disini kalian akan menemukan banyak dari sedikit karya gue yang selama ini selalu APES ini adalah karya-karya yang selama ini selalu di tolak penerbit dengan bermacam alasan dan tingkat nada rendah suara untuk mencoba simpatik dengan berbagai tipu daya untuk menolak semua karya gue. dan sekarang loe semua boleh baca......SEMOGA ....????

Selasa, 14 Agustus 2007

GOOD BY MY LOVEr


Oleh :: Febriansyah Iskandar


Gasi, menatap tak berkedip kelayar komputernya. Sudah setengah jam ia duduk didepan monitor bututnya. Tak ada yang online hari ini. Gasi tak menemukan teman-temannya yang biasanya selalu menyapanya atau mengobrol hal yang tak penting sekalipun. Beruntunglah dalam setiap obrolan itu teman-temannya tak menyinggung celana dalam yang tak jarang diganti oleh Gasi, kalau tidak, wajahnya bisa menjelma menjadi lumeran saus tomat busuk, setiap kali menampakkan wajah pic-nya di room chat-nya.

Sangat membosankannya bagi Gasi. Karena ini adalah malam minggu. Gasi baru saja putus dengan pacarnya 2 bulan yang lalu. Dan berarti malam ini untuk kesekian kalinya Gasi, cuma bisa menatap layar komputernya. Berharap ada beberapa temannya yang bernasib sama dengannya atau juga menemukan seorang gadis yang bisa menemukan kekosongan hatinya.

“Gasi……disuruh mama makan….”teriak Faya, nyaring dari luar kamar.

“Yah…nanti, entar aku masak mie..”balas Gasi, tak mau teriakannya kalah nyaring dari Faya, yang badannya lebih mini darinya.

Gasi, berbadan kurus, gak kurus-kurus amat. Karena masih kurusan si Mamat teman sebangkunya waktu SMP dulu. Tingginya tak setinggi tiang gawang, tapi setidaknya cukuplah untuk meyentuh mangga tetangga dengan satu kali loncatannya. Beratnya juga tak lebih berat dibanding satu bal karung terigu, tapi cukup berat juga kalau harus dipikul oleh kaum kurcaci, dikehidupan Putri Salju. Kulitnya kuning “bangsat” sedikit jerawatan dan malas gosok gigi. Otaknya agak dungu, walau tak terlalu bisa dibilang bego, setidaknya untuk 4 x 4 saja dia masih berpikir lama, untuk menemukan jawabannya.

Walaupun bukan termasuk muris kelas wahid dan terpandai disekolahnya. Setidaknya waktu SD dulu Gasi, pernah menjadi siswa teladan dari kelas 4 sampai kelas 5 dan dikelas 6 NEM-nya menjadi juara umum disekolahnya. Tapi itu dulu. Sekarang setelah kelas 3 SMK, kebodohan menyelimutinya. Perkerjaannya sepulang sekolah tak pernah lepas dari keyboard, mouse menulis novel, cerpen atau puisi-puisi pemberontakan. Buku-buku novel tetralogi karangan, Andrea Hirata, juga tak pernah lepas dari tangannya, walaupun sudah puluhan kali ia khatam dengan cerita sang pujangga satu suku melayu dengannya.

Gasi…makan…”teriak Faya lagi. Uratnya seperti tertarik semua, menegang disepanjang lehernya. Gasi yang kesal, cuma diam. Tak ia pedulikan teriakan-teriakan tak penting itu.

Bosan menunggu temannya yang tak kunjung datang di room chat-nya. Gasi beralih log-in disebuah message board radio prambors, radio anak-anak muda Jakarta dan sekitarnya.

Tiba-tiba pintu di buka. “Heeh…mau makan enggak?”Faya, membuka pintu dan langsung memiting kepala Gasi. Gasi yang sedang terfokus pada satu tulisan di mesaage board ruang chat prambors, langsung tersentak kebelakang. Dagunya terhenyak, tenggorokannya tercekat tak bisa mengeluarkan kata-kata. Hanya suara serak-serak meminta dilepaskan yang terdengar.

“Anak matraman tuh….” Tiba-tiba Faya melepaskan pitingannya dileher Gasi. Dan beralih kelayar monitor Gasi. Yang terlihat foto seorang cewek tapi gambarnya tak terlalu jelas, dibawahnya tertulis fly-pecintaupstairs.

“Emang loe kira anak Upstairs dikit apa? Makanya disco dong, gak jaman anak metal” ledek Gasi, sambil memamerkan jari jempol, telunjuk, dan kelingkingnya didepan wajah Faya.

“Udah bales….ajak kenalan…”Faya mendorong badan Gasi, untuk segera menekan keyboard­-nya. Tau apa yang ditulis Gasi.

>>weiittss…ada anak matraman neehh..

Beberapa menit tak ada respon. Ditunggu kedetik berikutnya, masih belum ada respon. Gasi sampai sudah bosan untuk me-refresh­ message board-nya.

>>iya dunk….

(fly-pecintaupstairs)

Huuu…akhirnya datang juga balasannya. Dengan taktik buaya darat tingkat tinggi. Gasi sudah langsung mendapatkan. Id yahoo messenger cewek penggila band disco jadul, The Upstairs.

Jika dipikir dengan akal sehat, apalah yang harus disukai dari band ibukota ini. Dandanannya saja aneh, baju yang tak pernah sepadan warnanya, pokoknya pakaiannya semuanya asal tabrak, sudah itu jogetnya juga aneh, apalagi Jimmy vokalisnya, goyangnya seperti membuat kakinya serasa akan lepas, karena bautnya hilang, kakinya serasa melayang. Rambutnya jabrik berdiri tanpa sisiran yang teratur. Bajunya lagi juga ngepres abis, yang jika manggung tak jarang ada sesuatu yang menonjol dari bawah perut sang vokalis. Tapi itulah takdir, band yang raja pensi ini, selalu punya massa terbanyak jika sedang manggung disetiap konser. Aneh tapi nyata, band ini akan mengalahkan SamsonS sekalipun jika konser.

Gasi langsung senyum-senyum mirip orang gila. Jarang-jarang ia mendapatkan seorang gadis yang satu selera dengannya. Tapi jaman sekarang, waspada terhadap orang yang dikenal,itu…… harus. Apalagi kita hanya kenal dari sebuah dunia maya, yang terdapat jutaan umat bumi, didalamnya.

“Gasi…gue hitung ampe tiga…makan gak loe”lengking Faya, lagi. Kali ini disertai ultimatum olehnya. Dengan sedikit malas, Gasi harus beranjak dari duduknya. Walaupun pantatnya pegal, jari kakinya kesemutan, bibirnya kering, perutnya juga keroncongan. Gasi sebenarnya masih mau ngobrol banyak dengan gadis bernama Fly itu.

Rasa penasaran tingkat lanjut anak muda, memacunya untuk mencari tahu siapa dia. Entahlah apa yang mendorongnya untuk mengetahui ia lebih jauh. Apalagi Gasi tak tahu wajahnya seperti apa, badannya sebesar apa. Jika harus ia berhalusinasi, mungkin badannya ramping, ada sedikit kumis halus di atas bibirnya, rambutnya sebahu, dan diponi harajuku. Wajahnya bulat dengan mata sipit, tapi tak terlalu sipit. Betisnya ramping semampai. Lalu tuturnya lembut, selembut cleopatra, tapi hatinya mulia sejernih cinderella.

PLEETAAKKK........

Auuww....”Gasi meringis sambil memegangi kepalanya. Jitakan Faya, sangat sakit untuk kalangan kaum hawa. Tangannya yang kecil seolah terlihat tak mungkin untuk menjitak orang dengan kerasnya.

Faya nyengir, merasa menang. “Makanya, buruan makan. Disuruh makan aja susah amat, gak liat apa badan loe ceking, kurus kerontang kayak gitu, malu dong”ucap Faya, sedikit mengejek. Dalam hal ini, Faya, memang sangat perhatian dengan Gasi. Dia sahabatnya dari SD dulu, tak jarang ia juga sering menginap dikamar Gasi, jika suasana rumahnya Faya sedang tak aman, sedang terjadi kapal pecah. Dan malam ini, ia, juga sudah berencana akan menginap dikamarnya Gasi lagi.

Bunda Gasi, tak pernah marah jika mereka tidur dalam satu kamar. Lagipula bunda sangat yakin mereka tak akan melakukan apa-apa. Bunda sudah sangat mengenal Faya. Karena Faya juga sering nemenin bunda untuk belanja.

Huuuaaahhh......kenyang sekali. Perut Gasi, terasa ingin meledak. Apalagi saat Faya, dengan paksa memasukan tiramissu yang dibeli Gasi kemarin. Buncit seketika sudah perutnya. Oohh...hampir lupa.

Apakah, gadis Fly itu masih online?. Segera Gasi melihat yahoo messenger. Oohh...syukurlah masih ada. Segera Gasi, langsung banyak mengobrol dengannya. Entahlah, ia sendiri sampai tak sadar apa yang sebenarnya ia obrolkan. Yang terpenting baginya, Gasi, tak memberitahunya kalau ia jarang mengganti celana dalamnya. Entahlah, apa reaksinya, ketika tahu Gasi jarang mengganti celana dalamnya. Kemungkinan besar ia akan langsung sign off, lalu menghapus username Gasi di yahoo-nya. Dan Gasi tak mau itu sampai terjadi. Pupuslah harapan jika Gasi, sampai kehilangan dia. Bisa-bisa Jomblo seumur hidup.

Hampir pukul setengah sepuluh malam. Sebelumnya Gasi, juga sendfile sebuah cerpennya pada sang gadis. Sebuah tulisan bututnya yang akan ia ikutkan lomba. Gasi, ingin ia membacanya, dia kira seorang cowok yang sekolah di SMK, yang mayoritas muridnya laki-laki dan lebih senang ke sebuah alat-alat mesin, akan terdengar sangat cool jika ada yang suka menulis.

>>di crpen lo da no hp lo gpp kan klo gw sev, bwt jd tmen?

Gasi, menerima message dari sang gadis. “No, hape gw...mau dia save? Yuupzz....why not?”ucap Gasi sendiri adalam hati. Baginya mungkin suatu waktu dia akan sms-ia. Dan seketika Gasi akan tahu, no hape dia. Disitulah Gasi, akan mulai mendekatinya. Jadi dalam hal ini, bukan salahnya jika Gasi, ingin mengenalnya lebih jauh. You know

>>okey..gpp,....

Balas Gasi pada message-nya.

Sebulan sudah Gasi, mengenalnya. Yah...Fly. Nama lengkapnya Gasi inisialkan, depannya F belakangnya I. Satu bulan puasa penuh Gasi juga melewatkan hari-hari dengannya. Selalu kirim kabar. Entah lewat email atau sms dan telpon. Dalam hal ini memang Gasi yang paling sering menelponnya. Pertama kali, mendengar suaranya Gasi sedikit kaget, suaranya agak cempreng, tapi seringkali membuat Gasi selalu kangen. Entahlah apa Gasi jatuh cinta padanya.

Fly juga perhatian pada Gasi. Sering juga mengingatkan Gasi untuk mengurangi kebiasaannya makan mie dan menyeruput kopi. Ditambah lagi untuk mengurangi kebiasaan Gasi yang sering begadang malam.

Begitu juga dengan Gasi, ia juga sering mengingatkan sholat Fly yang sangat jarang ia lakukan.

Tapi sejujurnya, sama sekali Gasi belum sempat untuk bertemu dengannya. Kegiatan Gasi yang super sibuk, sebagai wartawan muda, disebuah harian ibu kota banyak menyita waktunya, belum lagi kegiatan sekolah, kegiatan bunda dan Faya, dan buku kumpulan cerpen yang akan Gasi buat dengan teman-teman milisnya. Jadi, hampir semua waktunya habis dikamar dan didepan komputer, atau dijalanan, dibus, angkot sedang meliput berita.

Tapi bagaimanapun, Gasi, melewati hari seperti Gasi telah mengenalnya sangat jauh, sangat dekat seolah ia ada selalu disisi Gasi. Menemani setiap gerak dan bayangan langkahnya, menebar pesonanya dalam dunia fana yang iaciptakan, menari, bernyanyi lalu gelap menyelimuti. Dan kali ini, Gasi benar-benar yakin, kalau ia jatuh cinta padanya. Getar-getar itu semakin ia rasakan. Tatkala, Fly sang gadisnya sms-dia kalau ia akan menghabiskan waktu lebaran dengan keluarganya di Banjarmasin. Seketika badan Gasi semuanya lemas, otot-ototnya kaku. Padahal Gasi, akan merencanakan untuk menghabiskan lebaran di jakarta ini dengannya.

Tapi……Yasudahlah, mungkin suatu saat nanti” Gasi berbesar hati. Suatu hari difatamorgana kelam. Dunia tanpa batas yang tak ada tembok pembatas. Alam sadar ditengah kenyataan.

Menghadapai kenyataan pahit dalam suatu kerinduan dan saat cinta yang mendalam, luna kelam. Penghujung sebuah hubungan.

>>Gas...km jgn mrah yah...aq bru ja jadian.

Td, sore..jgn mrah yah.

Sms-nya suatu malam. Awal desember tanggal 9. Gasi sangat mengingat tanggal itu, tanggal gelap dalam hubungan percintaannya.


“Gas.....kesini sebentar”Gasi, tiba-tiba mendengar panggilan bunda. Jarang sekali mendengar bunda teriak, kalau saja bukan karena satu hal yang penting. Segera saja Gasi, menghampiri bunda. “Pasti bunda membutuhkanku, lebih dari sms menyakitkan, membunuh perasaanku”pikir Gasi, segera ia menghampiri bunda.

“Faya........”ucap Gasi, setengah kaget.

“Maaf, Gas”

“Loe mau kemana kunyuk jelek, gue lagi butuh loe banget, kunyuk. Mau kemana loe?”serentak saja, Gasi langsung menghampiri Faya, yang berpakaian rapi, jeans, t-shirt + jaket, ditambah lagi tas travel disampingnya. Gasi terus mengoncangkan tubuhnya, tapi Faya, cuma diam. Tak satu patah katapun yang keluar dari bibir mungilnya. Faya, cuma tersenyum, bisu.

“Gue, akan ke Lampung. Suatu saat gue akan balik lagi. Dan….pasti…..gue akan nginep dirumah loe lagi, dikamar loe yang udah betaun-taun gak pernah disapu. Ditambah lagi, rambut loe yang gak pernah ilang bau dan ketombenya, terus iler loe yang terus aja ngucur sepanjang malem. Gue akan merindukan semuanya. Jalan bareng bunda, tidur bareng loe. Semua. Tapi. Suatu saat nanti” senyum Faya, getir. Ia mencoba untuk terus tertawa. Walaupun Gasi tahu, ia sedikit memaksakannya, agar ia dan bunda tak terlihat sedih lagi.

“Okey....”

“Yah...”

“Suatu saat lagi, gue bakal balik lagi, setelah semuanya aman, cinta tak hanya seorang wanita, gadis waktu kita SMP dulu, ingatlah”desah Faya, pelan. Dan Gasi, cuma bisa memejamkan matanya, untuk menahan kesedihannya, selepas itu Faya, hilang.

“Tapi, apa maksud Faya dengan gadis waktu SMP dulu. Ahh...semakin pusing saja kepalaku”gerutu Gasi, sambil membaringkan kepalanya kekasur empuknya. “Tapi kenapa aku kembali mengingat dia. Seorang wanita sang cinta pertamaku, yang tak sempat. Ooohhh....tidak bukan tak sempat. Tapi.....tak berani untuk aku nyatakan cinta padanya. Apakah yang dimaksud Faya itu. Aaahhh...seandainya dia masih mengenalku”desah Gasi, kembali pelan.

Ia gadis terindah yang pernah ia lihat. Yahh....dimana Meta selama ini. Lama tak terdengar hujan membawanya kembali. Karena satu yang selalu diingat, gadis mungil itu sangat menyukai hujan. Padahal dulu banyak yang mengira ia anak rumahan, yang tak tahu dunia sama sekali.

Badannya mini sama seperti Faya. Rambutnya lurus sebahu. Matanya indah, cekung, bersinar, hingga kita seolah-olah bisa melihat keajaiban dunia dari matanya. Bibirnya mungil, manis. Pipinya berlesung pipit. Kulitnya putih tanpa balutan sinar matahari. Tutur katanya juga halus. Jalannya teratur.

“Oohh....tuhan, seandainya aku kembali bertemu dengannya. Karena setahuku ia bersekolah dikota seberang dari kotaku tinggal”lamun Gasi, semakin jauh.

“Aku tahu nama sekolahnya, tapi sama sekali tak tahu tempatnya dimana. Tapi aku tahu rumahnya. Tapi aku tak tahu apakah itu benar rumahnya. Tapi entahlah, mungkin saja benar. Aahh...tapi jika salah bagaimana?”

“Bingung.......”


Seperti hari-hari, sebelum beberapa bulan yang lalu, sebelum Gasi mengenal Happy. Kembali, menjalani dunia lonely. Semua orang yang benar-benar ia sayangi, sangat-sangat Gasi cintai, pergi satu persatu. Tak dikira.

“Apakah aku orang yang kejam, hingga orang-orang tak ada yang mau mendekatiku?”pikir Gasi ngelantur.

“Tapi hari ini, lebih sepi dari hari-hari tujuh belas tahunku yang lalu, ketika aku terlahir dibumi ini. Karena kini ditambah lagi Faya yang harus hilang”

“Faya...........

Siang ini seperti biasanya mendung menyelimuti. Mungkin semua dunia tahu, karena tak lama lagi tahun baru cina, jadi mungkin sewajarnya hujan lebih sering turun. Tapi, lebatnya hujan atau kencangnya badai. Takan bisa menghalangi seorang Gasi untuk menuju toko buku. Malam minggu ini, tepat dimalam sepi baginya, toko buku besar di matraman, adalah termpat terbaik untuknya. Karena hanya buku-buku itulah yang selama ini sangat setia untuk menjadi pacarnya, pacar abadi seorang Gasi. Tidak seperti gadis lainnya yang begitu mudahnya mencampakkan arti kata cinta.

Karena ia merasa ketoko buku adalah pilihan yang terbaik, kesinilah Gasi setiap malam minggu. Dan malam ini benar-benar malam keberuntungannya. Walaupun selama ini Gasi tak terlalu percaya dengan hari keberuntungan. Tapi hari ini Gasi menemukan tiga buah buku yang sangat menarik buatnya. Judulnya The Kite Runner, Charlie, dan ayat-ayat cinta. Entahlah apa yang mendorongnya, untuk membeli itu semua. Karena biasanya Gasi hanya membacanya disana sambil berdiri, lalu jika belum selesai, akan ia lipat dahulu bagian yang belum ia baca, barulah minggu depan Gasi akan lanjutkan lagi. Seperti itulah setiap ada buku baru. Tapi kali ini, mungkin tensi emosionalnya terlalu berlebih hingga Gasi emosi untuk menggondol semuanya. Lalu segera lekas pulang.

Hujan terus menggelayut, malah semakin deras. Gasi mencoba berlari cepat menuju halte busway gramedia matraman. Agar ia tak terlalu kebasahan.

Tapi......

Heiiii....tunggu”jerit seorang gadis, dibelakang Gasi. Gasi menoleh kebelakang ia lihat seorang gadis sedang membuka lipatan payung.

Meta….”lirih Gasi pelan.

Ayo….”ajaknya sambil memayungi Gasi, tak lupa senyumnya turut menyertai tutur katanya.

Sampai dihalte, Gasi masih terus diam. Begitu juga ketika sudah membeli tiket dan berdiri menunggu busnya datang. Gasi, tak ada nyali untuk menyapanya. Sama seperti dulu, saat SMP dulu. Darah Gasi langsung berdesir kencang. Jantungnya berdetak. Keringatnyapun keluar , juga disaat cuaca dingin seperti ini.

“Ia benar-benar penuh pesona”batin Gasi kagum.

diliriknya Meta sekilas. Ternyata ia masih Meta yang dulu. Ia sibuk memainkan air hujan. Air hujan yang kata bunda Gasi bisa membuat kepala pusing. Tapi Meta tetap asyik dengan air hujannya.

Kamu….masih suka teriak-teriak dikelas seperti orang gila, Gas?”tanya, Meta ramah. Gaya bicaranya tak berubah, tetap ramah dan sopan, dan selalu menyertai senyum manis lesung pipitnya disetiap akhir kalimat.

“Masih...”jawab Gasi pendek.

Meta membalas tersenyum pada Gasi.

“Masih, suka dengan perpustakaan dan membaca buku-buku sastra dan juga biografi A’a Gym?”tanya Meta lagi, juga tak lupa dengan senyum manisnya, sangaaatt.manis. Semanis coklat dari Paris.

“Masih...tapi sekarang kuganti dengan toko buku, lebih lengkap”jelas Gasi datar.

“Masih...suka dengan Rudi Soejardwo dan film-filmnya”Meta, ternyata masih mengingat semua kesukaan Gasi.

“Sangat, sampai sekarang”

“Tapi...apakah masih takut untuk menyatakan cinta, dengan orang yang kamu cintai dan ia sudah tepat didepanmu?”

“Oooohh...tuhanku, ia sepertinya mengejekku dulu saat detik-detik kelulusan SMP dulu, saat ia telah berdiri didepanku, tapi aku sama sekali tak ada nyali untuk mengatakannya. Justru ia yang sudah rela meninggalkan sebuah kelas teladan demi aku. Justru aku cuma bisa bilang. ‘Kita mau ngapain?’ JEEGGEERR....hancur sudah. Semuanya sia-sia berkat kebodohanku, Meta lalu lari dari hadapanku, setelah itu aku tak melihatnya lagi. Hingga sekarang aku menjumpai molek gadisku”

Apa..kamu masih marah...dengan yang dulu? Aku mau mencobanya lagi sekarang, itu jika kamu mau”kali ini Gasi tekatkan untuk mencobanya lagi. Harus.

Kalau kamu berani, sekarang, biar rintik hujan-hujan yang menjadi saksinya. Saksi kalau kamu sekarang bukan pengecut lagi”Meta balik menantang Gasi. Dan bagi tekad Gasi yang sudah bulat. Langsung saja Gasi duduk didepannya, bersimpuh didepannya, didepan orang-orang banyak.

Meta....kali ini aku ingin kamu tahu........kalau aku...BENAR-BENAR SAYANG SAMA KAMU......AKU CINTA DENGAN KAMU, DARI EMPAT TAHUN YANG LALU SAMPAI SEKARANG....AKU CINTA KAMU...” Gasi melihat keatas, pipi Meta langsung merona. Gasi tahu ini sangat memalukan. Apalagi dilihat semua orang yanga da dihalte, bahkan mbak-mbak penjaga tiket tak mau ketinggalan. Langsung saja Gasi mencium kedua tangannya.

I Love you Too” Meta, membisikkannya ketelinga Gasi pelan.

Hei…kamu serius”tanya Gasi, sambil memegang bahu Meta tak percaya. Meta yang ditanya. cuma mengangguk mantap. Dan Gasi tahu malam ini, gadisnya telah datang.

Senyum, kemenangan cinta. Tak lepas dari bibir Gasi hingga malam, terus meninggi. Tapi sayang, tak ada yang bisa ia bagi dengan kebahagiaannya. Tak ada lagi Faya, dikamarnya, disampingnya, disisinya.

Cuma, disekolah ia bisa membagi senyumnya. Dengan anak-anak gank-nya yang semuanya gila. Tak ada normalnya. Karena prinsip mereka. ‘Kalau mereka waras berarti mereka gila begitu juga sebaliknya’

Tapi seenggaknya mereka bisa menerima dengan normal. Kalau sekarang Gasi sudah punya pacar dan mereka semua tertawa terpingkal-pingkal. Stres.

Sudah 2 hari Gasi, jadian dengan Meta. Setiap sore, sepulang ia sekolah. Walaupun letih tak ketulungan. Gasi, tetap memaksakan diri untuk menjemputnya. Karena Gasi tak mau dia sampai lepas ketangan orang lain. Lagipula, tak ada salahnya jika harus berkorban sedikit untuk seorang yang sekarang sangat spesial untuknya. Karena dia bidadarinya. Penyejuk hidupnya, dikala ia hilang didalam kekeringan sepi.

Ooww..tapi sekarang sudah seminggu tak ada Faya, dimana Faya? Dia belum memberikan kabar. Apakah dia sudah lupa atau dia sedang mengalami sesuatu hal yang berbahaya. Aahh....semoga tak terjadi apa-apa. Lagipula di Lampung ia bersama neneknya.

Gas....tunggo...”Nino, anggota gank-Gasi mengejarnya. Teman Gasi yang berhidung bangir ini memang terkenal paling dekat dengan Gasi. Karena dia sering numpang makan dirumah Gasi. Dan Gasi, tahu kenapa ia sekarang memanggilnya.

“Sorry, No...gue mau jemput cewek gue dulu, jadi nih...gue kasih duit loe makan aja diwarteg sono”diberikan dua puluh ribu perak, pada Nino, dan langsung bergegas pergi. Takut Meta terlalu lama nunggu.

“Bunda.....bunda ngapain sih......”jerit Gasi pada bunda yang sedang membakar tumpukan kayu didalam sebuah drum bekas.

“Yaahh...anak bunda pulang, kata orang dulu asep dari bakar-bakaran bisa menghentikan hujan”ucap bunda kolot, jaman sekarang masih percaya kayak gituan. Kalau mau hujan yahh...pasti hujan. Gasi cuma senyum-senyum kecil, lalu beranjak meninggalkan bunda.

“Sayang tunggu....”panggil bunda cepat.

“Kenapa bunda?”

“Ada surat...tadi ada temen kamu cewek kasih surat”jelas bunda, sambil menyodrkan amplop hitam.

Makasih bunda....”Gasi tinggalkan bunda kekamar. Surat siapa...apakah dari Meta. Mungkin dia marah karena tadi ia telat menjemputnya, hingga dia pulang duluan.


Gasi....


Maaf tadi aku pulang duluan.....

Tapi bukannya aku tadi marah dengan kamu. Tapi ada sesuatu yang harus aku lekas kerjakan.

Dan sekarang aku akan mengatakan sesuatu padamu.

Ini tentang kita, tentang hubungan kita. Bukan maksudku tak mencintaimu lagi. Tapi takdir surga bukan untuk kita berdua. Besok aku akan berangkat ke Tokyo. Aku akan tinggal selamanya disana. Maaf, sekali lagi aku ucapkan padamu. Bukannya aku sudah tak cinta lagi dengan kamu. Tapi....hidup dan cinta abadi itu memang bukan untuk kita.

Sekali lagi aku ucapkan maaf. Jika suatu saat kita akan bersatu lagi. Aku yakin untuk ketiga kalinya kita akan bertemu lagi. Aku yakin Gas.dan kamu pasti akan mau untuk kembali berteriak didepan umum kalau kamu mencintaiku, dan aku pasti akan menjawwab YA. Sangat. Terima kasih atas cinta kamu.


Love you

Meta


Entahlah apa kehidupan dan pahitnya memang sepahit ini. Bukankah kehidupan didunia seharusnya bisa lebih manis. Semanis senyum Meta yang membuat jatung berhenti berdetak.

Dunia memang alam fatamorgana, kehidupan mendadak sepi. Selintas manis, kemudian pahit seketika. Saat alam abadikan sesuatu yang lain.

Gasi tahu ini sakit. Gasi tahu ini biadab. Tapi ia juga tahu. Gasi adalah cinta abadi. Dan ia adalah cinta sejati. Dan Gasi yakin suatu kekuatan alam fana, akan berhembus bersama angin surga.

Mungkin sekarang saatnya ia, untuk menjaga bunda yang semakin tua. Hingga dalam waktu yang tepat. Seorang bidadari hujan akan datang lagi padanya. Dalam cara apapun. Entah dijatuhkan dari langit, dihembuskan dari surga atau dihadapkan langsung sepeti pertemuan kedua ia dengannya. Tapi mungkin juga Gasi harus sering-sering mengganti celana dalamnya.

Gasi, cuma bisa berharap. Tapi juga akan tetap mencari. Apapun yang terjadi. Gasi adalah pecinta sejati, bumi, matahari, bulan, bintang, dan rintik hujan keindahan tahu. Gasi memiliki cinta sejati. Sekarang ia cuma bisa bilang. GOOD BYE MY LOVER



0 komentar: