telah berpulang dan menetap disurga, selalu menggunakan sepeda koboi ini setiap kali ia ingin berjalan atau memeriksa ladang dikebun yang dikelolanya sejak ia muda dulu.

Besi tua yang mulai berkarat, ternyata masih tetap kokoh untuk menopang berat dan beban. Setiap kayuhan seolah adalah setiap napas ayah, napasnya yang selalu terengah ketika memacu sepeda koboinya untuk mencapai rumah. Menatap Xegy, ibu, dan seluruh keluarganya.

Senja mulai tenggelam, matahari sudah mengendap bersembunyi dibalik puncak tertinggi gunung dunia ini. Senyum bulan sabit kemudian datang, mirip senjata khas suku Australia. Dan Xegy, ia masih terus mengayuh sepeda tua yang sangat mirip dengan milik ayahnya dulu. Tanpa tujuannya yang jelas Xegy terus mengayuh sepedanya. Rasanya ia ingin menikmati setiap titik Jakarta dengan kenangan bersama ayahnya, dengan sepeda yang dulunya kebanggan sang ayah.

Lamunan Xegy, untuk mengingat masa lalu bersama ayah dan keluarga, semakin menambah beban rindu terhadap dirinya sendiri.

“Ambon! Aku kangen, aku rindu, semua….semua…., ayah…., ibu…., kakek, nenek dan semua saudara dan adikku. Penyesalan seorang aku, Xegy, Xegy Keira. Pembangkanganku terhadap keluargaku, terutama ibuku, bencana benar-benar bencana buatku. Ayah…..ibu…., Xegy mau pulang….pulang” Xegy memberhentikan sepedanya, untuk menyeka air matanya. Ia menatap langit jauh…jauh menelusup kedalamnya. Menembus belahan langit satu persatu, setiap lapisannya. Hingga akhirnya ia mencapai sebuah lapisan terakhir dari langit itu. Sekelilingnya sangat bersih, putih tak tampak sedikitpun seberkas cahaya kotor yang merusak keindahan putihnya langit. Cahaya, cahaya yang sangat terang atau bahkan lebih mirip sebuah sinar yang terus….terus…mendekat dan membentuk sesosok yang sangat Xegy kenal. Senyum mengembang dari pria itu, ia merentangkan kedua tangan. Tangan Xegy yang pendek mencoba mengapainya, memeluknya dan ingin terus mendekapnya.

Bayangan itu kemudian perlahan-lahan hilang, senyum tipisnya tapi selalu mengembang, mencoba mengantar kepergiannya.

“AYAH……………….” Teriak Xegy, mencoba menahannya untuk tidak pergi, terus mencoba menggapainya.

Tapi bayangan ayahnya terus-terus menghilang, senyumnya lalu berganti senyum seorang laki-laki berjas putih, yang selayaknya Xegy tahu siapa orang itu.”Dokter.”

Perlahan Xegy membuka matanya, mencoba menerawang setiap yang ada diseklilingnya termasuk selang infuse yang ada ditangannya.

“Kamu, sudah sadar?” senyum dokter itu mengembang, melihat Xegy sudah sadar dari tidurnya yang panjang. Xegy, ia Cuma bisa tersenyum. Cuma ekspresi kebingungan, yang tampak terlihat jelas dari raut wajahnya.

“Kenapa saya ada disini, Dok?” dengan kening yang mengkerut bingung, dengan polosnya Xegy menanyakan kenapa dirinya ada diruangan serba putih ini dan ruangan yang sangat mencolok dengan bau obat ini.

“Kemarin malam, kamu diantar oleh temanmu, tadinya kamu koma beruntunglah temanmu cepat membawamu kesini, kamu tertabrak kemarin” jelas Dokter itu.

“Kecelakaan? tabrakan? temanku? Siapa yang mengantarku? Apakah mungkin Bejo? Yah pastilah si Bejo, siapa lagi temanku selain dia” Xegy, menerawang jauh mencoba mengingat-ingat kejadian malam itu, tabrakan? Xegy masih bingung, seingatnya dia tak merasa ditabrak ataupun menabrak, bahkan……aahh…, Xegy tak bisa mengingat kembali yang selanjutnya.

“Kemana temanku sekarang pergi, Dok?” tanya Xegy, sambil memegang tangan Dokter yang sedang menyuntik lengan kirinya.

“Dari kemarin semenjak ia mengantar kamu, dia tidak terlihat lagi” jawab Dokter, dengan terus mengembangkan senyumnya.

“Lalu siapa yang membayar ini semua, Dok?” Xegy, lalu terhenyak kaget. Siapa yang akan membayar biaya ini semua, kalau Bejo menghilang dan tak pernah muncul.”Oh…tuhan, berapa rupiah lagi kau akan menambah hutangku dibumi orang ini” batin Xegy, ia Cuma menghela napasnya. Kejadian buruk ini yang membuat ia kembali terngiang dengan kata-kata ibunya.”Maafkan aku ibu……” desah Xegy pelan.

Sudah menunjukkan pukul delapan malam. Suasana rumah sakit mulai sepi, suster baru saja memeriksa Xegy untuk malam ini dan ia baru akan kembali lagi besok pagi. Tak ada suara cakap orang lagi, mungkin semua pasien yang lain telah lelap dalam mimpi mereka masing-masing.

Dan sekarang jam didinding berwarna jingga menunjukkan sembilan tiga puluh. Dan berarti sudah setengah jam Xegy, masih membelingsat tanpa matanya tertutup sedikitpun, bagaimana ia bisa tidur disaat masalah kembali muncul. Berapa juta lagi yang harus ia hadapi untuk membayar rumah sakit ini, dan ini sudah barang pasti bukan rumah sakit ecek-ecek yang bisa dibayar dengan jam tangan atau sandal.

“Aku harus pergi sekarang” Xegy, langsung melepas jarum inpus ditangannya dan mengganti bajunya. Dengan mengendap-endap ia mencoba menghilangkan suara langkahnya dan jejaknya. “Maaf dok, aku tahu kau baik tapi aku tak punya apa-apa untuk membayarmu” sela Xegy, menatap kamar yang sebenarnya sangat ia tak inginkan.

Sejauh ini terlihat aman, Xegy berusaha berjalan dengan santai mencoba menghilangkan rasa curiga pada dokter dan suster-suster yang sering kali lalu lalang.

“Sudah selesai menjenguknya, mas!” sapa suster cantik, dengan ramah yang melalui Xegy.

“Yaah…” jawab Xegy pelan, mencoba tetap tenang.

“Luna…….?” Xegy, melihat Luna keluar dari salah satu kamar pasien dirawat. Dan Xegy, langsung mengalihkan pandangan dan langkahnya. “Untuk apa Luna datang kesini? Siapa yang ia jenguk?” Xegy mencoba bertanya pada dirinya sendiri. Dilihatnya Luna, yang sudah tak tampak dari lorong rumah sakit. Lalu perlahan Xegy mendekati kamar yang tadi Luna masuki. Rasa penasaran Xegy yang semakin memuncaklah yang kemudian membawanya sekarang berada didalam kamar pasien, dan menatap dengan penuh kasih pada seorang lelaki tua dan sedikit gemuk, dengan selang dan banyak lagi seperti mirip kabel-kabel menempel pada dada dan tangannya.

“Pak Rektor!” Xegy mengamati lelaki tua yang sangat dikenal dan sangat ia hormati itu. Dia adalah Rektor di universitasnya, dan yang paling penting dia jugalah ayahnya Luna.

“Permisi, mas!” Xegy, dikagetkan oleh seorang suster yang lengkap membawa catatan kemajuan kesehatan pasien.

“Oh…ya..sus, silakan” dengan sedikit gelagapan, Xegy menjawab sapaan dari suster itu.

“Baru kelihatan, kemana saja mas?” tanya suster itu basa-basi, sambil terus tangannya memeriksa Pak Rektor.

“Saya baru datang dari Padang…., sus!” Jawab Xegy asal, dan sangat mengada-ada.”Oh…ya sus, sebenarnya sakit apa ayah saya” tanya Xegy, sekedar ingin menyelidik.

“Seperti yang dibilang dengan saudara mas yang perempuan, ginjal bapak satu sudah tidak berfungsi dan satu lagi masih berfungsi tapi telah terkena infeksi. Dan harus segera diangkat dan mendapat gantinya, kalau mas mau menyumbang satu bisa, tapi agak sedikit percuma. Orang setua bapak akan lebih baik kalau mendapat dua buah ginjal kembali” dengan sangat jelas dan sabar, suster itu, memberikan penjelasannya.

“Saya bersedia sus…..bagaimana?” tanpa pikir panjang Xegy, langsung mengiyakan tawaran suster tadi.

“Sebentar mas, jangan terburu-buru. Sebaiknya dipikirkan dulu, tidak mudah loh, untuk semua ini” suster, mencoba membuat Xegy untuk memantapkan hatiya dulu.

“Tidak sus, saya sudah siap, sekarang saja kita operasi. Setidaknya ini bisa menembus dosa saya yang sudah terlalu banyak terhadap bapak saya” sambar Xegy, yang sedikit membuat suster itu terhenyak kaget. Jarang sekali ada seorang pendonor yang sangat semangat mengikhlaskan sesuatu yang bisa membuat ia mati.

“Baiklah…., saya panggil dokter dulu” suster itu lalu permisi keluar dan segera memanggil dokter, yang menangani Bapak Rektor sekaligus ayahnya Luna. Tak sampai sepuluh menit, suster dan dokternya telah kembali dengan sedikit berlari kecil.

“Mas…yakin….?” Tanya dokter itu, dengan semangat.

“Sangat” jawab Xegy, mantap.

“Baiklah kita keruang operasi, labih cepat lebih baik, tapi darah mas AB-kan?” dokter coba memastikan, dan disambut dengan anggukan mantap dari Xegy.

Keringat mengucur deras dari kening, tangan dan sekujur tubuh Xegy. Ia kini telah terbaring, di meja operasi, meja yang kelak akan mengantarnya kedunia lain. “Aku akan ketemu, ayah, setelah ini” Xegy, mencoba menguatkan hatinya dengan berharap setelah ini, didunia berikutnya ia akan bertemu lagi dengan ayahnya.

“Ibu, ibu yang menang sekarang, ibu yang benar Jakarta kejam ibu, tapi juga Jakarta istimewa, karena selalu saja bisa mengantarkan orang-orang untuk kembali kepenciptanya” Xegy, mencoba terus membatin dan berkomunikasi dengan ibunya nan jauh disana.

“Anda siap, atau ada yang ingin disampaikan sekarang? Ingat ini terakhir untuk anda, tapi ini yakinlah akan mengantarkan anda kesurga, ini sangat mulia” ucap dokter, coba menyemangati, Xegy.

“Sus, pinjam pulpen dan kertasnya” Xegy, lalu menulis beberapa kata disepucuk kertas putih bersih itu. “Nanti sampaikan saja sama saudara perempuanku ini” Xegy, mencoba tersenyum manis untuk menghilangkan kesedihannya, walau air matanya sekarang sudah menitik, tapi coba terus ia tahan.

“Baik….pasti saya sampaikan” jawab suster, yang ikut menitikkan airmatanya, sedih.

“Lakukan sekarang, Dok, sekarang” ucap Xegy dengan tegas, walau airmata terus mengalir dari kedua bola matanya.

Lampu operasi telah dihidupkan, suntikan penuh obat bius telah menancap di tubuh Xegy, matanya kini tertutup ia tak sadarkan diri. Tetapi airmatanya tetap saja mengalir, menahan rasa haru, perih, senang karena ia akhirnya bisa membayar hutangnya dan bisa bertemu ayahnya, sedih karena ia harus meninggalkan ibunya yang kini harus sendiri tanpa ada dia yang tertua mendampingi.

Fajar menyingsing, kokok sijantan mulai terngiang terdengar dengan lantang, seolah ia ingin menyampaikan kalau sipengembara telah tiada. Dan kini Xegy, Cuma bisa melihat tubuhnya telah kaku tanpa mengenakan baju lagi dan Cuma mengenakan sebuah “sarung” plastik kuning yang menyelimutinya dari ujung kaki sampai ujung rambutnya.

Dan Xegy dengan digandeng ayahnya, pagi ini kembali melihat senyum Luna yang sangat berbeda dari sebelumnya. Senyum yang sumringah, manis, cantik, lucu, dan penuh sebuah harapan yang menjadi kenyataan. Ayahnya Xegy Cuma tersenyum menatap Xegy, dengan perjuangan dan pengorbanannya.

“Boleh saya, lihat yang telah menjadi malaikat penolong ini, dok?” harap Luna, mencoba ingin memberikan suatu ucapan sejuta terima kasih untuk, pangeran penolong ayahnya.

Dokter bersama suster itu, lalu mengantarkan Luna pada kamar mayat, yang terasa dingin penuh es pembeku.

“ Silahkan” dokter, itu menunduk mengundurkan langkahnya dan mempersilahkan Luna untuk melihat tubuh yang telah beku dan kaku, Xegy.

“Sebelumnya mbak, ini catatan kecil dari penolong mbak” suster, memberikan sepucuk kertas kecil yang semalam ditulis oleh Xegy.


Sangat senang mengenalmu, dirimu, hatimu.

Sangat menyenangkan melewati detik, menit dan hari denganmu.

Aku akan merindukan semua tentang aku, dirimu dan perasaanku.

Dan ini sebuah kado dariku, untuk mengganti kado yang diberikan ayahmu ketika kau tepat tujuh belas tahun, lalu.

Terimah kasih Periku, berkat kamu dan ayahmu aku bisa mengenal Jakarta, dan bangku kuliah, terima kasih terdalam untukmu dan ayahmu.


Aku

Xegy Keira


Seluruh badan Luna bergetar, sepucuk surat kecil ditangannya telah basah terkena rintik airmatanya, isak tangis mulai membuatnya dengan cepat membuka, kantung kuning berisi mayat.

“XEGY…………Xegy…..” pekik Luna, keras. Suaranya membahana memenuhi seluruh ruangan.


“Xegy….Xeg….nak…..anakku, bangun nak. Sudah larut malam seperti ini, tidak baik terus terkena angin malam, tidak baik buat kesehatanmu” Ibunya Xegy, coba membangunkan Xegy, yang tertidur diatas genteng rumahnya.

“Oh…Ibu…..Ibu….” Xegy, langsung memeluk erat ibundanya, sangat erat seolah ia tak ingin terlepas dari pelukannya, seperti saat ia harus rela melepaskan peluk hangat sang ayah dulu.

“Sudahlah nak…., tak usah seperti ini. Ibu mengerti keinginanmu, dan ibu mengizinkan kau untuk kejakarta sekarang” ucap Ibu Xegy, lirih.

“Tidak Bu, biarlah Jakarta berdiri angkuh tanpa aku ditengah kehidupannya. Aku telah memutuskan merubah jalan pikiranku dan tujuanku, karena aku akan tetap disini, membangun kembali keluargaku. Bersama Ibu dan semua keluargaku selamanya, selamanya Bu…..” sergah Xegy, yang merubah semua keinginannya, malam itu dan diatas genteng rumah yang telah rapuh.

Bulan sabit mengintip dari balik rimbun daun-daun pepohonan yang menari riang. Seolah ia tersenyum senang, akhirnya aku tetap menginjakkan kakiku ditanah kelahiranku sendiri, ini akan jadi rahasia kita berdua” kerling Xegy, pada sang rembulan dan disambut dengan seyuman hangat dari sang sabit.

sekian

DEDICATED TO:

IRMAWAN SAHPUTRA ( AMBON )

Yang terpkasa menjual ginjalnya kepada seorang Rektor Universitasnya.

Hanya, untuk ia bertahan hidup di kota Jakarta.

0 komentar: